Makanan Pengungsi dan Dunia dalam Berita

Akan lebih baik jika Anda membaca tulisan ini dulu sebelum membaca yang ini.

Salah satu bagian yang saya bacakan dengan lengkap atau dan saya ulang-ulang ketika membahas buku Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World adalah kisah-kisah bahwa di bagian dunia yang lain ini begitu sulitnya mendapatkan makanan dan jauhnya akses mereka dari air bersih. Makan dan minum adalah bagian dari hidup kita. Hal yang mutlak mereka dapatkan setiap hari. Namun begitu, sangat jarang diantara kita yang mau mensyukuri setiap kunyah atau teguknya.

Salah satu rekan guru tanya buat apa sih sebenernya saya suka bacain buku-buku seperti ini? Apakah saya mengharapkan anak-anak semuanya tumbuh jadi relawan? Well, tentu saja tidak. Saya tidak pernah mengharap hal-hal seperti itu. Itu mungkin masih berupa mimpi yang jauh. Sebagai guru, harapan saya cuma satu, nilainya pada bagus dan naik kelas semua. Nanti udah gede gak jadi orang yang nyusahin orang. Sebagai apapun mereka. Sedih gak sih liat orang-orang pinter yang jadi pejabat masih juga punya hobi mencuri hak-haknya orang susah?

Tapi itu hanya harapan. Dan saya hanya pembaca cerita.

Mudahnya begini, ada waktu senggang di kelas atau kita lagi ulangan umum dan kebetulan anak-anak selesainya cepet. Daripada bengong di kelas? Daripada jadinya ribut gak keruan. Saya kira gak ada salahnya juga saya ambil waktu setengah jam sebelum bel habis waktu untuk membacakan cerita. Siapa tahu… Siapa tahu, saat-saat ini akan terekam dalam ingatan minimal satu orang anak saya. Dan cerita itu hidup terus dalam dirinya. Kemudian menjadi inspirasi dan berbagai tindakan dan keputusan yang diambilnya.

Karena itu yang kita kenang sepanjang pengalaman sekolah, bukan? Tidak nilai-nilai kita. Bukan juga pelajaran sekolah. Tapi hal-hal kecil, kisah-kisah inspiratif, dan pengalaman dalam berkegiatan.

Seperti kata rekan saya Bu Kirsan, muda-mudahan anak-anak ini akan selalu ingat pesan-pesan dan kisah-kisah yang kita tuturkan, walaupun mereka tidak akan pernah ingat kita.

Salah satu persoalan absurd menurut saya adalah ketika Totto-chan mengatakan bahwa setiap beliau bercerita mengenai penduduk Africa yang kekurangan air, anak-anak sekolah, orang yang berhadapan dengan beliau bertanya kenapa mereka gak minum jus jeruk aja? Maka kata saya, wei! Masa sih anak-anak bilang begitu?

Tapi ternyata memang kenyataan bahwa ada orang-orang di bagian dunia ini yang mengalami sulit air dengan segitu dahsyatnya begitu mengejutkan bagi anak-anak. Itu sungguh diluar dari khayalan setiapnya. Yah, mungkin bagi kita mengherankan juga. Negara subur begini. Dan anak-anak sekarang tidak pernah menonton Dunia dalam Berita. Gak seperti kita dulu ketika acara itu wajib mutlak ada di setiap TV pada jam 9 malam. Berita jaman sekarang dipenuhi kisruh politik dalam negeri yang diulang dan rasanya dibesar-besarkan saja.

Maka pertanyaan klasik apakah patriotisme ataukah bagian dari warga dunia kemudian menjadi begitu masuk akal.

Salah seorang rekan yang lain curhat. Di sebenernya mau-mau saja membacakan cerita pada anak-anak, tapi dia merasa kurang sabar untuk itu. Anak-anaknya nakal. Gak bisa diajak bekerja sama. Malah diketawain.

Yah, iya, tentu saja. Apa yang saya kisahkan disini kan tidak seluruh yang terjadi di lapangan. Dan memang anak-anak seperti itu. Mereka manusia, kita gak bisa bikin mereka terbawa suasana atau harus ikut sedih kapanpun kita mau. Apalagi dunia mereka memang bermain dan tertawa. Kalau hidup diwarnai keduanya maka mereka bisa dikatakan dalam kondisi yang sejahtera, hehe.. Suatu kali saya pernah menayangkan foto-foto anak-anak busung lapar yang telanjang dan anak-anak tertawa terngakak-ngakak. Kata mereka, iteum boanget! Sumpah, saat itu rasanya pengen banget banting penggarisan kayu panjang ke atas meja sambil tereak-tereak: DASAR KALIAN ANAK-ANAK YANG GAK BERSYUKUR!

Mangkel!!

Paling sering adalah saat kita lagi cerita sedih-sedih atau seru tau-tau bel pulang (saya biasanya cerita pada beberapa saat sebelum akhir pelajaran) dan anak-anak langsung ribut ‘pulang, Bu…’ Beuh, berasa juga itu kok kayaknya kita ngomong tadi itu gak dihargain, ya? Sebenernya didengerin, gak, sih?

Well…

Beberapa saat yang lalu seorang anak saya yang sekarang sudah SMP menulis di wall FB-nya:

‘SMP gurunya galak-galak. Marah-marah mulu. Jadi kangen SD. Paling kangen sama cerita-ceritanya Bu Alifia.’

Itu anak yang rasanya saya pengen banting penggarisan kayu dimejanya. Dan komentar-komentar teman-teman SD-nya dulu, anak-anak saya, hampir semuanya berisi cerita-cerita yang pernah saya ceritakan kepada mereka. Saya gak ikut komentar, cuma baca aja. Dan tahu bahwa ternyata mereka semua bukan hanya mendengarkan, tapi masih ingat. Tersimpan rapih sebagai kenangan manis semasa kecil.

Pada hari Sabtu, saya menerima SMS dari salah satu walimurid menanyakan berapa harga buku Totto-chan. Sebab anaknya memaksanya berjanji untuk membelikan dua buku Totto-chan sebagai hadiah naik kelas nanti. Maka saya tahu bahwa cerita saya disimak. Besoknya saya mendapat SMS dari anak yang lain lagi yang bercerta bahwa dia berusaha membuat makanan anak-anak pengungsi di rumah, dan mencobanya.

Loh, memang makanan anak-anak pengungsi itu apa?

Mari saya kutipkan:

Di kamp pengungsi di Nigeria, jatah makanan untuk anak-anak terdiri atas tepung yang dicampur air, sedikit gula dan minyak. Porsi mereka hanya satu sendok sup makanan itu, pagi dan malam. Hanya itu. Padahal mereka anak-anak pada masa pertumbuhan.

Saya hanya membacakannya tidak seperti Anda yang dapat membacanya berulang-ulang, tapi ternyata resep itu tercetak di kepala salah satu anak saya. Dan dia memikirkannya sampai di rumah yang kemudian diceritakannya kepada Sang Bunda. Kemudian Sang Bunda berkata padanya:

‘Gimana kalau kita coba bikin? Kira rasain gimana sih makanannya anak-anak di kamp pengungsi di Nigeria.’

Maka berdua mereka bekerja. Mencampur tepung terigu dengan air kemudian diberi minyak dan gula. Tanpa dimasak. Menurut cerita makanan mereka gak dimasak. Setelah itu, mereka berdua mencoba memakannya.

‘Gak enak, Bu. Aku muntah. Bunda juga.’

Kata anak itu kepada saya melalui SMS. Maka saya balas:

Jadi inget itu kalau ketemu makanan yag menurut kamu gak enak yang harus kamu makan. Kan pastinya jauh lebih baik daripada makanan pengungsi anak di Nigeria. Mereka harus makan itu setiap hari selama bertahun-tahun, loh.

Jadi mereka mendengarkan…

2 thoughts on “Makanan Pengungsi dan Dunia dalam Berita

  1. [HANYA KOMENTAR CURHAT DARI SEORANG PENGEMBARA]
    Alhamdulillah…
    Pasukan iblis sukses menyesatkan masyarakat, Gembong FreeMason Yahudi dan anteknya berhasil menjajah lahir bathin negeri ini, krisis Inflasi harga kebutuhan pokok meningkat, Penyakit hubungan kelamin merajalela, Korupsi jamaah pejabat menanjak, Jual beli jabatan pemilu berlanjut, Pengurasan sumber daya alam berjalan, Kebodohan berbasis kemiskinan bertambah, dan masih banyak lagi yang semua itu berujung pada pemurtadan rakyat banyak.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat melihat dengan jelas kebobrokan sistem sekular jahiliyah yang selama ini telah kita terapkan dan kita tuhankan, karena kita telah membuang jauh-jauh sistem Islam kaffah ciptaan “Sang Maha Pencipta Sistem” dari kehidupan kita.
    Alhamdulillah…
    Sekarang kita dapat membuktikan kebenaran sabda Nabi Muhammad berikut ini:
    Dari Abdullah bin Umar dia berkata,
    “Rasulullah SAW menghadapkan wajah ke kami dan bersabda:
    “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya;
    1. Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.
    2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
    3. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan.
    4. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
    5. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.””
    (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).
    Sekarang manakah diantaranya yang belum terjadi? Masih belum cukup?
    Alhamdulillah…
    Selama generasi kita tidak memurikan tauhid dan tidak menerapkan sistem Islam kaffah (dalam khilafah), maka insyaAllah generasi penerus kita juga dapat langsung membuktikannya juga.
    Alhamdulillah…
    ________________
    “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 4:147)
    “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (Q.S. 40:61)

  2. Ping-balik: Makanan Pengungsi dan Dunia dalam Berita | Teacher's Notebook - Website Kumpulan Dongeng, Cerpen, Cerita, Legenda, Asal-Usul, Sejarah, Komik, Sinopsis, Kisah dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s