Memikirkannya Lagi

Beberapa tahun yang lalu, saat saya memulai blog ini, saat-saat masih punya banyak waktu untuk berkeliling jagat maya hanya untuk membaca dan berkomentar sana dan sini, saya sampai pada sebuah blognya guru. Dia nampaknya beberapa tahun lebih tua dari saya. Dan beberapa tahun pula lebih dulu rajin menulis blog tentang kisah di sekolah. Maka ada satu tulisannya yang membuat kening saya berkerut, bahwa dia merasa agak lost di tempat kerjanya. Dia merasa, anak-anak lebih bisa mengertinya dibanding rekan-rekan kerjanya. Menurut saya itu agak absurd.

Kemudian mendadak apa yang dia tuliskan itu tidak lagi absurd. Bahkan sebenernya, beberapa pendapatnya saat itu mulai menghantui diri saya sekarang. Salah satunya mengenai apa yang saya tuliskan pada paragraf yang sebelum ini.

Mengenai keinginan untuk belajar. Untuk tetap merasa tertantang pada sebuah kesulitan salah satunya.

Beberapa minggu yang lalu ketika kepanitiaan panggung akhir tahun di bentuk saat itulah saya sudah merasa sungguh jengkel. Mendadak semua orang mendatangi saya untuk menyuruh saya, iya menyuruh, untuk mencari-cari bahan yang akan ditampilkan. Bukan ide, tapi setiap detil acara.

Rekan yang tanggung jawab puisi minta cariin puisi yang bagus untuk perpisahan.

Rekan yang tanggungjawab drama minta cariin rekaman drama dari youtube atau naskah drama yang bagus.

Rekan yang tanggungjawab sains show minta cariin percobaan-percobaan sains yang bagus dan ngejreng buat ditampilkan.

Dan lain lain sebagainya.

Semuanya bikin saya sewot karena pekerjaan saya sendiri pun masih bejibun ini lagi ditambah pesenan yang tau-tau seabrek-abrek. Jangan salah, saya hepi-hepi aja kalo mereka ikutan duduk bersama saya untuk browsing atau kami merancang setiapnya sama-sama. Tapi ini kan enggak. Mereka hanya memesan dan menyuruh.

Dengan alas an kalau saya kan jago computer.

Dengan alas an kalau mereka sungguh sibuk.

Mungkin saya hanya sampai pada tahap capek untuk hal-hal yang berkaitan dengan ini. Dan saya pun jengkel setengah mati mengenai tingkah ini. Sampai pernah sewot pula berbusa-busa menerangkan tentang hak cipta segala. Entah itu nyambung atau tidak.

Mereka hanya tertawa beramah tamah saja. Apa itu maksudnya ketawa ramah gitu? Saya sungguh tidak mengerti. Apa gak ada yang ngeh kalau saya sewot?

Tapi begitulah, kalaupun saya sewot kayaknya emang rekan-rekan selalu nganggap itu lucu-lucu aja.

*heh?

Saya bilang, kalau saya sih gak mau ah tulis puisi sendiri di dunia maya. Ntar diambil orang sekenanya. Dan begitu pula drama. TIDAK AKAN naskahnya saya letakkan di dunia maya. Mungkin hanya cerita mengenai itu saja.

Emang kalian gak takut kalau puisi itu dipentaskan tau-tau ada yang ngeh atau jangan-jangan yang nulis puisi ada di situ? Gak malu? Sudahlah, kalau merasa gak PD puisinya dibacakan anak, mendingan sekalian aja puisi anak yang dibacakan. Menurut saya, kalaupun tidak hebat, yang nonton pasti maklum atau malah kagum. Pastinya aka nada minimal satu orangtua murid yang bangga dan terharu setengah mati karena puisi anaknyalah yang dibacakan di depan semua.

Rekan saya pada akhirnya mengerti juga kalau saya memang bener-bener gak nyaman dengan itu. Maka dia memenuhi kata-kata saya, meminta anak-anak menulis puisi dengan tema yang ditentukan Sampai disini saya setuju. Saya kira inilah jalan yang benar. Eh, kemudian dia malah mempermak puisi-puisi itu agar menurutnya lebih baik. Beberapa puisi dijadikan satu kemudian diganti-ganti kata dan syair.

Lah?

Kan jadi nanggung.

Dan bukannya tambah parah. Sekarang kamu mengambil puisi anak-anak sendiri lalu mengakuinya?

Ah, saya hanya bicara sekali. Kemudian, yah, nampaknya saya sudah terlampau banyak bikin kesal orang. Bantuin enggak ngegerecokin iya.

Kembali ke masalah menyuruh-nyuruh ya begitulah. Saya sampai mulai percaya bahwa memang ada bagian browsing dan risert untuk kerjaannya rekan-rekan saya ini. Sungguh mengherankan! Bukankah di sekolah ini tersedia internet. Dua jalur malahan. Kabel dan wireless. Kabel untuk seluruh computer di sekolah dan wireless khusus diperuntukkan demi memudahkan para guru dan staff yang membawa laptop sendiri. Buat apa dulu saya memperjuangkannya sampai bantah-bantahan dengan ketua yayasan yang ternyata hanya dipergunakan para guru untuk buka facebook saja.

Menyebalkan!

Saat sewot dengan seorang kawan, dia mengatakan bahwa apa yang saya keluhkan itu tipikal yang dikeluhkan pekerja lajang. Pastinya, kan, mereka beralasan sibuk karena anak suami dan lain-lain yang membuat mereka tidak punya waktu untuk mengerjakan itu semua. Dan saat lo bilang sibuk juga, mereka dengan tanpa salah bertanya lo sibuk apaan?

Mungkin. Sebab memang rekan-rekan saya yang sekarang kan banyak yang sudah berumur atau paling tidak sudah berkeluarga.

Salah satu yang membuat saya merasa semakin terasing dengan rekan-rekan saya mungkin adalah pandangan saya mengenai pekerjaan saya.

Menjadi guru SD bagi saya adalah suatu pilihan yang secara sadar saya pilih sendiri. Butuh waktu cukup lama untuk membuat ibu saya bisa mengerti atas itu. Dan sekarang saat mereka (keluarga) mengerti, justru rekan-rekan sendiri yang menyatakan bahwa mereka tidak mengerti saya. Sebab bagi rekan-rekan saya, bahkan ada salah satu yang menyatakannya tanpa tedeng aling-aling, bahwa menjadi guru itu terpaksa. Apalagi guru SD. Maka mereka tidak mengerti mengapa saya memilih ini semua. Apalagi saat kawan-kawan lama saya datang, yang kebanyakan pekerjaannya keren dimata rekan kerja saya.

Hari ini sekali lagi mata rekan-rekan menatap aneh diri saya saat salah satu orangtua murid tiba-tiba datang dan menanyakan kesediaan saya menjadi guru privat anaknya. Saya agak bingung dengan itu. Kemudian dengan halus saya menolak dengan alas an bahwa saya tidak begitu punya waktu untuk itu. Mungkin salah satu rekan saya bisa melakukannya.

‘Sebenernya saya maunya ibu. Kan bukannya ibu juga mengajar privat di rumah? Anak saya pernah cerita katanya ibu cerita tentang salah satu anak yang ibu ajar secara privat.’

Saya mengatakan jujur kepadanya bahwa saya memang mengajar privat, tapi itu bersifat sukarela di rumah. Setiap anak boleh saja datang pada selepas maghrib di rumah. Pasti saya atau beberapa teman (Eni dan pacarnya, Seorang Sobat (belum pernah saya tulis mengenainya), Kirsan, dan dr.Rambo) akan senang hati mengajar. Tentu itu kalau minimal salah satu diantara kita hadir. Sebab kita kan gak tau. Kalau mau, Ananda juga bisa datang ke rumah pada saat itu. Tapi saya tidak memberikan les privat dari rumah ke rumah dan tidak menerima bayaran untuk itu.

Kalo mau ngasih makanan yang berlebih diterima, hehe…

Sang ibu kemudian meminta saya mencarikan guru les privat untuk anaknya ini. Saya harapkan gurunya sendiri di sekolah, katanya. Sebab mereka sudah kenal anak saya. Dan berdasarkan pengalaman yang lain (maksudnya cerita walimurid yang lain) anak lebih nurut kepada gurunya di sekolah daripada guru privat baru. Kurang patuh jadinya.

Kisah kecil itu yang kejadiannya di ruang guru membuat rekan-rekan terheran-heran. Jadinya yang saya sering buru-buru pulang dan ogah jalan rame-rame karena dapet giliran ngisi private itu ternyata pekerjaan sukarela, toh!

‘Kenapa kamu melakukan itu?’

Entahlah, kata saya jujur. Kebiasaan mungkin dari kuliah dulu suka jadi guru sukarela buat anak-anak dhuafa atau anak jalanan.

Beberapa rekan bilang bahwa dulu waktu kuliah juga gitu, tapi pas lulus udah gak lagi. Beberapa rekan menyatakan bahwa sejak kuliah dia sudah mengajar private untuk uang. Tapi semuanya sepakat: Kamu harus memikirkannya lagi, AL.

Memikirkan apa?

 

5 thoughts on “Memikirkannya Lagi

  1. Ping-balik: Memikirkannya Lagi | Teacher's Notebook - Website Kumpulan Dongeng, Cerpen, Cerita, Legenda, Asal-Usul, Sejarah, Komik, Sinopsis, Kisah dll

  2. Ouch… Ketika dengan senang hati kita melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain, lalu apa yang harus kita pikirkan….?
    # jadi ikut merenungkan jawaban pertanyaan rekan guru Bu Al…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s