Kita Masih Mendingan

Pagi ini saat saya baru saja tiba di sekolah dan masih duduk wara wiri sendiri di ruangan saya, telpon berdering. Tidak luarbiasa tentunya sebab pagi-pagi begini selalu saja telpon sedang sibuk-sibuknya bernyanyi tralala trilili.. Kebanyakan para walimurid yang memberi kabar ini dan itu. Bahwa Anandanya tidak dapat ke sekolah karena tidak enak badan atau pesan ini itu mengenai musti minum obat selepas makan siang, misalnya.

Maka saya seringnya jadi pembawa pesan.

Sebab sepagi itu, TU belum ada yang datang hingga telpon menuju TU atau meja guru piket akan teralih ke meja saya.

Kali ini, telpon pagi datang dari PLN.

Apa? Dari PLN?

Aduh, gawat!!

Paling khawatir itu kalo dari PLN. Sebab biasanya adalah pemberitahuan mengenai akan padamnya listrik untuk beberapa jam. Maksud beberapa jam ini adalah seharian. Dan saya masih selalu teringat pengalaman tahun lalu dan tahun sebelumnya, kalo PLN mulai telpon-telpon mengenai listrik akan padam selama beberapa jam (aka seharian) itu artinya kita kena pemadaman bergilir lagi.

Tahun lalu dan sebelum-sebelumnya telpon dari PLN ini adalah awal dari matinya listrik dua hari sekali selama beberapa minggu. Bayangkan itu!

Sampai kejadian kita musti menampung-nampung air hujan demi memenuhi kebutuhan akan air yang banyak di sekolah.

Bicara…bicara…bicara….

Yup, listrik akan padam hari ini dari jam 8 pagi sampai dengan jam 6 sore. Alasannya, ada perbaikan di gardu terdekat.

Saya mengucapkan terimakasih atas pemberitahuannya yang mudah-mudahan saja hal ini akan bisa dipertahankan. Bukan mati lampu tentu saja, namun adanya pemberitahuan baik-baik sebelum listrik padam dalam jangka waktu yang lama. Dan saya berharap juga kendalanya bisa teratasi dengan baik dan lebih cepat dari rencana.

Begitu pembicaraan berakhir, saya langsung sewot tingkat dewa. Hadoooh, kenapa sih kita gak pernah bisa merasa aman dari listrik yang masih saja sering dipadamkan?

Maka pukul tujuh pagi ini bel berderig seperti biasa. Kami masih menghadapi ulangan umum akhir semester seperti sekolah-sekolah SD lain di kabupaten ini. Dan sudah menujukkan pukul delapan pagi, bukannya menutup jendela dan mulai menyalakan AC di kelas, saya malah membuka lebar-lebar seluruh jendela yang masih tertutup. Ini membuat anak-anak bertanya-tanya.

‘Loh, kan udah jam lapan, Bu. Kok malah dibuka jendelanya?’

Biasanya pada pukul delapan atau Sembilan, seluruh jendela kelas saya akan ditutup dan AC mulai dinyalakan.

Tadi ada pemberitahuan dari PLN, kata saya. Lampu akan padam sebentar lagi. Kemungkinan besar, sampai nanti malam. Ada perbaikan gardu listrik. Mudah-mudahan saja kerusakannya gak fatal dan bisa selesai hari ini.

‘Amin….’

‘Mudah-mudahan, ya, Bu. Jadi besok kita bisa pakai listrik lagi.’

Saya pun melongo.

Loh?

Anak-anak saya yang sekarang beda jauh loh dari yang tahun kemarin. Angkatan kemarin memang anak-anaknya punya kepekaan social yang lebih tinggi. Sementara yang sekarang ini kan anak-anak tukang protes sana-sini. Biasanya kalau ada apa-apa, mereka akan banyak komentar dan suka mengeluh.

Tumben banget?

Tapi saya tidak menimpali dengan mengatakan bahwa kalian mengherankan sekali hari ini. Hanya ikut berkomentar mengamini. Mudah-mudahan memang besok kita akan bisa memakai listrik lagi.

Kemudian salah satu anak berkata:

‘Aku masih suka sedih kalo inget buku yang dibacain Bu Alifia kemaren.’ Biasa, anak-anak apa juga dibilang kemaren. ‘Pas tentang anak yang kena Tetanus itu, loh.’

Aha! Saya ingat. Itu kisah tentang perjalanan Totto-chan ke India dimana dia mengunjungi slah satu rumah sakit di sana dan kemudian bertemu dengan anak-anak penderita Tetanus. Saya juga merinding saat membacakan bagaimana penderitaan anak-anak ini saat harus terkapar karenanya.

Kami sempat berdialog singkat mengenai itu kemudian dilanjutkan dengan riset kecil-kecilan. Diawali dari ketidaktahuan anak-anak mengenai Tetanus. Loh, itu penyakit apaan, ya?

Karena merasa sama-sama tidak tahu, maka saya bawa saja anak-anak ke lab computer. Kami browsing-browsing tentang itu. Mencari tahu bersama-sama. Menyenangkan sekali, loh! Sudah sejak lama saya menyetujui kalau jadi guru gak usah sungkan mengakui jika memang merasa kurang tahu. Kita ajak saja anak-anak mencari tahu.

Kami banyak merasa tidak tahu mengenai penyakit ini karena memang sudah jarang kasus mengenai itu terdengar. Sudah ada vaksin untuk mencegahnya.

‘Tapi, kenapa anak-anak di India tidak mendapatkan vaksin? Kenapa ibu-ibu di India tidak mendapatkan vaksin Tetanus?’

Mungkin banyak problemnya, kata saya kepada mereka. Kesadaran masyarakat yang masih rendah. Di Indonesia saja masih banyak masyarakat yang berpendapat kalau imunisasi cuma bikin sakit aja. Bu Alifia saja waktu bayi dulu gak pernah diimunisasi.

‘Ah, masa, sih?’

Iya. Sebab kata ibunya Bu Alifia, dulu ibunya Bu Alifia dilarang sama nenek untuk datang ke posyandu dan mendapatkan imunisasi. Menurut nenek, imunisasi cuma bikin anak sakit. Dan ibunya Bu Alifia masih muda sekali saat itu. Jadi, ya, nurut saja. Nah, bayangin aja, neneknya Bu Alifia kan tinggal di Jakarta. Gimana dengan orang-orang lain di pulau lain di Indonesia?

Apakah kalian pernah menonton atau membaca berita tentang merebaknya kasus polio di Sukabumi? Masyarakat di sana ngumpet saat petugas dari puskesmas datang. Dan itu terjadi baru-baru ini, loh! Mungkin empat atau lima tahun yang lalu.

‘Harusnya dipaksa aja, Bu..’

‘Iya, tuh. Petugas puskesmas mustinya dateng dikawal tentara. Kalau gak mau dateng ke puskesmas atau gak mau denger penyuluhan, diancam tembak, aja.’

Yeeeeee….. Emangnya bisa begeto!!

Salah satu alasannya adalah karena di negara-negara ini, masyarakatnya gak punya akses kepada listrik. Ingat kan pas Totto-chan bilang kalau ribetnya adalah kalaupun dikirimi vaksin, maka kemungkinan vaksin itu akan rusak sebelum bisa dipergunakan. Sebab hampir seluruh negeri tidak tersentuh listrik. Pembangkit-pembangkitnya sudah lama dirusak saat perang saudara. Jadi bukan hanya mereka tidak punya vaksin, tapi juga mereka gak punya lemari pendingin dan listriknya sekalian.

…..

Mereka harus hidup tanpa listrik, nak, selama bertahun-tahun. Bukan hanya nyaris tanpa makanan dan air pun hanya bisa dijangkau setelah berjalan dengan telanjang kaki sepanjang Sembilan sampai duabelas kilometer. Duapuluh empat kilometer jauhnya kalau perjalanan pulang kembali dihitung juga.

Jadi, inilah kiranya kenapa anak-anakku yang bawel tukang protes kali ini diam dan mencoba sabar saat harus menghadapi hari tanpa listrik.

‘Kita masih mendingan, Bu..’ kata salah satu anak.

Ya, Nak. Kita masih jauh lebih beruntung.

Mendadak merasa malu tadi pagi sewot tingkat dewa.

2 thoughts on “Kita Masih Mendingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s