Diantara Kita Saja

Anak kelas lima itu anak-anak yang sudah merasa dirinya sudah besar. Bukan anak kecil lagi. Bukan lagi si tukang lari ke sana kemari mengkhayal-khayal. Sudah tiga tahun saya mengasuh anak-anak usia segini, tapi tetep aja rasanya masih ada yang menjadi kejutan setiap tahun. Dan kali ini adalah bagaimana anak seusia ini bener-bener sudah merasa terlalu besar untuk diikutcampuri setiap permasalahannya oleh orangtuanya masing-masing.

Bukan berarti mereka ada masalah dengan orangtuanya, namun memang nampaknya begitu. Maka kalau dulu saya selalu menghindari nakut-nakutin anak dengan mengatakan akan bilang ke orangtua, sekarang jadi hal yang biasa.

Tentu bukannya kalau ada masalah berarti saya melotot berkacak pinggang kemudian mengancam akan dibilangin ke ibunya. Bukan begitu.

Saya memberi kesempatan mereka untuk menyelesaikan sendiri dulu.

Jadi begini, biasanya kalau ada anak yang mendapat kesulitan, karena melanggar peraturan atau mendadak jatuh nilai-nilainya, saya akan panggil yang bersangkutan secara pribadi. Saya bicarakan masalahnya kepada Sang Anak dengan baik-baik. Sudah mulai dihindari banget deh ngomel sana-sini. Saya berbicara seakan-akan mereka sudah besar dan kedudukan kita setara. Pun lebih banyak dialog. Itu nampaknya lebih didengarkan oleh mereka.

Jadi kami akan berdiskusi. Kemudian saya akan memberitahu bahwa saya memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki ini semua selama beberapa waktu yang saya harap akan ada perubahan yang berarti. Jika tidak ada, maka saya akan membicarakan ini kepada orangtua.

Itu ampuh pisan!

Biasanya anak yang akan, kadang, sampai memohon-mohon:

‘Saya janji, Bu. Saya akan belajar lebih disiplin waktu. Saya akan tahan emosi. Saya akan lebih patuh. Saya tidak akan mangkir dari ngerjain PR lagi. Saya akan ganti property sekolah yang saya rusakkan dengan uang jajan saya sendiri secara nyicil. Tapi Ibu jangan kasih tau orangtua saya, Bu.. Please….’

Ini kan masalah saya, Bu. Saya sudah bisa mengatasinya sendiri. Saya udah gede.

Yaelah, Ibu… Gak usahlah kayak gituan musti dibicarain sama orangtua. Hanya masalah kecil. Kami cuma berdebat lalu berkelahi. Nanti juga baik lagi.

Widih, beda banget, kan sama anak kelas 2 SD yang bertengkar dengan teman saja kadang musti heboh curhat kemana-mana. Atau rekan yang hari ini dapet telpon panjang lebar dari salah satu ortu karena anaknya kena hukum saat ngobrol pas lagi shalat.

Tentu saja saya memilih-milih juga mana persoalan yang bagaimanapun akan sampai juga ke orangtua, dan berdoa semoga saat sampai memang sudah selesai, atau mana persoalan yang ditutup sampai disini saja.

Kemarin, kejadian lagi. Tapi kali ini hampir sekelas dan bukan karena ada masalah. Cuma mendapatkan surat edaran dari sekolah yang pada perihalnya tertulis masalah uang.

Ketika saya bagikan, tau-tau hampir semua anak segera membukanya.

Sempet membuat kening berkerut jengkel juga itu.

Hei! Itu buat orangtuamu! Jangan main buka aja!

‘Gak apa-apa, Bu. Si Fadil kan punya steples. Nanti tinggal steples lagi aja.’

Iya, tapi itu kan buat orangtuamu! Bukan buatmu! Ayo, steples lagi!

Kayaknya anak-anak gak ada yang dengerin saya. Mereka sibuk aja baca, lalu bertanya-tanya.

‘Ini maksudnya uang apa, Bu?’

Itu biasa. Akhir tahun. Pemberitahuan mengenai uang daftar ulang, buku tahun depan, dan uang kegiatan.’

‘Nah, kalau uang kegiatan itu kan untuk biaya eskul, fieldtrip dan study tour, kan, Bu? Kalo uang yang ini, apa?’

Ngng, mana coba ibu liat? Oh, itu uang untuk biaya pendalaman materi, UN, dan perpisahan. Kalian kan tahun depan musti menghadapi UN? Itu kalo kalian naik kelas, loh, ya.

‘Kalo pendalaman materi itu, gimana, Bu? Trus uang UN itu untuk apa? Perpisahannya emang gak di sekolah?’

Idiiih, kalian ini. Gini aja, deh. Kalian kasih orangtua, nanti kalau ada yang ingin ditanyakan, silahkan menghubungi bagian keuangan di kantor yayasan, oke? Bu Alifia gak ngurusin uang, Nak. Ibu bukan bagian keuangan.

‘Nah, itu dia, Bu. Mama pasti tanya-tanya ini uangnya digunain buat apa aja. Trus nanti telpon-telpon ke orangtua yang lain. Trus nanti dateng ke sekolah buat tanya.’

Trus?

‘Ribet, ah, Bu. Mendingan aku aja yang ngejelasin sama Mama. ‘

‘Iya, Bu. Mendingan kita aja yang ngejelasin daripada musti Mama yang dateng trus nanya-nanya. Trus nanti seharian deh di sekolah. Dateng, deh, ke kelas. Kan malu, Bu.’

‘Iya, ya… Ribet!’

‘Apalagi Mamanya Ahmad, tuh. Kalo dateng suka cium-cium pipinya.’

Anak-anak terkikik-kikik.

Hihihi… Okeh, ibu akan jelasin mengenai biaya pendalaman materi, UN dan perpisahan. Tapi berdasarkan tahun ini dulu, ya.. Tapi itu suratnya di steples lagi dulu.

Anak-anak sibuk merapatkan kembali surat edaran.

Eh, tau, gak? Mungkin kalian aja yang ikutan rapat orangtua murid awal tahun depan.

‘Oooo, ora iso!’ seru anak-anak kompakan megikuti Sule.

Hihi… Dasar anak-anak tanggung.

7 thoughts on “Diantara Kita Saja

  1. ‘Apalagi Mamanya Ahmad, tuh. Kalo dateng suka cium-cium pipinya.’

    ngikik bener abis baca ini…
    ngg..sampe kelas berapa si, anak cowok ga malu peluk cium ama ibunya?

    • Wih, kalo masalah gak mau dipeluk sama dicium ibunya (di depan anak lain) mungkin dari kelas tiga juga ada yang mulai merasa jengah. Tapi tergantung anaknya juga, sih! Tapi yah itu bukan berarti apa-apa, cuma malu aja kalo dihadapan anak lain🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s