Dua Cewek, Satu Cowok, Suami Istri, dan Dua Ekor Ayam.

Di sebelah kediaman kami adalah sebuah tanah kosong yang terdapat beberapa kandang ayam di atasnya. Hanya menjelaskan keadaannya.

Sebelumnya selama beberapa tahun kami tinggal di mess sekolah. Sebetulnya yang disebut mess ini adalah dua buah rumah yang cukup besar berada di tengah-tengah masyarakat. Namun toh yang namanya mess itu sepertinya akan sama saja. Betapapun kami tidak terpisah dengan masyarakat sekitar, tapi kenyataannya kami memang seakan terpisah. Jarang bicara dan bahkan tidak kenal dengan sebelah rumah. Begitupun tetangga yang seakan menjaga jarak dengan kami. Sehingga pernah terjadi kejadian yang menyulitkan dan saat itu kami merasa musti berkomunikasi dengan tetangga, mereka jadi agak menyalahkan.

‘Sebenernya, kita semua udah pengen banget memperingatkan Ibu Guru, tapi gak enak. Takut. Nanti dibilang namanya ibu-ibu kan tukang gossip. Jadi kami diam aja walaupun resah sekali. Mudah-mudahan gak terjadi apa-apa. Eh, ternyata malah kejadian!’

Maka pastinya bukan masyarakat yang gak mau kenal tapi kita sebagai orang barulah yang seharusnya beramah tamah menyingkirka kengerian tetangga, bukan begitu? Untuk kita sendiri. Apalagi kalau kita yang tinggal bersama ini adalah orang-orang yang jarang di rumah.

Waktu kita berdua pindah ke lingkungan ini, walaupun canggung banget, maka dipaksain juga segera beramah tamah. Berkenal-kenalan. Menyapa sana sini. Paling enggak, menepis pandangan bahwa kita ini cuma orang-orang kota yang merasa gak level bertandang dengan masyarakat sekitar. Orang-orang kota yang berada di sini hanya sesekali aja. Numpang tidur di sela kegiatan dan kembali pulang ke kota.

Di tempat yang baru ini jauh lebih melesak masuk ke desa dibanding tempat sebelumnya. Masyarakatnya pun lebih menyatu dan senang bersahabat. Awalnya kami kira karena memang kaminya sudah membuka diri duluan, namun ternyata karena dorongan dari Pak RW setempat. Kira-kira beginilah kata Pak RW:

‘Orang-orang kota yang tinggal disini itu sebenernya baik-baik, tapi mereka gak ngerti gimana caranya berbasa-basi sama tetangga. Mereka gak tau gimana caranya berteman dengan masyarakat sekitar. Kadang mereka itu mau ikutan kegiatan-kegiatan di desa dan mereka mau menyumbangkan keahliannya, tapi bingung atau malu untuk datang duluan. Jadi musti kita duluan yang ngajak. Percayalah, nanti kalau sudah kenal, mereka akan memberikan kontribusi yang positif kepada kita.’

Maka begitulah. Sejak awal datang sudah aja tetangga tegar tegor sana dan sini. Mengenalkan kami dengan berbagai kalangan masyarakat. Masih ingat saat pertama kali dikasih tau tentang Rambo.

‘Eh, mbak. Kalo sakit jangan kemana-mana. Ke klinik yang di depan jalan aja. Dokternya baik, loh. Kita kalau gak punya uang boleh ngutang. Tapi orang-orang sih kalo emang kepepet bayarnya pake sayuran sama buah aja. Kayak di tipi-tipi gitu. Soalnya tu orang kayaknya gak pernah nyatet utang orang. Giliran mau diganti suka ogah-ogahan.’ Wih, promosi mulut ke mulut yang gratisan, bok!

Dan memang begitulah masyarakat di sini. Rada mencengangkan bukan? Ini bukan di mana-mana loh? Ini di pulau jawa! Di kabupaten yang mepet dengan ibu kota negara. Tapi, yah, dulu pun saya rada melongo pas tinggal beberapa minggu di balik gunung di Sumedang, Jawa Barat juga, saat mengetahui kalau system barter ternyata masih berlaku. Pada pagi, ada saja orang yang datang dengan membawa bonteng (ketimun) atau kacang panjang atau bahkan ikan air tawar untuk ditawarkan dan ditukar dengan barang lain misalnya beras atau gula. Awalnya sempet berasa sedih. Kasihan banget rasanya gak punya beras sampe keliling nawarin bonteng. Tapi ternyata memang begitu adatnya disitu.

Kayaknya emang makanan baik itu mateng maupun mentah bukan hanya dianggap pengganti alat pembayaran yang sah, namun juga sebagai tanda terima kasih atau kepedulian.

Sejak pintu rumah kami buka sebagai tempat belajar dengan didampingi, yang sesungguhnya kami niatkan gratisan, maka bisa dikatakan rumah ini jarang kehabisan bahan makanan. Gimana tidak, kayaknya setiap minggu ada saja yang membawa buah-buahan dan sayur. Kadang telur beberapa butir atau berkilo. Pernah pula kami dikirimi sekeranjang telur burung puyuh yang menghabiskannya saja nampaknya butuh usaha yang keras. Kalo sekedar sayur atau makanan mateng mah udah gak usah disebut lagi, dah, ya.

Awalnya kami ingin menolaknya atau memberikan aturan bahwa kalau bisa, janganlah kirim bahan makanan kepada kami. Bukan apa-apa, kami kebanyakan cuma berdua (yang lain mana mau bawa pulang bahan makanan itu) pun jarang ada. Paling makan itu cuma sesekali di rumah. Jadi rasanya mubazir. Lagian juga kayaknya kita masih pengen cari makan di luar kayak bakso atau sate, deh! Tapi kemudian kami diberi nasihat untuk tidak melakukan itu. Sebab khawatir nanti malah anak-anak gak dateng lagi. Biarlah. Asal kami tidak memintanya. Kalau tidak sanggup menghabiskannya atau mengolahnya, ya sudah, berikan lagi saja pada orang lain. Tapi kalau bisa jangan ke tetangga juga. Takut tersinggung!

Beberapa minggu yang lalu, Rambo mendapatkan ‘tanda terimakasih’ yang rada bikin ribet. Yaitu dua ekor ayam! Dua-duanya dalam keadaan hidup dan nampaknya sehat. Nah, itu orang rada keribetan sendiri dengan dua temen barunya. Selalu berkeluh kesah.

‘Berisik banget. Lo bisa bayangin gak sih gimana rasanya tinggal sama dua ekor ayam di rumah? Gak bisa banget berhenti bersuara.’

Gimana kalau lo potong aja tu ayam. Masak. Bagi-bagi sama temen kantor.

‘Lo ada yang bisa motong ayam, gak? Gua gak mau, ah! Kasian.’

Hyaaaa……

Kemudian suatu hari dia bawa itu sepasang ayam ke kediaman kami. Maksudnya sih, yaaa, kalo kami emang gak mau, nanti diam-diam pada malam mau dimasukinnya ke salah satu kandang ayam di sebelah rumah kami itu. Mudah-mudahan pemiliknya gak ngeh. Mudah-mudahan juga kalopun ngeh pemiliknya gak bakalan rese. Dianggap hak milik aja, deh.

Sungguh itu merupakan rencana yang guoblok! Kenapa gak langsung aja samperin yang punya dan kita kasihin, ya, gak?

Tapi itulah kami yang sedang gak ada pikiran atau emang masa kecil kurang bahagia! Mengendap-endap pada tengah malam kami menyelinap ke kandang ayam tetangg buat masukin dua ayam.

Selesai!

Legaaaa!!!

Besoknya yang punya datang mengembalikan itu dua ayam.

‘Neng, ini bukan ayam bapak. Kayaknya ini ayamnya Pak Dokter, ya. Kemaren bawa-bawa ayam, kan, ke sini.’

Hayyyaaaah….

Gak apa-apa, pak. Buat bapak aja.

‘Haduh, gak enak atuh neng. Gini aja. Sama bapak di rawat aja bareng sama ayam-ayam yang lain. Nanti kalau Pak Dokternya dateng lagi di lain kesempatan, bisa dikembalikan.’

Yaelaaaah….

Maka begitulah. Itu ayam tenang bersama ayam-ayam yang lain. Kami yang gak tenang. Karena tiap sore aja itu bapak menegur beramah tamah.

‘Neng, ayamnya sehat, loh! Ini…’

Hehehe… Iya, pak. Nanti kalau yang punya dateng baru diambil, ya, Pak.

‘Ah, santai ajalah. Saya gak repot, kok.’

Saya kira ini situasi yang gak enak banget. Si bapak juga merasa gak enak, kita juga jadi punya perasaan gak enak. Itu Rambo sialan kagak ngasih kabar bagaimana apa kabar mengenai ayam-ayamnya.

Lelaki yang tidak bertanggung jawab!

Maka kebayang dong pas Rambo dateng segera dia disambut dengan dua ekor ayam yang seakan sungguh telah rindu kepadanya.

Rambonya pengen lari.

‘Lo kan tau di rumah gua gak ada halamannya. Itu ayam musti gua taro dimana? Di klinik?’

‘Udahlah masak aja,’ seru Eni gak sabar. ‘Gua bosen banget urusan ayam ini jadi berlarut-larut.’

‘Yeee,’ sorak Rambo. ‘Lo yang motong, ya?’

Dan ternyata, tidak ada satupun diantara kita yang sanggup motong ayam. Saya jelas gak sanggup. Gak pernah! Gak tega. Lagian bukankah itu tugas lelaki.

‘Setiap lelaki muslim itu harus mampu untuk menyembelih hewan, tau! Apalagi ayam!’

‘Ih, gua bukan gak mampu tapi gak tega! Boleh, gak, yah kalo ayamnya dibius dulu?’

‘Ya gak boleh, laaah! Kan menyembelih hewan ada aturannya dalam agama. Mana bagian yang harus dipotong. Uratnya gak boleh putus juga. Selain niat dan doa.’

Astaga!!!

Maka, jadilah itu ayam selama satu hari diinapkan di kediaman kami sampai datang orang yang sanggup menyembelihnya yaitu suaminya Kirsan!

Kita bertiga ngumpet!

Cuma suaminya Kirsan dan Kirsannya aja yang melakukan pembantaian itu berdua. Sebagai pelaku dan kaki tangannya.

Baik banget mereka sampai nyabutin buku dan nyiangin segala. Tau-tau udah jadi potongan yang siap diopor. Beuh, banyak banget jadinya.

Kirsan dan suaminya ogah bawa pulang. Katanya kalau gak habis kasih aja tetangga!

‘Gak usah, ah. Gak laper. Ribet juga kalau dibawa pulang. Kalian aja kan orang-orang susah. Mayan, AL, ngirit tuh!’

Nazong!

Dan ternyata, bukan hanya motong gak tega, buat makannya pun kita kok gak sampai hati. Kata Eni, soalnya kita kenal, sih, ya sama itu ayam. Jadi gak enak gini bawaannya.

Yalaaaah….

Akhirnya, itu semua adalah rejekinya anak-anak didik kami. Selepas belajar mereka kami paksa makan di tempat kami. Habisin tuh ayam!

Jelas gak habis.

Nah, sekarang siapa diantara kita bertiga yang bersedia repot bawa rantang ke kantor masing-masing?

Gak ada yang mau juga!

Jadilah itu memang rejekinya tetangga sekitar.

Mudah-mudahan yang ngasih gak tersinggung.

Moral Cerita: Kalo mau ngasih ke tetangga yang lajang sebaiknya bukan hewan yang masih hidup.

3 thoughts on “Dua Cewek, Satu Cowok, Suami Istri, dan Dua Ekor Ayam.

  1. Jaman sekarang kalo gak memperkenalkan diri ke tetangga dan gak bersosialisasi, bisa2 dicurigai ada apa2 di dalam rumah.😡
    Entah itu tempat pembuatan narkoba atau… teroris…🙄

    • Benar-benar! Apalagi kalau tinggal bukan di komplek perumahan. Gak sok akrab sama tetangga bisa dicurigain macem-macem.

  2. Hahaha… ngakak baca ceritanya. Tapi salut sama keakraban dan persahabatan yang ditawarkan di tempatmu, Al, apalagi di tengah Jakarta yang masyarakatnya cukup individualis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s