Quid Pro Quo

Jadi, saya dan Rambo membuat kesepakatan atas dasar saling memahami dan memaklumi keadaan satu sama lain untuk saling menemani saat harus kodangan. Hihihi…pada akhirnya, sampai juga, ya, pada masa-masa gak enak ini. Saat temen-temen mulai mengundang sana-sini dan saat kawan-kawan yang biasa barengan dengan kita saat menghadiri kondangan sekarang musti datang bareng dengan pasangannya masing-masing.

Pada awalnya, saya bertekad untuk mengambil sikap masa bodo amat! Saya gak malu untuk datang sendirian. Saya toh emang lebih nyaman ke mana-mana sendiri. Gak musti terikat dengan orang lain yang terkadang bikin diri ini merasa ribet aja!

Kemudian, itu berubah. Emang gak nyaman rasanya. Bukan kenyataan bahwa gak menggandeng siapa-siapa (Iyalaaah itu kan haram!), tapi isengnya ini loh! Sumpah, sumpah, mendadak berasa gak punya temen sama sekali! Temen yang udah nikahnya seru sama pasangannya bikin kita jadi kayak asbak.

Atau berasa ngerepotin orang saat mereka ngeladenin kita bicara yang kok jadi gak bisa seru-seruan lagi, yaa….

Lebih puyeng saat ketemu sama temen yang udah punya momongan. Beuh, kebayang kan usia balita-balita gituuu… Yang ada SEMUA malah tanya-tanya mengenai perkembangan balitanya ke saya. Semua merasa kalau balitanya itu PINTER BANGET dan JAUUUUUH lebih cepet dari balita lain yang seusianya. Sementara itu yang balitanya gak gitu lincah, si orangtua merasa kalau ada sesuatu yang salah dengan balitanya. Jangan-jangan dia berkebutuhan khusus.

Oh, ya ampuuuuun… Biarkanlah mereka menikmati masa-masa balita mereka dengan tentram tanpa musti diburu-buru masuk sekolah karena dianggap jenius sama orangtuanya atau masuk ke klinik perkembangan anak dan terapi.

Dan biarkan saya juga makan dengan tenang, dooong, temaaaaans….

Jadi suatu hari, saya dan Rambo menghadiri kondangan ke teman saya. Rambonya saya geret sebab dia: Satu punya hutang nemenin banyaaaak dengan saya yang sering sabar banget saat dia belanja. Dua, punya mobil yang bisa nganterin dengan gratisan. Daaan, saya kemudian menemukan bahwa memang lebih enak bawa orang yang gak dikenal orang lain ke kondangan. Kita gak terlalu diganggu juga gak kesepian! Hayayaya…kemana aja gua!

Maka kita berdua membuat kesepakatan untuk saling menemani ditambah syarat untuk tidak saling mengikut campuri. Intinya, kalo diajak ngobrol sama temennya pasangan (bohongan) kita yang harus kita lakukan adalah mengiyakan. Gak usah bikin ribet temen kita ini.

Aha! Quid Pro Quo!

Iyalah, saling menguntungkan. Saya untung, dia apalagi. Saya lihat temen-temennya si Rambo ini selalu terheran-heran walaupun gak komentar apa-apa juga di depan saya. Tapiii, saya cukup bisa menebak apa.

Segalanya berlangsung mulus kecuali kalo ada acara deket-deket tempat tinggal. Nah, itulah kita mulai bingung. Sebab tau sendiri kita ini kan tinggal di lingkungan desa yang semuanya tau-tau saling senggol kanan dan kiri. Beneran! Nih, misalnya, ya… Bos saya Bu Dokter ternyata atasannya Rambo di rumah sakit.

*gabruk

Dan saya pun (baru) tahu kalau si Bu Dokter yang merupakan bos terbaik di dunia (menurut saya ) ternyata tukang marah-marah di rumah sakit.

Pernah suatu kali yang naas saat, saya sudah pernah mengisahkan ini di blog, salah satu siswa yang kebetulan berkebutuhan khusus terluka sobek dan musti dijahit di RS, nah itu dokter yang menangani siapaaaa…

Yaaa, bukan apa-apa juga sih cuma kalo ada yang ngeh-in kita dua-duanya gini kan mau gak mau musti ngasih penjelasan segala, yaa…

Iyaaa, tadi ketemu. Yaudah bareng..

Biasanya saya yang di daulat ngomong itu sebab menurut Rambo, akan gak terlalu menohok dibanding lelaki yang ngomong kayak gitu.

*sigh

Maka adegan selanjutnya adalah kita berdua sama-sama ngacir secepatnya lalu ngambil makanan banyak-banyak. Menyibukan diri dengan memamah biak!

Beneran, saya rindu dengan masa-masa bisa kondangan dengan santai. Merasakan bahwa acara-acara seperti ini adalah kesempatan bisa ketemu temen-temen lama jadi kita bisa ketawa-tawa saling bercerita. Masa-masa saat temen-temen saya belum ruwet dengan perkembangan bayinya.

Tapi, yah, seperti itulah hidup yang jalan terus. Kali ini saya mulai disibukkan dengan pertanyaan yang mulai bikin jengkel setengah mampus!

Kapan…kapan…kapan…kapan…

Dan sama seperti orang lain, meruwet juga di kepala saya dengan membatin:

Lah, emang urusan lo apa? Ada hubungannya dengan kebahagiaan lo? Dengan kebahagiaan gua? Emangnya itu semacam tujuan hidup gitu?

Hihihi….

Suatu kali yang naas saat yang menikah adalah adik dari temennya ibu saya sekaligus temen dari sepupu-sepupu saya juga, dan pastinya gak bisa dooong bawa si Rambo sebab yakin nanti disangka yang enggak-enggak sama ibu saya dan keluarga besar ayah saya, seorang kawan sekaligus tetangga bertanya yang agak berbeda:

‘Sebenernya, lo masih punya gak sih keinginan untuk menikah?’

*keselek rendang

‘Maksud gue, ada gak setitik aja keinginan di hati lo buat menikah? Ada gak?’

Saya dalam hati: kenapa dia nanyanya begitu, ya? Gua kan masih beberapa tahun ke tigapuluh. Yaa, belum tua-tua banget. Tapi, kenapa dia nanya begitu? Apa karena gua tomboy? Apa karena gua sakit?

Ah, yang penting makan rendang!

Tapi kemarin, ada kejadian yang baru-kali-ini saat kami berdua menghadiri kondangan sunatan.

Well, inilah salah satu kesibukan seorang guru SD pas liburan sekolah ini yaitu kondangan khitan anak-anak kita!

Nah, seperti kesepakatan, si Rambo nemenin. Daaan, hal yang baru adalah saat adiknya anak saya yang baru naik kelas 2 SD dan dikhitan juga, nangis kejer minta ampun saat ngeliat saya. Tentu saja saya bingung. Emang saya ini guru yang galak, ya, kok sampe itu anak langsung kejer uring-uringan gitu?

Beberapa menit kemudian kami barulah ngeh. Itu anak ternyata nangis bukan karena takut sama saya, tapi takut sama Rambo!

Soalnya si Rambo yang mengkhitan dia dua hari yang lalu.

Dan dia masih ketakutan!

Kyaahahaha…

Pelajaran penting ini! Lain kali kalo mau menghadiri undangan khitan anak, tanya dulu dikhitannya di mana dan sama siapa, kali, yaa…

5 thoughts on “Quid Pro Quo

  1. Yupss
    Menyebalkan sekali
    Pertanyaan2 klise
    Mereka niat banget ya nanya kek gitu, gaaaaak berenti2 tiap kali ketemu, niaaat banget pengen bikin gue mewek
    Sumpaaah kek selebriti aja gue
    Diwawancara, tapi pertanyaannya gak kreatip kek gitu
    Pantesan aja, ada loh temenku yg malas ketemu ama temen2 lama
    . Bete katanya hehe
    Segala sesuatunya sudah sangat berbedaaaa

    Tapi setidaknya Bu Al punya Ramboooooooo

    Salam buat Dokter Rambo hehe😀

    • Buset, sampe males ketemu temen lama gitu… Hoahaha, capek, ya, neng ditanya terus-terusan.
      Segala sesuatunya sudah sangat berbeda, yup. Tapi mungkin karena temen lama yang pastinya jarang ketemu maka mau bagaimana lagi untuk buka pembicaraan, ya..

      Rambo, dapet salam dari cewek cakep nih!

  2. “belum tigapuluh, jadi belum tua2 amat!”, bener Bu Al… yang ngejalanin aja hepi kok ya, orang lain yang heboh, hehehee…

    ‘Maksud gue, ada gak setitik aja keinginan di hati lo buat menikah? Ada gak?’, jiaah, ini sangat lebay, hihihi… pasti jengkel ya Bu Al ditanya begini.

    dan, saya ngakak baca yang terakhir itu, yang anak disunat nangis kejer. hahahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s