Lesson Learned II: Hidup dan Mati

Lesson Learned I disini.

Tahun (ajaran) kemarin AL banyak belajar mengenai hubungan, tahun ini nampaknya kisah berputar mengenai hidup dan kehidupan. Dan bagaimana itu dapat saja terenggut dengan sekonyong-konyong dengan (tentu saja selalu) kita tidak merasa siap untuk menghadapinya.

Dan tahun inilah saat saya melihat orang-orang di sekitar saya jatuh bertumbangan. Tidak dengan perlahan, tapi nyusruk mendadak. Sampai saya seakan tidak pernah pulih dari keterkejutan yang hebat. Well, saya tidak akan membicarakan mengenai orang-orang yang telah menjadi tokoh regular di blog ini. Saya akan menulis mengenai seorang sahabat baik. Seseorang yang tidak memiliki nama samaran di tempat ini. Dan saya pun tidak berniat untuk menuliskan sebagai nama selain namanya sendiri.

Seorang teman diskusi, curhat, dan berbagi impian.

Ada periode singkat yang rasanya sungguh lama sejak saya dikirim ke RS Jantung sampai dengan saya tiba di tempat itu. Masa yang penuh dengan ketakutan atas apa yang kemungkinan saya temui mengenai diri saya sendiri. Saya bahkan tidak tahu apa sebetulnya harapan saya saat itu. Namun satu yang pasti, bahwa saya tidak pernah berpikir bahwa dia akan memberikan berita yang begitu mengejutkan mengenai dirinya sendiri. Membuka sebuah kisah yang tidak pernah dia kisahkan sebelumnya. Kisah yang dia ingin tinggalkan. Bukan karena itu lebih baik, namun karena dia merasa tidak sanggup jika harus menghadapinya.

Apakah karena, sekali lagi, rokok? Damn! Saya benci benda itu.

Itu beberapa tahun yang lalu saat dia mengalami sulit bernafas. Dia tidak pernah memikirkannya lebih jauh, namun ketika darah mulai diludahkan bersama dahak, barulah dia mulai berpikir ke rumah sakit. Dokter memintanya untuk menemui dokter onkologi.

Maka tentu, saat mendengar kata onkologi, saat itu dia merasa gentar. Kemudian mengambil keputusan yang sungguh salah dengan mengubur itu semua dalam-dalam. Dia tidak mau memikirkan itu lagi. Tidak pernah diceritakan kepada siapapun juga. Itu sudah selesai.

Tapi itulah pelajaran terbesar tahun ini, bahwa sakit tidak selalu dapat terlihat. Sakit tidak selalu membuat orang tersaruk di tempat tidur, menggigil demam dan lemas. Sakit bisa saja sudah bersarang di dalam tubuh, di dalam organ, dan berkembang di sana, diam-diam menggerogoti dan menunggu sampai suatu saat dia akan menghajar dengan sepenuh kekuatan dan menghancurkan segenap tenaga yang tersisa.

Kemudian kami membuat kesepakatan. Saya akan datang ke RS Jantung tapi dia juga harus datang ke RS Kangker. Kemudian kabar yang sangat buruk datang. Kangker paru-paru. Dan sudah buruk.

Kemudian, apa yang saya ingat mengenai dirinya?

Well, dia masih terlihat ‘okey’ sampai hari saat kemoterapi dimulai. Kami tidak tinggal dalam satu kota jadi yang saya lihat, atau yang diperlihatkannya kepada saya, keadaan sungguh baik-baik saja. Walaupun kami berdua tahu bahwa kondisinya jauh dari kata-kata itu yang nampaknya hanya sebagai mimpi yang jauh. Dia tertawa saat berkisah mengenai keponakan-keponakannya. Memberi tahu bahwa dia baru saja membeli teropong dan mikroskop untuk anak-anak sebagai hadiah kepada mereka. Mengernyit serius saat berhadapan dengan layar atau daleman computer seperti biasanya. Minggu depan kemo dimulai, katanya. Masih tahap pertama. Maka saat itulah saya mulai melihat kejatuhannya.

Bagaimana kangker bisa mengambil senyum dan sinar kehidupan di mata seseorang, saya menjadi saksinya. Menghadapi saat demi saat yang semakin menyiksa.

Sampai pada akhir saat pada dini hari, suara ayahnya mengabarkan bahwa dia telah menghembuskan nafas terakhirnya di rumah keluarganya. Pada periode singkat selepas kemo tahap satu dan akan menjalani tahap yang keduanya.

Pertolongan baru berani diambilnya saat sudah sangat terlambat. Pada saat sudah tidak banyak yang dapat dilakukan lagi. Dan kangker paru-paru adalah penyakit yang progresif.

Dia berada di tengah keluarganya pada akhir, paling tidak itu yang menjadi kelegaan. Di tengah-tengah orang-orang yang dicintainya dengan sepenuh hati. Orang-orang yang disayanginya dan menyayanginya dengan tanpa syarat. Tidak di kamar kostnya dengan sendirian ditemani computer dan kabel-kabel seperti biasanya.

Dan itulah pelajaran tahun ini.

Ini adalah pencegahan kangker paru yang dikutip dari sini.

Tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker paru-paru, tetapi Anda dapat mengurangi risiko jika Anda:

  1. Tidak merokok. Jika Anda belum pernah merokok, jangan mulai. Bicaralah dengan anak-anak Anda untuk tidak merokok sehingga mereka bisa memahami bagaimana untuk menghindari faktor risiko utama kanker paru-paru. Banyak perokok mulai merokok di usia remaja. Memulai percakapan tentang bahaya merokok dengan anak-anak Anda lebih awal sehingga mereka tahu bagaimana harus bereaksi terhadap tekanan teman sebaya.
  2. Berhenti merokok. Berhenti merokok sekarang. Berhenti merokok mengurangi risiko kanker paru-paru, bahkan jika anda telah merokok selama bertahun-tahun. Konsultasi dengan dokter Anda tentang strategi dan bantuan berhenti merokok yang dapat membantu Anda berhenti. Pilihan meliputi produk pengganti nikotin, obat-obatan dan kelompok-kelompok pendukung.
  3. Hindari asap rokok. Jika Anda tinggal atau bekerja dengan perokok, dorong dia untuk berhenti. Paling tidak, minta dia untuk merokok di luar. Hindari daerah di mana orang merokok, seperti bar dan restoran, dan memilih area bebas asap.
  4. Tes radon rumah Anda. Periksa kadar radon di rumah Anda, terutama jika Anda tinggal di daerah di mana radon diketahui menjadi masalah. Kadar radon yang tinggi dapat diperbaiki untuk membuat rumah Anda lebih aman. Untuk informasi mengenai tes radon, hubungi departemen kesehatan.
  5. Hindari karsinogen di tempat kerja. Tindakan pencegahan untuk melindungi diri dari paparan bahan kimia beracun di tempat kerja. Perusahaan Anda harus memberitahu Anda jika Anda terkena bahan kimia berbahaya di tempat kerja Anda. Ikuti tindakan pencegahan atasan Anda. Misalnya, jika Anda diberi masker untuk perlindungan, selalu memakainya. Tanyakan kepada dokter apa lagi yang bisa Anda lakukan untuk melindungi diri di tempat kerja. Resiko kerusakan paru-paru dari karsinogen ini meningkat jika Anda merokok.
  6. Makan makanan yang mengandung buah-buahan dan sayuran. Pilih diet sehat dengan berbagai buah-buahan dan sayuran. Makanan sumber vitamin dan nutrisi yang terbaik. Hindari mengambil dosis besar vitamin dalam bentuk pil, karena mungkin akan berbahaya. Sebagai contoh, para peneliti berharap untuk mengurangi risiko kanker paru-paru pada perokok berat memberi mereka suplemen beta karoten. Hasilnya menunjukkan suplemen benar-benar meningkatkan risiko kanker pada perokok.
  7. Tidak mengkonsumsi alkohol!
  8. Olah raga. Capai minimal 30 menit olah raga pada setiap hari dalam seminggu. Periksa dengan dokter Anda terlebih dahulu jika Anda belum berolahraga secara teratur. Mulailah perlahan-lahan dan terus menambahkan lebih aktivitas. Bersepeda, berenang dan berjalan adalah pilihan yang baik. Tambahkan latihan sepanjang hari Anda – melalui taman waktu pergi kerja dan berjalan sepanjang jalan atau naik tangga ketimbang lift.

2 thoughts on “Lesson Learned II: Hidup dan Mati

  1. Turut berdukacita Bu
    Sayangnya, meskipun kita semua berhak dapat lingkungan sehat. Kenyataan berbicara lain tuhak dapat lingkungan sehat. Kenyataan berbicara lain tuh

    • Iya, doooong.. Seperti kata bapak-bapak yg tinggal di tepi kali Ciliwung tadi pagi di TV: Kita juga pengennya gak buang sampah di sungai, tapi mau gimana lagiiiii? Tempat sampahnya jauh. Kita butuh, sih, mau gimana lagi?

      Kata bapak-bapak juga di mana-mana kalo mulai disinggung kebiasaan ngerokoknya: Yaudah tutup aja pabrik rokoknya. Kan gak ada tuh buktinya kalau rokok penyebab langsung masalah kesehatan. GAK ADA HADISTNYA APALAGI AYATNYA BAHWA ROKOK ITU HARAM. Yaudah kalo mau larang rokok, larang juga dong makanan berlemak yg lebih jelas menimbulkan masalah jantung dan kolesterol.

      *pasrah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s