Jualan Nilai dan Naik Kelas

Berapa sih harganya naik kelas itu? Gak mahal. Hanya enam ratus ribu rupiah saja.

‘Tau, kan, si Koko, keponakanku?’ seorang kawan mengawali pembicaraan. Saat itu kami sedang dalam perjalanan mengisi weekend ke suatu tempat yang gak jauh-jauh amat dari ibukota Negara Indonesia. ‘Kamu pernah ketemu dia.’

Oh, ya, anak cowok kecil ganteng yang gak mirip bapak ibunya itu tapi malah mirip elo? Hihihi…

‘Sekarang dia mirip bapaknya. Makin gede makin mirip banget bapaknya. Pendiemnya juga. Nah, si Koko itu harusnya gak naik kelas. Malah harusnya tahun kemaren juga gak naik kelas.’

……..

‘Gurunya dibayar.’

……

Berapa?

‘Enamratus ribu.’

Hekk!!

‘Jadi dia naik kelas.’

Okeh, ceritanya begini:

Itu si Koko emang anaknya rada susah. Juga manjanya minta ampun. Well, saya juga gak begitu banyak tahu mengenai anak ini sih sebab baru dua kali ketemu dan gak banyak ngobrol serta main bersamanya juga. Pokoknya saat ambil rapot kemarin, sang ibu diberitahu sebelumnya bahwa si Koko gak dapat naik kelas.

Ya, orang nilainya kacau balau semua. Teman saya ini berkisah bahwa dialah yang mengambilkan rapotnya si Koko saat ambil rapot semester pertama. Waktu itu ibunya koko sedang melahirkan dan ayahnya Koko sedang menunggui istrinya melahirkan. Sang Ibu Guru sudah memperingatkan kalau nilai-nilainya Koko begitu jauh dibawah KKM. Bahkan hasil ulangannya tidak pernah mingser dari angka dua dan tiga.

Ternyata sampai akhir tahun ajaran, keadaan tidak kunjung berubah. Maka sudah dapat dipastikan bahwa Koko gak mungkin naik kelas.

Sang Ibu yang berpikiran praktis tidak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika anak laki satu-satunya ini tingggal kelas maka yang dia lakukan adalah menawarkan uang. Toh ini sudah kejadian kedua.

Saya: Heh? Kejadian kedua?

Kawan: Iya. Ternyata ini udah kejadian kedua. Tahun kemarin, si Koko juga harusnya gak naik kelas. Tapi ayahnya Koko menawarkan uang. Gurunya mau terima. Anaknya naik kelas.

*sigh

Berapa jumlah uang yang ditawarkan oleh Sang Ibu?

Limaratus ribu rupiah.

Bagaimana caranya?

Ngng.. Ini rada mengherankan dan menyakitkan. Tapi kawan saya hanya meneruskan cerita yang diceritakan kepadanya sebelumnya. Si Ibu dengan ringan mengeluarkan lima lembar ratusan ribu kemudian di lambai-lambaikannya di muka Bu Guru.

Kawan: Katanya sengaja. Biar gurunya ngiler.

‘Udahlah, Bu..’ katanya. Sambil lambai-lambai uang lima lembar ratusan ribu. ‘Terima aja. Saya tahu Ibu butuh, kan?’

‘Tahun ini sudah gak bisa dibantu,’ kata Bu Guru. ‘Hanya sekali saja anak diberi kesempatan naik dengan dikatrol.’

Lalu?

Sang Ibu pulang. Tidak dengan sedih atau bagaimana. Santai saja, katanya. Sebab dia yakin kalau nanti juga Bu Guru-nya akan menghubungi.

Dan ternyata itu benar! Begitu tiba di rumah, telpon masuk dari Bu Guru.

Bu Guru: Bu, gak apa-apa, deh, Si Koko naik kelas. Tapi uangnya jangan limaratus ribu, ya? Gak cukup soalnya. Kan kepala sekolah juga harus dikasih.

Sang Ibu: Saya cuma ada enamratus ribu, nih, bu.

Bu Guru: Segitu juga gak apa-apa.

Sang Ibu: Tapi saya gak bisa datang ke sekolah.

Bu Guru: Nanti saya yang datang ke rumah.

Maka benarlah. Beberapa jam kemudian, Sang Ibu Guru tiba di pintu rumah susun tempat tinggal keluarga Koko. Mengambil uang.

Koko naik kelas.

……….

Saya: Tapi emang masalahnya si Koko apa kok sampai telat banget begitu? Apa karena lingkungan di rumahnya? (Rumah susun 24 jam rame kayak pasar, mak, nyak!) Apa karena….

Kawan: AL, gua gak tau. Waktu gua kasih tau mengenai nilainya Koko yang kacau semester kemarin, orangtuanya gak dengerin. Katanya, yah, namanya juga anak laki. Bapaknya juga dulu gak naik terus, katanya.

Maka ingatan saya kembali ke beberapa tahun yang lalu saat mengambilkan rapor-nya adik saya yang saat itu masih SD. Seorang ibu tiba-tiba bertanya kepada saya:

Ibu Itu: Bayar berapa untuk nilai agama?

Saya: Eh? Bayar apa, Bu?

Ibu Itu: Ngambil rapor siapa, sih?

Saya:  Iq.

Ibu Itu: Oh, dia mah si anak rengking satu. Nilainya bagus semua, ya? Kata anak saya, si Iq gak pernah dapet nilai tujuh. Sembilan sepuluh terus.

Saya: Ngng… Gak tau ini saya belum dapet rapotnya.

Ibu Itu: …..

Saya: Bayar nilai agama, apa, sih, Bu?

Ibu Itu: Oh, itu. Kemaren nilai agama anak-anak pada jelek katanya. Yah, gak semua sih. Trus Pak Guru agamanya ngasih tau kalo ada yang mau nilainya bagus, nanti bayar aja.

Saya: Ooo… Saya gak denger tentang itu.

Ibu Itu: Kan dikasih taunya anak-anak yang nilainya jelek.

Saya: Bayar berapa, Bu?

Ibu Itu: Yaaa, beda-beda. Tergantung nilainya mau jadi berapa. Ada yang seratus ribu. Ada yang duaratus ribu. Ah, tapi kalau saya mah cuma limapuluh ribu aja. Yang penting gak dibawah KKM.

*sigh

3 thoughts on “Jualan Nilai dan Naik Kelas

  1. Walaupun waktu itu saya sangat ingin agar anak saya naik kelas, tapi tak sekalipun terlintas dalam pikiran saya untuk membeli kenaikan kelas tersebut.

    Semoga kita semua selalu berada dalam jalan yang diridhoi Allah SWT

  2. Trus, kalo Ibu ada di posisi Ibu-yg-anaknya-gak-naek-kelas (katakanlah untuk yg pertamakalinya)
    Apa yg akan Ibu lakukan?
    Berandai2 saja, kalau Ibu bukan guru melainkan orangtua yg sibuk
    Apa yg akan Anda lakukan?a)
    Apa yg akan Ibu lakukan?
    Berandai2 saja, kalau Ibu bukan guru melainkan orangtua yg sibuk
    Apa yg akan Anda lakukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s