Unnatural History

Sekali lagi, seri TV yang saya sukai terancam tidak akan diperpanjang masa tayangnya. Bahkan berita terakhir memang sudah diputuskan bahwa seri TV ini tidak akan ada season keduanya di Cartoon Network, walaupun masih diusahakan untuk tetap berjalan di stasiun TV yang lain.

Yah, nampaknya memang seri yang saya sukai tipikal seri TV yang gak gitu popular.

*sigh

Unnatural History merupakan seri TV kedua yang tayang di Cartoon Network dengan label PG. Bahkan, setiap akan dan selesai iklan, selalu ditayangkan warning agar para orangtua mendampingi anak saat melihat serial ini. Rada lucu kenyataan itu, sebab toh sebenernya seri ini bisa dikatakan sangat bersih untuk ukuran kisah anak SMA. Sumpah! Gak ada kata-kata kotor, gak ada adegan ciuman (paling tidak, gak ada sepanjang setiap episode yang telah saya saksikan), dan gak ada kisah-kisah serta tokoh dengan latar belakang yang bisa dipertanyakan bahkan oleh orang paling tertutup sekalipun. Apalagi adeganala sinetron Indonesia itu yang melotot-lotot ngomong sendiri sewot 200 derajat diatas titik didih! Bersih, sih, sih… Hanya, sih, mungkin karena tayangnya di stasiun TV anak-anak, maka rating PG itu diadakan.

So, kisah ini agak serupa dengan serial Trio Detective. Bahkan tokohnya pun ada tiga. Rada mirip pula dengan trio Hogwarts si Harry, Ron, dan Hermione.

Tokoh utama seri adalah Henry Griffin, anak laki-laki seusia kelas 1 SMA ini baru pindah ke kota. Bahkan, baru saja menginjakkan kakinya ke Amerika Serikat, negaranya sendiri. Dia adalah anak satu-satunya dari pasangan Antropolog yang hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain, dari satu hutan ke daerah terpencil yang lain. Pada episode yang pertama dikisahkan Henry diambil orangtuanya dari sebuah kuil Buddha di Bhutan untuk dikirim pulang dan tinggal bersama pamannya yang adalah kurator di National History Museum sekaligus kepala sekolah (Udah gak usah protes gimana bisa itu) di Smithson High School di Washinton DC. Henry bête berat tentu saja tapi orangtuanya tidak memberikan pilihan. Itu semua dikarenakan sang orangtua merasa semakin khawatir dengan keselamatan anaknya. Bukan berarti Henry terlibat sesuatu yang membelalakan mata, hanya saja ini anak nampaknya punya kecenderungan terancam jiwanya. Dan orangtuanya merasa sudah capek khawatir saat melihat anaknya selalu dalam keadaan terluka karena binatang buas atau kejang-kejang keracunan. Tapi, yah, dimanapun tinggalnya memang aja si Henry ini nampaknya ditakdirkan selalu terlibat petualangan seru yang kadang mengancam jiwa. Bahkan di tempat sekecil museum dan rumah doang.

Mengenai Smithson High School sendiri, damn, tempat yang menurut saya kerennya gak ketulungan. Ini ceritanya adalah sekolah terbaik di Amerika Serikat dimana siswa-siswanya sudah mulai dilirik bahkan terdaftar di berbagai universitas keren bahkan sejak tahun pertama mereka di sekolah ini. Lokasinya itu yang sungguh menarik. Gak tanggung-tanggung, sekolahan ini berada di dalam museum sejarah terbesar di Amerika Serikat. Ampun, ampun, deh! Beneran kalau ada, saya bersedia untuk balik lagi ke SMA dan sekolah di sana. Eh, jadi guru di sana! Maka tidak seperti film dengan setting SMA dari amrik lain yang menggambarkan kalau gak pemain football dan cheerleader yang berkuasa lalu anak pinter kuper yang ditindas, di film ini diperlihatkan bagaimana anak-anak SMA ini begitu kreatif menyelenggarakan event-event yang kebanyakan berkaitan dengan sejarah. Walaupun tentu saja pemain footballnya tetep ada.

Bryan Bartlett, Maggie, Henry, dan Jesper

Dr. Bryan Bartlett, Maggie, Henry, dan Jesper

Henry tinggal di rumah Dr. Bryan Bartlett, pamannya, yang nampaknya selalu berada di posisi yang serba salah sejak Henry tinggal bersamanya. Bagaimana tidak, ini keponakan selalu terlbat masalah yang gak tanggung-tanggung. Melibatkan polisi atau lembaga kenegaraan. Tapi toh ini film memang diperuntukkan untuk anak-anak usia 6-11 tahun, maka selalu happy ending kemudiannya.

Tokoh kedua adalah Jameson Asper “Jasper” Bartlett. Ini tipikal anak dari orang hebat yang lebih senang menghindar dari wajah public. Jasper sesungguhnya anak yang cerdas seperti ayahnya. Bahkan pada tahun pertamanya di SMA ini dia sudah mendapatkan tempat di Yale University. Tapi Jasper tidak terlalu bahagia dan tidak canggung untuk mengungkapkannya kepada Henry. Bagaimana tidak, ayahnya kepala sekolahnya sendiri. Orang hebat pula! Bagi orang dewasa, apapun prestasinya selalu dianggap lumrah. Wajar orang bapaknya keren, sih. Sementara bagi anak-anak yang lain, Jesper terkadang diperlakukan sebagai pelampiasan dari kekesalan mereka terhadap sang kepala sekolah. Maka gak mengherankan pula kalau ini anak berusaha mati-matian untuk berhasil pada bidang yang tidak dikuasai ayahnya. Menjadi pemain basket yang hebat, misalnya. Pada awal pertemuan dengan Henry, Jesper terlihat sebal dengan Henry. Bukan hanya dia selalu ingat bahwa Henry adalah sepupu yang ngerjain dia di masa lalu, tapi juga kebiasaan-kebiasaan kecilnya sangat mengganggu. Bagaikan terompet yang ditiup keras-keras menyeret Jesper yang selalu mencari ketenangan ke dalam rentetan petualang seru yang melelahkan. Namun pada episode-episode selanjutnya, mereka berdua menjadi sahabat baik yang kompak.

Tokoh ketiga dari trio ini adalah Margaret “Maggie” Winnock. Sama seperti Jesper, dia siswa yang cerdas dan mendedikasikan dirinya kepada bidang keilmuan sejarah. Serius, memiliki photographic memory dan hampir tidak punya rasa humor. Anak perempuan yang setiap saat bertengkar dengan Jesper ini adalah seorang vegetarian dan bekerja part time sebagai guide di museum. Maggie inilah yang seringnya berhasil memecahkan misteri dengan otaknya sementara Henry lebih menggunakan skill-nya dalam berbagai macam ketangkasan fisik. Sementara Jesper, yah, dia selalu menjadi tokoh yang terseret-seret dengan ogah-ogahan.

Seperti sudah saya tulis sebelumnya, menyaksikan film ini seakan kembali membaca seri Trio Detective kesukaan saya semasa kecil. Para kritikus film menyebutkan bahwa film ini seakan gabungan dari The Hardy Boys, Indiana Jones, dan National Treasure. Saya mengingatnya sebagai bentuk lain dari seri TV Voyagers dimana para tokohnya terlibat dalam berbagai macam episode sejarah yang rada dimodifikasi dari kenyataan yang telah disepakati sebelumnya (Toh sejarah adalah bagan yang disepakati, kan?). Inilah yang mungkin akan membuat kening berkerut. Apakah benar atau salah film-film sejenis ini. Namun, toh, justru seri Voyagers yang telah membuat saya rela dimarahin dan dihukum ibu dan ayah pada masa lalu itulah yang membuat saya tertarik untuk mencari tahu dan ngubek-ngubek perpustakaan SMA (SD dan SMA berada dalam satu lokasi)pada masa lalu.

Tapi sedihnya, pada tanggal 10 Novermber 2010, Cartoon Network telah memutuskan bahwa film ini tidak dilanjutkan. Persis seperti Voyagers yang hanya bertahan satu season saja. Walaupun Mike Werb, sang creator, sudah punya rencana untuk season kedua, namun berita terakhir belum ada stasiun TV yang telah memutuskan untuk mengambil alih hak siarannya. Sekali lagi, ini mengenai rating yang rendah. Kalah jauh dengan seri TV yang mengisahkan tentang kelompok paduan suara.

One thought on “Unnatural History

  1. Hmmm aku belom pernah nonton inih, eh udh putus aja gt produksinya?😐
    Btw sekedar menghibur aku juga gak terlalu suka Glee, lbh suka BBT, Bones, or Desperate House Wives. Eh gak bs dibandingin yah?:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s