Selamat Datang di Kelas Satu Ikhwan

Watch your thoughts, they become words.
Watch your words, they become actions.
Watch your actions, they become habits.
Watch your habits, they become your character.
Watch your character, it becomes your destiny.

Unknown

Tahun ini ada yang berubah di sekolah ini yaitu kelas satu sampai dengan kelas tiga, ikhwan dan akhwatnya pisah kelas.  Okeh, okeh, pastinya ada yang hepi banyak yang protes! Tapi yah pada akhirnya toh kita pihak sekolah hanya sami’na waato’na dengan keinginan dari yayasan sebagai penentu akhir dari kebijakan, dan tugas sekolah adalah bagaimana menjelaskannya kepada yang protes-protes.

*sigh

Maka, begitulah, mulai tahun ini, atau lebih tepatnya mulai dari kelas tiga tahun ini, ikhwan dan akhwat dipisah.

Ribet, gak?

Widih, tantangan baru memang tapi belum saatnya bilang ribet! Apalagi kelas kecil begini. Di satu sisi kita mungkin lebih gampang mengelola anak-anak. Permasalahannya jadi menyempit sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Contohnya, nih, ya, di kelas akhwat kosentrasi guru untuk saat ini gimana caranya meminimalisir ngegosipnya pada saat pelajaran. Anak perempuan cenderung duduk tenang di kursinya memang, tapi mulutnya gak bisa berhenti ngoceh. Senang bermanja-manja sama guru dan nanti akan ruwet luarbiasa saat mulai saling ngadu ini dan itu yang biasanya sih gak jauh-jauh dari: aku gak ditemenin sama si ini. Sementara anak laki, nyaris gak bisa duduk. Apa aja di kelas dimainin, dilemparin, lari kenceng-kenceng ke sana kemari. Memang ngadu-ngadunya lebih sedikit, tapi kemungkinan perkelahian fisiknya lebih banyak. Dari yang paling gesit senengnya main smack down sampai yang paling manis kena poles sedikit stress berat ogah dateng ke sekolah.

Tapi dari seluruh kelas yang ada, kelas Satu Ikhwan A itu yang belum apa-apa udah banyak ceritanya. Dari mulai barang yang udah rusak duluan sampai guru yang frustasi meleleh-leleh air mata di meja saya, hihi… Dan yang meleleh air mata itu Pak Guru, loh!

Saya kira, emang ribet juga jadi Bapak Guru yang musti ngajar di SD. Mereka seringnya bingung ngadepin kebadungan anak-anak yang terlalu kecil. Kalo Ibu Guru bisa marah. Dan bagaimanapun, nampaknya yang namanya cewek itu bisa aja marah sama anak kecil tanpa berlebihan. Kata Pak Olahraga, Ibu Guru mah bisa deh ngomel sepanjang jalan tapi anak-anaknya gak merasa disakitin. Lah kalo cowok? Bingung mereka. Marah takut keterlaluan, gak marah dikerjain anak-anak melulu. Ujung-ujungnya paling memilih untuk gak peduli slonong boy aja deh ngajar bodo amat anak mau dengerin atau enggak.

Jadi Bapak Guru Hadist ini kayaknya saking betenya itu anak-anak laki kagak ada yang mau duduk alias sekelas jumpalitan semua, maka pergilah dia dari kelas. Begitu aja. Tanpa ngasih tau siapa-siapa. Maka itu kelas kan tertinggalkan tanpa guru, tuh, ya. Setengah jam kemudian ketika Bu Walikelas nungul setres lah dia menemukan kelas yang kacau balau dengan locker-locker jatuh ke lantai semua. Anak-anak sih seru aja main-main. Ngumpet main perang-perangan diantara locker yang berjatuhan itu.

Ngeberesin kelas.

Maksudnya ngeberesin kelas itu bukan hanya ngerapihin nyapu-nyapu gitu, ya.. Termasuk nasihatin anak-anaknya juga.

Selanjutnya dia cari itu Bapak Hadist dan sewot kepadanya.

‘Bapak kalo ninggalin kelas itu kasih tau saya! Untung aja anak-anak gak ada yang kenapa-napa!’

Pak Hadistnya langsung masuk ke ruangan saya. Curhaaaaat….

Mungkin maksud dia daripada nanti dipanggil mendingan menyerahkan diri duluan, deh, kali, ya.. hihi..

Yaaaa, emang itu adalah hal yang bodoh! Meninggalkan kelas begitu saja. Ini bukan SMA, loh. Bukan juga SMP. Ini SD di kelas kecil pula. Gak bakalan nyambung itu guru saking marahnya ninggalin kelas. Gak percaya? Silahkan Anda coba sendiri. Mungkin Anda malah tambah sewot gara-gara begitu Anda pergi, anak-anak yaa biasa aja tuh! Malah main-main gak keruan.

Karena mereka gak tau kalau gurunya pergi karena marah.

Mungkin mereka gak tau kesalahan mereka apa.

Kita yang harus ngasih tau sebelumnya kalau kita ingin didengarkan. Mereka pastinya ingin didengarkan juga. Pak Guru kan cerita, aku juga mau cerita, dong, Pak! Kapan mereka bisa ngomong, kapan waktunya mendengarkan orang lain, dan kapan waktunya berkegiatan itu harus kita beri tahu mereka. Sedetil mungkin. Dan beri kesempatan mereka untuk bertanya kalau ada aturan kita yang gak dimengerti mereka. Dan begitu ngeh, biasanya mereka yang malah lebih streng dari kita, hehe…

Musti siap juga dengan pertanyaan mereka yang terkesan remeh misalnya:

‘Itu yang di papan tulis harus kita tulis? Nulisnya dimana? Pake pinsil apa pake krayon? Kalo pake krayon, pake warna apa? Boleh bebas gak warnanya? Dikasih nomer gak? Nanti kalo udah selesai, diapain? Dinilai gak?’

Pertanyaan yang terakhir menurut saya sih bagaimanapun harus dinilai. Atau paling tidak dikasih stempel. Biar mereka merasa dihargai.

Maka selalu banget saya ingat-ingat bahwa gak masalah mengorbankan dua jam pelajaran pertama kali di suatu kelas. Gak usah masuk pelajaran dulu, deh! Juga bukan maksunya untuk cerita panjang lebar kisah hidup kita seperti yang biasanya kita (saya) temui saat sekolah dulu. Perkenalan guru ujung-ujungnya guru panjang lebar cerita rumahnya dimana anaknya ada berapa anak yang pertama sekolah dimana dan lain sebagainya. Hari pertama di kelas baru sebaiknya kita isi dengan saling mengenal dan menentukan aturan kelas kita.

Kenali dulu anaknya seperti apa. Biarkan mereka mengerti dan menerima kita dulu. Jangan nyelonong aja langsung masuk pelajaran. Ini anak kecil, woy! Kalau kita masuk langsung belajar, mereka mana mau mandang kita? Lah, elo siapa?

Pertanyaan yang terakhir pernah diajukan kepada saya oleh anak kelas satu:

Ibu siapa? Ngapain ada disini?

Hihihi… Itu karena saya masuk dan merasa gak digubris, maka langsung aja ngoceh tentang Hak dan kewajiban meteri PKN kelas satu SD. Setelah agak lama ngoceh slonong boy, salah satu anak maju ke depan dengan kening berkerut.

Ibu emangnya siapa sih?

*gabruk!

Kisah lucu bikin kesel guru yang lain dari kelas ini adalah saat walikelasnya menasihati, tau-tau salah seorang anak menimpali dengan suara keras:

‘Yaelaah! Ribet banget sih ngomong aja enggak boleh!’

Dan memang ada beberapa anak di kelas ini yang kerjaannya suka langsung nyeletuk gak kira-kira.

‘Iyaaa! Ini duduk. Gitu aja marah, sih, ah!’

‘Iiih, orang lagi cerita juga pake disuruh diem!’

‘Bu, lama amat sih! Kapan istirahatnya. Aku laper, nih!’

Ditambah masalah bahasa yang masih bergaya sesuai bawaan rumah dan lingkungannya masing-masing.

‘Si Dodo (siswa ABK autis, red) ngapain dibantuin segala? Emang goblok, ya, dia?’

‘Ah, cemen banget sih Lo! Baru di tekel dikit aja nangis! Nih bales tekel gua, dah!’

Kyahahaha… Emang inilah tantangannya guru SD. Bukan pelajarannya (walaupun mulai kelas 4 pelajaran udah beraaat) tapi lebih penting dari itu adalah mengajarkan bagaimana untuk hidup berdampingan dan memperlakukan orang lain. Bagaimana bersikap kepada orangtua, guru, orang dewasa lain, dan teman baik itu kakak kelas maupun yang sekelas dan adik kelas. Bagaimana cara kita harus membawa diri di dalam kelas, di lapangan, saat bermain, dijalan raya dan sebagaimainya. Bagaimana menjadi anak baik, belajar untuk mengerti apa artinya baik itu, nantinya menjadi orang baik sekaligus orang yang kuat. Dan berusaha bagaimana agar sikap-sikap itu tertanam dulu dalam diri mereka dan menjadi karakter sebelum dunia mereka nantinya akan, dan harus, gak akan bisa dilawan, semakin luas semakin beragam.

Kutipan diambil dari http://www.quotationspage.com/quote/40271.html

2 thoughts on “Selamat Datang di Kelas Satu Ikhwan

  1. Di awal bacaan, Aku kirain ikhwan dan akhwat itu sepasang anak kembar Bu hehehe
    *jadi maluuu

    Anak jaman sekarang laen yaa
    Kalo angkatanku sih (pas sd) boro2 bertingkah gitu. Takut di setrap wkwkkwkwk

  2. uiih. thats why i adore guru esde dan teka, yang bisa bikin anak badung di rumah jadi nurut setelah pulang sekolah. dan dalil2 perbuatan si anak diawali dengan, ‘kata bu guru aku..’

    semangat menebar kebaikan, buguru🙂

    kalo apa yang saya berkontribusi di dalamnya ada di sini nih: http://mentoringkeren.wordpress.com
    kali2 ibu berkenan mampir🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s