it’s a good news

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang ihsan* (berbuat baik).

(QS. An Nahl: 128)

Bad news is good news. Itu kata-kata yang sering saya dengar terlontar dari para dosen selama saya kuliah di Fakultas Komunikasi dulu. Maka gak heran kalau pada media memang selalu saja hal-hal buruk yang dijual kepada masyarakat. Justru itulah yang dicari! Tentu gak sedikit yang gerah dengan itu.

Beberapa tahun yang lalu ada suatu acara TV yang bertitel, kalo gak salah, Its a good news. Berita-berita yang lain daripada yang lain. Toh pada akhirnya acara tersebut musti berhenti karena rating yang jelek. Pada socmed pun bermunculan semacam it’s a good news tersebut, entah bagaimana kelanjutannya kemudian. Trend yang gak berubah-ubah, atau belum, memang berita dibuat semakin depresif dan semakin lebay mencetak masyarakat yang semakin pesimis dan berpendapat miring saling mendelikan mata kepada satu sama lain.

Saya hanya bingung bagaimana kita semua bisa maju kalau rasa pesimis yang terus dipupuk subur?

Salah satu hal yang sering diulang-ulang adalah bagaimana rasa kepedulian sosial kita nampaknya sudah tidak ada lagi. Semua orang sibuk korupsi! Sibuk memperkaya dirinya sendiri. orang gak mampu terlunta-lunta.

Suatu kali saya menulis kisah mengenai hal-hal seperti ini, yang saya juga sudah lupa tulisannya dimana judulnya apa, kemudian ada yang berkomentar suatu kisah yang dialami temannya sendiri seorang pekerja kesehatan di puskesmas. Bagaimana sampai puskesmas menawarkan uang sekedarnya dan bahkan menghampiri dari rumah ke rumah untuk pemeriksaan kesehatan gratis yang bahkan penduduk pada lari mengunci pintu saat petugas datang. Salah satu kawan saya yang seorang pekerja kesehatan pula tidak pernah menolak orang yang datang dan mengetuk pintu rumahnya gak peduli orang yang gedor pintu itu bawa uang atau tidak.

Jangan salah, teman saya ini juga kepengen jadi orang kaya, tapi itu toh tidak menghalanginya untuk menolong orang saat dibutuhkan.

Satu kisah lagi dialami oleh rekan kerja saya. Dia kebetulan memang orang yang jauh dari dikatakan mampu. Sang istri hanyalah seorang guru SD swasta yang miskin merawat kedua orangtua yang sakit pun miskin dan suaminya adalah seorang ustadz di pesantren yatim yang masih bekerja keras menyelesaikan kuliah. Saat mereka berdua memutuskan menikah, semua orang ikut nimbrung menasihati agar acara itu ditunda dahulu sampai keadaan cukup baik untuk mereka. Itu bukan apa-apa, tapi kami semua tahu bagaimana sulit hidup mereka kedua-duanya.

Kemudian si istri hamil. Beberapa bulan kemudian, sang bayi dalam perut istri terasa berhenti bergerak. Dinasihati oleh semua guru yang sudah jadi ibu di sekolah, sang istri mengajak suaminya segera pergi ke bidan untuk diperiksakan kandungannya. Sang suami mengatakan agar istrinya sabar dahulu sampai sang suami bisa mendapatkan pinjaman uang. Berita selanjutnya tidak kalah hebatnya. Sang bayi ternyata telah meninggal dunia di dalam kandungan dan harus segera dikeluarkan. Didesak dengan ketidakmampuan ekonomi, pasangan ini memilih untuk memaksa mengambil jalan yang termurah yaitu dengan induksi.

Semua yang mendengar terperangah. Gimana enggak, bayinya masih hidup dan ngajakin aja kalo induksi rasanya minta ampun dahsyatnya. Ini bagaimana pula jika bayinya telah meninggal dunia?

Tapi itu keputusan mereka.

Kisah selanjutnya datang setelahnya. Pada hari itu juga, induksi dilaksanakan. Sore diberi induksi, dokter memprediksikan bayi baru akan dilahirkan pada subuh. Pada tengah malam, sang istri sudah tepar karena kelelahan dan kesakitan. Dia pingsan. Perawat menelpon dokter yang saat itu juga langsung kembali ke rumah sakit. Sang dokter mengatakan bahwa melihat dari posisi bayinya, maka memang musti operasi.

Sang suami yang kebingungan akhirnya hanya memohon untuk diperbolehkan mencicil pembayaran nantinya. Sang dokter mengatakan itu tidak masalah. Maka malam itu juga operasi dilaksanakan.

Tidak seperti berita di TV, mereka semua diperbolehkan pulang saat sudah selesai perawatan. Sang suami mendatangi kantor administrasi untuk menanyakan berapa jumlah tagihan dan apakah ada yang musti ditinggalkannya sebagai jaminan. Berita dari admin mengejutkan dia. Ternyata tagihannya hanya limaratus ribu rupiah saja.

Sang suami sampai bertanya berkali-kali dan meminta agar pegawai mengecek dan mengecek lagi. Memang segitu, kata pegawainya. Maka sang suami pun membayar tagihan saat itu juga dan tidak lupa untuk sujud syukur berbelas-belas kali hari itu juga.

Saat menceritakan kisah tersebut kepada kami, teman saya Eni menanyakan siapa dokternya. Nama yang disebutkan ternyata adalah nama yang Eni tahu orangnya. Dia tidak kenal secara pribadi dengan sang dokter, hanya tahu. Tapi Eni kenal dengan seseorang yang menjadi terapis dari anak sang dokter.

Dia autis, kata Eni. Anaknya itu. Siswa dari sekolah inklusi tetangga sekolah tempat kita bekerja ini. Dan aku tahu, dari cerita-cerita teman. Ibu anak ini yang seorang dokter kandungan memang orangnya suka menolong orang lain. Nampaknya dia membayarkan biaya operasi rekan kita ini. Atau paling tidak, membantu mencari cara untuk itu.

Bahkan beliau tidak memberitahu orang yang ditolongnya.

Subhanallah..

Masih banyak kebaikan dan orang-orang baik di sekitar kita. Jangan tepikan itu semua. Jangan hilangkan walaupun kata ikhlas telah mereka berikan. Dunia ini masih berputar, teman.

  • Ihsan dalam agama Islam adalah suatu bentuk iman yang tertinggi tingkatannya (Islam, Iman, dan Ihsan). Secara bahasa berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan.
Iklan

2 pemikiran pada “it’s a good news

  1. Soal pesimis, saya jadi inget lawakan seseorang. “Negeri ini gak bisa maju2 karena pemimpinnya sendiri pesimistis! Presiden kita setiap ada bencana prihatiiiin melulu…” 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s