Udah Bisa Baca, Tau!

Murid yang dipersenjatai dengan informasi akan selalu memenangkan pertempuran
(Meladee McCarty)

Tahun ajaran ini, baru satu minggu berjalan, dua kelas sudah menjadi bahan perbincangan yang hangat. Kedua kelas ini sama-sama kelas ikhwan (laki-laki) dan kedua-duanya sama-sama bikin guru pada mati kutu menghadapi mereka. Yep, pastinya kelas satu Ikhwan A. Satu lagi adalah kelas tiga ikhwan. Pada kelas yang kedua ini, seakan-akan segalanya berawal dan berujung pangkal pada seoarang anak yang mari kita sebut saja namanya adalah Adel.

Sebenernya anak ini udah dari duluuuuu sering dibicarakan di ruang guru. Anak yang cerdas berpengetahuan yang cukup luas untuk seusianya, namun cerewet gak ketulungan ditambah blak-blakan minta ampun. Ibunya dari awal datang sudah mewanti-wanti:

‘Anak saya ini, Bu Guru, minta ampun cerewetnya. Gak pernah bisa diem mulutnya. Juga badannya. Dia senang bicara. Senaaaaaang sekali berbicara. Setiap malam saya sama bapaknya itu musti nungguin di depan pintu kamar mengawasi agar dia berhenti bicara sama adiknya. Apa aja dikomentarin dan dibicarakan. Hobi menasihati orang. Pernah suatu kali kami diamkan pengen tahu sampai kapan dia bicara dan ternyata sampai jam 12 malem dia masih juga ngoceh cerita. Ya, akhirnya kita gedor-gedor pintu kamar anak-anak baru dia diam. Pernah juga suatu kali blabla.. yadada..yadada…’

Heh? Keturunan siapa itu, yaa? Hehehe…

Nah, anak ini bukan hanya demen ngoceh tapi juga mampu memimpin teman-temannya dalam melakukan suatu pemberontakan kepada guru. Dan nampaknya, sih, program mereka, kelas tiga ikhwan ini, adalah bagaimana membuat para guru yang mengajar di kelas mereka kewalahan dan kepancing sewot. Hingga yang keluar dari mulut para guru mengenai kelas ini adalah:

Gak bisa diatur!

Susah!

Ribut melulu!

Ga mau dengerin guru!

Ogah belajar!

Mari kita denger kisahnya Pak Arifin. Ini bapak pasalnya adalah guru yang banyak diidolakan oleh anak-anak kelas kecil. Pelajaran beliau yang sesungguhnya ruwet dan terkesan membosankan, Tafsir qur’an dan Hadist, kenyataannya justru menjadi pelajaran fave semua anak kelas kecil (kelas 1 sampai dengan kelas 3 SD). Dari awal kami sudah menunggu apa pendapatnya mengenai kelas ini.

Seperti yang diduga semua guru SD, itu berlangsung okeh-okeh aja. Anak-anak sangat menikmatinya. Begitupun gurunya. Tapi bukan berarti gak ditolak dulu pada awalnya.

Pak Arifin masuk kelas saja langsung musti menghadapi anak-anak yang bermuka cemberut. Belum apa-apa, semua…SEMUA protes hebat!

UDAAAAAHHH…

GAK MAU BELAJAR LAGIH!

BOSEEEEEENNNN!

MAU MAIN AJAAAAAAAA!!

Kemudian, Adel berteriak:

‘Teman-teman, siapa yang setuju kalau Pak Arifin keluar ajaaaa?’

Semua angkat tangan!

‘Siapa yang setuju kita istirahat ajaaaaaaa?’

Semua angkat tangan lagi.

*gabruk!

Pak Arifin kemudian mengemaskan barang-barangnya kemudian bergaya ingin keluar kelas.

‘Baik kalau begitu,’ kata Pak Arifin. ‘Gak masalah. Kalian boleh istirahat.’

HOREEEEEE!!!

*gabruk lagi

‘Padahal tadinya bapak pengen cerita tentang Fathu Makkah. Penaklukan kota Makkah oleh Madinah. Itu terjadi pada tahun ke-8 Hijriah atau tahun 630 Masehi. 10 tahun setelah ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah. Keren banget, tuh! Pasukan Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah bisa masuk Makkah dengan tanpa perang. Tapi, yah, kalian pengennya main aja. Gak apa-apa. Bapak jadi bisa mengerjakan yang lain di ruang guru.’

Daaaan, anak-anak langsung bengong. Semuanya…

Adel lari ke depan menghadang Pak Arifin.

‘Pak, kita berubah pikiran. Bapak ngajar aja, deh! Ya? Ya, pak?’

‘Ah, mana gak ada persetujuan, kok!’

Adel berdiri di depan kelas dan kembali berteriak:

‘Teman-teman, siapa yang setuju kita belajar sekaraaaang?’

Sayaaaaaaaa…

Semuanya tunjuk tangan. Hihihi….

Itu kisah minggu lalu. Pada Senin, saya mendapat giliran pertama kali untuk masuk kelas ini. Pelajarannya IPS tentu saja. Siapa lagi sih yang bersedia menjadi guru IPS di sini? Hehehe… Dan semua orang mewanti-wanti tentang Adel.

Pokonya intinya Adel! Kalo Adel udah bisa kepegang, Insya Allah satu kelas bisa dipegang. Masalahnya untuk megang Adel itu yang susah!

Jadi deg-deg-gan!

Materi pertama kita adalah mengenai lingkungan alam. Bukan macam-macamnya lagi, namun lebih detil mengenal macam-macam lingkungan alam di dunia. Geografi! Fiuuuh! Lega rasanya bukan ekonomi duluan!

Eh, tapi memang untuk IPS di semua kelas kami rancang membahas materi geografi duluan, sih! Ekonimi nyempil di tengah selalu! Bukan apa-apa, cukup tricky untuk merancang kegiatan yang menyenangkannya.

Enihei, anak-anak umur segini memang pastinya akan boring amit-amit kalo gurunya cuma cuap-cuap sepanjang jalan. Menerangkan sih bisa, hanya saja tetep butuh banyak yang musti dilihat. Maka saya ajak mereka masuk ke ruang multimedia agar mereka bisa melihat gambar-gambar yang sudah saya siapkan sebagai pelengkap acara cuap-cuap sepanjang tiga jam pelajaran.

Jam saya, seperti biasa pula, selepas dzuhur. Jam anak lagi ngantuk-ngantuknya. Lagi uring-uringanya! Maka gak heran begitu saya masuk kelas, anak-anak langsung uring-uringan gak keruan.

‘Ibuuuu, kita masih mau maiiiiin….’

‘Iyaaa… Masa kita mainnya cuma sebentar banget, siiiiih?’

Gini aja, deh! Ibu mau ngasih materi selama dua jam pelajaran aja dulu. Kalo kalian hebat bisa mengerti. Kalau seluruh materi yang harusnya dapat diberikan hari ini sudah selesai dan cepat selesainya sampai ke test akhir jam pelajaran, kalian ibu kasih waktu buat main! Gimana? Setuju?

Mereka semua setuju dengan ogah-ogahan!

Kemudian?

Wedeh! Acak-acakan lah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sayah! Bukan apa-apa, yang seharusnya hari ini kita membahas 3 kenampakan alam yaitu gunung, lembah, pulau, pada akhirnya cuma kebahas gunung aja.

Bukan karena anak-anak bête! Tapi sebaliknya, justru pada akhit 3 jam pelajaran anak-anak pada ngambek ngunciin saya di kelas!

Gara-garanya yaitu si Adel. Sekali lagi Adel!

Maka pesan saya, bagaimanapun, masuk kelas itu guru harus siap materi! Jangan slonong boy aja baru mau buka buku pas di kelas. Anak-anak itu bosen setengah mati kalau gurunya gak siap.

Saya baru membahas gunung. Apa yang disebut gunung itu. Bagaimana ciri-cirinya. Kemudian setiap gambar yang tadinya hanya pengen diliatin kepada anak itu saja malah jadinya dibahas panjang lebuaaaaar!!

Gunung tertinggi di dunia. Puncak Everest di Himalaya. Saya belon ngoceh apa-apa, si Adel langsung cerewet berceloteh. Dari mulai komik Tintin sampe ke masalah dijajahnya Tibet oleh RRC! Busyet, emang bener! Tu anak heboh bener pengetahuannya untuk anak seusianya.

Dan saya hepiiiiiii banget ketemu Adel. Jadi berasa ada lawannya!

Maka begitulah! Saya membuka gambar, menerangkan sedikit, kemudian ditimpali Adel. Kita saling menimpali. Adel semangat minta ampun! Dan anak-anak pun ikutan semangat semuanya! Semua duduk di lantai melingkar. Bangku kita singkirkan ke pojokan. Semuanya ikut diskusi! Dari puncak Himalaya sampai ke ledakan Gunung Tambora dan Krakatau! Dari Puncak Jaya sampai kronologi meletusnya Merapi! Saya bahkan sampai gak percaya saat bel berbunyi bahwa ternyata saya dan anak-anak kelas tiga ikhwan ini udah seruuuuu membicarakan gunung selama tiga jam pelajaran!

Busyet!

Belon pernah sepanjang karir saya sebagai guru sampai begini. Belum pernah begitu mengasyikan kayak gini!

Besok saya musti sadar diri, ah! Jangan kebawa-bawa begini. Kalo enggak, well, acak-acakan nantinya pelajaran saya!

Maka selesai pelajaran yang saya lakukan pertama kali adalah mencari walikelasnya!

Bukan apa-apa, ini sang walikelas udah keliatan setres baru hari gini. Gimana enggak, orang semua guru membicarakan betapa susahnya masuk kelasnya itu. Si Walikelas setres, kan?

Maka saya bilang kepadanya, pelajaran kami menyenangkan sekali! Kami semua menikmatinya! Dan saya pun menunggu-nunggu senin berikutnya saat kami akan melanjutkan pembahasan!

‘Ya ampun, Bu Alifiaaa. Bu Alifia itu orang pertama yang komentar begitu tentang anak-anak saya. Beneran, saya itu udah sediiiiih banget setiap kali guru keluar kelas saya mukanya suntuk!’

Yaaa, ini juga kan masa penyesuaian. Apalagi guru-guru kelas tengah (kelas 3-4) juga kan baru pertama kali menghadapi mereka. Masih meraba-raba dulu. Kebetulan aja kayaknya saya emang cocok sama anak-anak model Adel, gitu, kali, yaa…

Tapi dari semuanya, sih, satu aja kuncinya. Guru itu harus siap materi! Siap juga harus mau meluaskan pengetahuannya atas apa yang akan di bahas. Bukan segitu-gitu aja sebatas buku teks pelajaran. Emangnya kita kira anak-anak gak bisa baca?

Seperti kata Adel kepada salah satu guru yang dikisahkan di ruang guru beberapa waktu yang lalu: Ah, Pak Guru mah cuma ngulangin yang ada dibuku doang! Aku udah tamat baca bukunya, Pak! Aku kan udah bisa baca!

6 thoughts on “Udah Bisa Baca, Tau!

  1. Jadi ingat masa SD saya,,,, dulu pernah satu kelas yang putra dihukum semua karena mengambil snack di ruang guru. Juga pernah pas hari sabtu, habis istirahat yang putra tidak ada yang kembali ke kelas gara-gara ada Film DRAGON BALL di Televisi… he he he,,,
    Saya bukan guru, tapi saya punya pemikiran, untuk menghadapi anak-anak, harus mengetahui dulu seberapa pengetahuan mereka.

    • Yup, setuju! Kita memang harus tahu dulu juga kemampuan mereka, kemudian berusaha meningkatkan itu. Jangan sampai jadinya jalan di tempat aja🙂

  2. Sebelumnya Maaf udah lama banget tidak berkunjung..🙂

    Kami keluarga Besar MI Islamiyah Alwathaniyah cuma inging mengucapkan Marhaban Ya.. Ramadhan… Mohon maaf apabila terdapat salah dan khilaf dalam penyambutan di blog kami. Selamat menunaikan Ibadah Puasa.. Semoga kita semakin sehat dan selalu mendapat berkah.. Amin…

  3. Wow… gak kebayang kalo saya jadi guru yang ngadepin Adel. btw, dia pengetahuannya bisa “lebih jauh” daripada anak seusianya tu gimana cara ortu Adel ngedidiknya ya…

    • Pengetahuan umumnya memang lebih luas dibandingkan anak sekelasnya dan bahkan kakak kelasnya, tuh, Bu. Hehe, nanti kalau ketemu lagi sama ibunya tak tanya-tanya gimana tricknya, ya.. Tapi nampaknya sih, ini nak bukan cuma senang baca dan bicara, tapi juga senang kalau dia lebih tahu dibanding teman-temannya yang lain🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s