Dari Sudut Pandang Mereka

Pada hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadhan ini, pada siang menjelang kelas berakhir, saya mendapatkan salah seorang guru melaporkan sesuatu yang kemudian menjadi bahan kekhawatiran saya. Tapi karena ini masih hangat dan sedang bergulir, maka tentu tidak akan saya kisahkan pada blog ini dulu. Mungkin nanti beberapa waktu setelah sudah selesai permasalahannya. Namun saya akan mengisahkan sesuatu yang rada nyerempet sedikit, yang terjadi sekitar dua tahun ajaran yang lalu.

Itu adalah hari yang kami kira biasa-biasa saja. Salah satu rekan kami, yaitu Bu Eni, mendadak dipanggil ke kantor yayasan. Kami semua termasuk Bu Eni tidak tahu apa permasalahannya. Tapi yang pasti, ini adalah panggilan atas suatu masalah yang dilaporkan oleh orangtua murid.

Bu Eni tidak menceritakan kejadiannya kepada kami. Termasuk kepada saya. Satu-satunya yang dicurhatin oleh Bu Eni adalah Bu Kirsan. Dan dia pun hanya mengatakan bahwa si Eni lagi punya masalah yang cukup berat. Tapi kayaknya dia ogah ditanya-tanya mengenai hal itu dulu, deh! Jadi titip jagain aja, ya, AL, kata Bu Kirsan. Temen gua, tuh!

Temen gua juga, Kir! Yeee, kamu, ah!

Beberapa saat kemudian ada sedikit polemik pada para OTW-nya Bu Eni tahun sebelumnya. Mereka ramai-ramai ke yayasan untuk protes. Kemudian setelah semuanya selesai, Eni pun menceritakannya kepada saya.

Dia ternyata dilaporkan oleh salah seorang OTW anaknya tahun kemarin telah melakukan tindakan kekerasan kepada sang anak. Lebih tepatnya, si Eni dilaporkan telah menampar di anak sampai anak itu gak mau lagi datang ke sekolah. Dan akhirnya anak itu minta pindah. Kisah ini terungkap saat Sang Ibu ngobrol-ngobrol dengan Bu Ketua Harian Yayasan.

Sang ibu berkisah begini dan begitu.

Maka si Eni dipanggil dan langsung menghadapi yayasan.

Saya paham mengapa Bu Eni curhat kepada Kirsan. Dialah orang yang saat itu, selama dua tahun, berada pada satu tim yang sama. Mereka menangani anak-anak dari dari tingkat kelas yang sama. Bu Kirsan yang tahu benar bagaimana si Eni di kelas dan dalam mengasuh anak-anak. Beuh! Saya kira, saya cukup lega gak tahu mengenai masalah itu sebelumnya. Bukan gak mau tahu. Khawatir ditanya-tanya yayasan, nanti jangan-jangan keluar sikap sok tahu saya yang padahal sebenernya gak tahu apa-apa. Tipe-tipe suka kebawa-bawa suasana gini, heh!

Saya tahu Eni emang suka sewotan, tapi saya sama sekali gak pernah melihat dia kehilangan kesabaran menghadapi anak kecil. Selama bertahun-tahun, urusan dia anak-anak kelas 1 dan 2 SD. Dari sekolah sebelumnya dan sekolah ini. Sekarang urusan dia malah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Saya kira, cukup bisa dibayangkan, lah, sampai di mana batas sabarnya dalam menghadapi anak-anak. Maka, saya pun rada heran dengan permasalahan yang diadukan itu.

Dia menampar anak kecil?

Itu agak susah dipercaya.

Eni bertahan dengan pembelaannya bahwa dia tidak pernah melakukan itu! Terserah kalau OTW atau yayasan mau memperpanjang masalah ke polisi pun dia tetap menyatakan bahwa dia tidak pernah melakukan itu. Silahkan saja kalau dia musti dipecat atau dipolisikan sekalian!

Saat mendengar kisahnya, pertanyaan saya pertama kali adalah siapa sih anaknya? Yang mana? Emang anaknya itu badung, ya?

Udahlah itu sudah selesai, kata Eni. Gak usah dibahas lagi. Gak perlu tahu siapa. Nanti lo jadi ngeliat anak itu dengan perasaan yang enggak-enggak, lagi. Dan gak usah dibahas kenapa bisa ada laporan kayak gitu ke yayasan.

Titik!

Yaudahlah!

Mengenai demo para OTW ke yayasan beberapa waktu sebelumnya mengenai kisah ini juga si Eni mengaku tidak tahu menahu tentang bagaimana ini semua bocor ke OTW. Pokoknya pada suatu hari, pagi-pagi, para OTW nungul semua dan mencari Bu Eni. Mereka mengatakan kalau mereka sungguh prihatin tentang masalahnya Bu Eni. Dan mereka sebagian sudah berada di kantor yayasan untuk protes. Ini gabungan, lowh, antara OTW anak-anak Eni yang dulu-dulu sampai yang saat itu anaknya sedang diwalikelasi (diwalikelasi?) oleh Bu Eni. Intinya, mereka semua menyatakan gak percaya dengan pengaduan dari salah satu OTW itu. Mereka menolak untuk percaya.

Itu gak mungkin, kata mereka. Setahu mereka, gak ada masalah dengan Bu Eni. Dia emang rada kurang komunikasi dengan OTW jika dibanding walikelas yang satu tim dengannya yaitu Bu Kirsan. Tapi itu bukan berarti dia gak perhatian dan bahkan melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Mereka gak pernah mendengar cerita macam itu. Kalau memang tindakan kekerasan itu, katanya, dilakukan di kelas, kok anak-anak yang lain gak ada yang cerita? Gak ada yang mengaku melihat tindakan itu saat ditanya orangtuanya masing-masing.

Padahal menurut mengaduan OTW tersebut, Bu Eni sering kehilangan kendali di kelas. Dia bukan hanya pernah menampar anaknya, tapi juga pernah melempar anaknya dengan sandal!

Para OTW sempat mengancam yayasan kalau bahwa kalau sampai Bu Eni dipecat karena masalah ini, mereka akan mengeluarkan anaknya dari sekolah beramai-ramai.

Nah, jadi ruwet, kan, masalahnyaaa…

Masalah seperti ini pun pernah dialami TK beberapa saat yang lalu. Salah seorang OTW mendatangi sekolah dan protes berat sampai udah bawa-bawa pengacara segala! Permasalahannya rada membelakakan mata juga sebenarnya.

Taman Kanak Kanak, lowh!

Jadi gara-garanya ada perkelahian antara dua anak lelaki di sekolah. Cukup heboh sampai tonjok-tonjokan. Ujung-ujungnya, salah satu anak terluka sobek dan musti di bawa ke RS untuk dijahit.

Kalau ada anak yang terluka, kami memang memilih langsung bawa sang anak ke RS. Khawatir ada sesuatu yang serius aja sebetulnya.

Sang OTW saat diberitahu bahwa anaknya di bawa ke RS tentu marah luar biasa. Dia menuntut kalau anak yang satunya lagi dihukum berat. Masalahnya adalah, sang OTW sudah terlanjur suudzon begitu tahu siapa anak laki-laki yang satunya yang adalah anak satu-satunya Bu Dokter si yang punya sekolah. Tentu saja kami mengajak bicara OTW anak satunya dan menghukum si anak juga. Kami merasa gak membeda-bedakan ini anak siapa. Dan Ibunya anak itu, bos kami, pun sudah memohon maaf atas insiden tersebut.

Puteranya ini emang rada susah diem! Beneran! Sampai sekarang juga di kelas itu anak selalu dihukum melulu gara-gara ngerjain dan bikin orang lain marah melulu. Beberapa hari yang lalu ini anak saya hukum menulis surat permohonan maaf sebanyak 5 lembar di luar kelas yang kebetulan ibunya lagi mantau sekolah. Pas dia lihat anaknya lagi dihukum lagi, langsung lah dia bilang ke saya:

‘Bu Alifia, bilang-bilang ya kalau nanti Si Abang terancam dikeluarkan dari sekolah. Ya ampun kali ini dia bikin kejahilan apa lagi, sih?’

Kembali ke kisah.

Tentu ini kan anak TK, tidak mungkin juga guru menceritakan tindakan-tindakan yang dilakukan anak lain. Maka guru hanya sekedar menyatakan bahwa si anak sudah ditangani. Dan itu juga pasti dilakukan jika situsinya berkebalikan.

Sang ibu tetep tambah marah. Kemudian membawa-bawa pengacara. Bagi kami tentu jadi mengkhawatirkan. Ini kan anak TK. Dan kasusnya juga perkelahian, bukan bullying. Kalaupun ada yang musti di salahkan, itu bukan anaknya, tapi gurunya yang mungkin kurang pengawasan saat itu.

Sang guru minta maaf.

Akhirnya Bu Dokter, yang rada serba salah posisinya, memutuskan untuk menskors anaknya sendiri. Dua minggu! Dan mengirimkan surat peringatan keras, kepada dirinya sendiri, mengenai anaknya. Hukuman yang luarbiasa untuk siswa TK tentu saja.

Yah, ini semua diakhiri dengan baik-baik akhirnya. Sang OTW menerima kembali uang pangkal yang sudah dibayarkan sebelumnya maka masalah ini tidak lagi diperpanjang. Tapi bagi saya jadi sedih aja melihat pada dua minggu itu, setiap pagi, ngeliat Si Abang merengek-rengek kepada ibunya:

‘Abang mau sekolah, Bunda. Kenapa Abang gak boleh sekolah? Kenapa Bunda?’

Yah, mungkin karena saya adalah orang sekolah, maka saya sering merasa prihatin sendiri jika ada kasus serupa besar di media massa. Apa sih yang terjadi sesungguhnya? Bagaimana kisah dari sisi mereka? Bukan berapi-api membela. Saya tahu kalau mungkin rekan seprofesi saya juga bisa aja salah. Bisa aja brengsek. Tapi, saya hanya ingin sekali tahu bagaimana kisah itu dari sudut pandang mereka.

4 thoughts on “Dari Sudut Pandang Mereka

  1. Sedih ya, guru yg berdedikasi malah kena masalah ginian
    . Syukurlah Bu Eni punya basis pendukung yg kompak🙂

    Kesimpulannya adalah, apapun masalahnya kalau berhubungan sama ibu2 pasti repootttttt😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s