Ramadhan 1432 I: Polisi Puasa!

Ramadhan tahun ini kita punya segerombolan polisi puasa. Eits, jangan salah. Itu bukan kelompok yang dirancang sekolah dan bukan pula kelompok yang dirancang satu kelas tertentu.

Well, di sekolah tempat saya mengajar ini yang namanya piket regu kebersihan gak gitu punya kerjaan. Kita punya staf kebersihan alias OB untuk mengerjakan pekerjaan bersih-bersih di dalam kelas atau di sekolah. Maka secara otomatis, walaupun tetap ada, yang namanya regu piket kebersihan jadi rada nganggur, tuh! Kecuali tentu saja kami tetap memberi mereka tanggung jawab untuk hal-hal yang kecil misalnya membuang sampah dari tempat sampah kelas ke tempat sampah sekolah yang besar di pojok sekolah atau membereskan kelas yang acakadul selepas praktek-praktek dan kegiatan kelas. Salah satu tugas piket kebersihan ini juga termasuk lapor kepada Pak TU sekolah dibawah setiap kali listrik anjlok turun yang otomatis mematikan seluruh listrik di kelas. Pun tugas mereka melaporkan dan membersihkan kamar mandi kelas. Karena itu regu kebersihan di kelas-kelas kini berubah namanya menjadi Regu Kebersihan dan Kenyamanan.

Tapi tentu saja kami para guru tidak kehilangan akal untuk membuat anak-anak punya kerjaan. Kan bagaimanapun, dari kalangan apapun mereka berasal dan siapapun orangtuanya, toh mereka harus belajar untuk bertanggung jawab, kan?

Maka dibentuklah regu-regu ketertiban di setiap kelas. Tugasnya tentu menjaga ketertiban di kelas dan diluar kelas pada kegiatan-kegiatan sekolah. Menjaga agar peraturan dan kesepakatan sekolah dan kelas tetap berjalan. Intinya sebetulnya jadi mata tambahannya walikelas masing-masing. Kemudian regu kesehatan kelas yang tugasnya rada ringan yaitu menimbang badan dan mengukur tinggi badan anggota kelasnya setiap bulan. Juga melaporkan dan mengantar siswa yang sakit ke UKS. Terakhir ada pula regu perpustakaan yang bertugas untuk menjaga keteraturan bahan-bahan pustaka di kelas. Mereka setiap hari harus mencatat buku dan bahan pustaka yang dipinjam setiap anak lalu kemudian menagihnya saat masa waktu pinjam bahan pustaka tersebut akan habis masanya. Sekretaris di tempat saya bukan tugasnya untuk mencatat pelajaran di papan tulis, tapi mencatat daftar tugas, PR, dan ulangan yang diberikan oleh setiap guru di kelas kemudian menempelkan deadline di papan pengumuman kelas. Juga melaporkan dan mencatat setiap keputusan saat rapat kelas (mulai kelas 4 musti diadakan rapat evaluasi kelas minimal 2 bulan sekali. Biar para pengurus kelas merasa dihargai pekerjaannya). Tugas sekretaris yang lain adalah mengabsen kelas setiap pagi dan petang. Bendahara di sekolah saya punya dua buku pencatatan. Buku catatan tabungan, yang kemudian mereka punya tugas untuk memberikan uang serta buku-buku tabungan kepada bendahara sekolah. Buku yang satu lagi adalah buku catatan infaq. Ini fungsinya hanya pencatatan saja. Uangnya sendiri kemudian akan dimasukan ke kotak amal sekolah. Ketua kelas? Ketua kelas tugasnya mewadahi itu semua, donk. Memastikan bahwa semua tim di dalam kelas tetap berjalan dan gak hangat-hangat tahi ayam aja.

Jadinya, semua punya kerjaan!

Tugas walikelas?

Duduk santai kipat-kipas, hehe..

Nggak ding! Tentu saja tidak. Walikelas bertugas untuk membina seluruh tim dalam kelas dan percaya, deh, itu cukup ngeruwet pula kerjaannya. Yah, namanya juga anak kecil belajar berorganisasi. Belajar untuk bekerjasama. Pastilah ribet dengan masalah dan pertikaian juga kadang-kadang.

Sekarang ada pula yang namanya gerombolan polisi puasa.

Jadi pada hari pertama sekolah saat Ramadhan, pagi-pagi pintu ruangan saya digedor-gedor oleh segerombol anak laki kelas dua.

‘Assalamualaikuuum… Assalamualaikuum..’

Wa’alaikum salam. Silahkan masuk, Nak.

Masuklah mereka yang saya kira ada apaaaa gitu pagi-pagi udah nyerbu ruangan saya. Kirain ada sesuatu yang menghebohkan hari ini. Tapi ternyataaa….

‘Ibu puasa gak? Ibu puasa kan?’

Lowh!

Ibu puasa. Emang ada apa, sih?

‘Ibu kuat-kuat, yah, puasanyaa… Jangan tergoda dengan kemewahan nafsu dunia, Buu..’

*tepar!

Begitulah anak-anak kelas kecil. Kadang-kadang mereka berbicara dengan bahasa yang sungguh dewasa! Tentu itu dari denger-denger ucapan orang dewasa atau dari TV yang mereka saksikan.

Kelas empat atau lima nanti mulainya mereka bicara secara gaul seperti anak-anak remaja.

Saya: Ooowh…. Iyah. Baik. Ibu akan kuat dan bertekad untuk tidak tergoda dengan kemewahan nafsu dunia.

‘Ingat, Bu. Puasa itu wajib bagi orang islam yang mampu.’

‘Anak-anak juga sebaiknya belajar puasa, Bu.’

Iya, yah.. Makasih, ya, Nak, diingatkan.

‘Memang berat, tapi kita harus kuat! ’

Baik, Ibu kuat!

‘Semangat, Bu!’

Iya. SEMANGAT!!!

‘Di tempat lain kan banyak anak-anak yang kelaparan. Kalo kita kan Cuma sebentar kelaparannya.’

Bener juga, yaaaa…

‘Yaudah. Assalamualaikum, Bu.’

Waalaikum salam. Kalian mau kemana?

‘Ke yang lain.’

Karena merasa geli dicampur penasaran, saya pun mengikuti mereka dari belakang yang ternyata memang benar, mereka itu keliling sekolahan dari kelas ke kelas untuk memberi tahu agar kita semua tetap kuat menjalani ibadah puasa.

Kami nyengir-nyengir aja akhirnya menyaksikan gerombolan ini.

Rada khawatir saat mereka mulai naik ke lantai dua menuju kelas-kelas atas. Duh, bagaimana tanggapan kakak-kakak kelas saat menghadapi mereka, yaa…

Well, ternyata kakak-kakak kelas menanggapinya dengan baik-baik. Kelas tiga dan empat memang agar menggaruk-garuk kepala, tapi pasrah aja. Mungkin juga karena ada guru di sekitar mereka yang melemparkan pandangan penuh arti:

^Awas! Jangan macem-macem sama adeknya!^

Kakak-kakak kelas 5 dan 6 menanggapinya persis seperti guru-guru menanggapi mereka. Senyum-senyum dan mengucapkan terimakasih.

‘Aduuuuh,’ kata salah satu anak kelas enam. ‘Lucu-lucu banget, sih, anak-anak kelas dua!’

Hihihi…

Dan empat hari sudah, anak-anak kelas dua ini ternyata belum bosen, Bok! Tiap pagi aja mereka keliling memberitahu agar kita semua kuat untuk menjalankan ibadah puasa sampai maghrib hari ini.

Maka para guru pun mulai mengatakan mereka adalah gerombolan polisi puasa. Sekomplotan anak kecil yang mengingatkan dan menyemangati kami semua pada pagi di bulan Ramadhan.

Haaah, betapa beruntungnya kami, ya, bisa diingatkan setiap pagi oleh anak-anak yang sholeh.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s