Tentang Keluarga IV: Ayah, Ibu, dan Keberlangsungan Pendidikan

Sekali lagi kisah menyakitkan mengenai konflik keluarga yang saya sering tidak mengerti betapa orangtua selalu mengatakan bahwa bagaimanapun, mereka bertindak demi anak-anaknya. Kenyataannya, justru sang anak yang berada pada posisi gamang.

Beberapa tahun yang lalu saat pertama kali jadi guru, Bu Kepala Sekolah pada suatu hari mewanti-wanti saya untuk menjaga salah satu anak yang saat itu masih duduk di bangku TK B (Nol besar kalau jaman dulu). Jangan sembarang membolehkan sang anak dibawa pulang oleh selain ibunya. Tidak boleh! Bahkan jika yang menjemput itu adalah nenek, kakek, apalagi sang ayah.

Pernikahan ayah dan ibunya sudah berakhir. Dan keputusan pengadilan menyatakan bahwa hak asuh anak satu-satunya mereka ini jatuh ke tangan Sang Ibu.

Bukan hak kita untuk ikut nimbrung masalah ini.

Sang Ibu kemudian menghubungi pihak sekolah untuk tidak menyerahkan anaknya kepada Sang Ayah atau siapapun selain dia sendiri bahkan walaupun itu hanya dengan alasan untuk mengantarkan pulang ke rumah ibunya. Titik!

Soalnya Sang Ibu khawatir kalau anaknya akan dibawa lari oleh mantan suaminya.

*hehhh!

Tapi selama beberapa kali saya sempat bertemu dengan Sang Ayah yang hanya dapat menyaksikan puteri satu-satunya ini dari jauh. Beberapa kali secara sembunyi-sembunyi saya biarkan mereka berbicara berdua. Saya tahu itu salah. Tapi bagaimana lagi? Apakah saya musti menghalangi ayah dan anak ini saling bersentuhan satu sama lain untuk sebentar saja?

Hari ini, sekali lagi saya harus menyaksikan bagaimana sakitnya perpisahan itu.

Sebut saja namanya Ina, siswa yang seharusnya saat ini duduk di kelas 4 SD. Sampai pada hari pertama sekolah, status anak ini masih belum jelas. Jangankan datang untuk daftar ulang, bahkan mengambil rapot semester keduanya pun tidak. Tapi bagaimanapun, kami tetap menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan anak itu. Namanya ada di daftar absensi kelasnya yang sekarang dan begitu pula di depan locker yang seharusnya menjadi miliknya untuk satu tahun ini. Seluruh buku pelajaran untuknya pun tetap kami persiapkan. Intinya, kami hanya tinggal menunggu hari ketika anak ini kembali ke sekolah.

Dia tidak pernah muncul kembali.

Walikelasnya mencoba menelpon ke rumah yang dijawab oleh ART (Asisten Rumah Tangga alias pembantu) dengan sebaris kata: wah, gak tau juga, tuh, Bu. Soalnya, anak-anak lagi dibawa sama ibunya, sih.

Yep, ayah dan ibunya sudah beberapa saat lamanya berpisah. Sang ibu sekarang tinggal di Ibukota Negara Indonesia. Sang Ayah, well, rada susah juga dihubunginnya. Lah, wong, bapaknya ini seorang pebisnis yang sibuk. Entahlan dia sedang ada di kota atau negara mana lagi saat ini.

Maka status anak ini terus mengambang.

Status kakaknya lebih memprihatinkan lagi.

Adi sang kakak, baru saja dinyatakan lulus tahun ajaran kemarin. Seharusnya dia saat ini berada di kelas VII. Dan kami semua memang mengira dia sudah berada di kelas VII-nya entah dimana. Lah, kebayang ajalah! Hari gini! Sudah hampir satu bulan berjalan sejak dimulainya tahun ajaran yang baru lagi.

Tapi segala berkas yang berkenaan dengan anak ini masih di sekolah. Ijazah dan rapotnya masih di tangan kami. Bagaimana tidak, selepas UN, ini anak gak pernah muncul lagi di sekolah. Dia bahkan tidak datang pada saat pengumuman kelulusan maupun perpisahan.

Putus begitu saja.

Menghilang.

Tapi kawan-kawannya mengatakan kalau si Adi itu sekolah di SMPS XXX tetangga kami. Itu sekolah baru. Dan tentu saja kami juga tahu bahwa aturan main di sekolah swasta tidak sesaklek di sekolah negeri kalau mengenai pemberkasan. Itu bisa dipenuhi sambil berjalan.

Karena semua kawannya kompakan yakin bahwa si Adi udah diterima dan terdaftar di sekolah tetangga, maka kami tidak begitu khawatir lagi. Apalagi antara sekolah kami dengan sekolah tetangga tersebut memang sudah terjalin kerjasama yang cukup baik. Maka kami mengira bahwa, pihak sekolah tetangga itu dapat menerima siswa kami hanya karena dia berasal, dan sudah dinyatakan lulus, dari sekolah ini.

Apalagi bahwa si Adi ini termasuk anak yang dikenal berprestasi.

Hari ini, pada siang, Sang Ayah nongol di sekolah. Meminta berkas-berkas anaknya serta mengurus surat-surat yang cukup banyak duplikat yang dibuatnya. Saat menandatangani untuk legalisir, saya iseng bertanya-tanya:

Banyak banget, ya, Pak. Dari SMPS xxx minta segini banyak?

‘Lah, kata siapa anak saya ke situ, Bu?’

Loh, bukan sudah di sana?

Sang Ayah menghela nafas panjang.

‘Ini saya baru mau cari sekolah buat Adi, Bu.’

Hah?

‘Iya, Bu. Hah? Tapi anak-anak saya itu memang diambil ibunya segera selepas ulangan berakhir. Saya sudah wanti-wanti mengenai sekolah. Saya juga sudah berusaha menelpon untuk mengingatkan ibunya. Tapi kenyataannya, yah, saya juga kaget saat tahu kalau anak-anak saya itu masih tidak jelas status sekolahnya dimana.’

……

‘Bayangin, Bu, hari gini baru muter-muter nyari sekolah. Mana bisa dapet sekolah yang bagus lagi. Padahal si Adi itu bagus prestasinya. Kasihan dia. Dan saya juga sebenernya merasa malu baru dateng sekarang. Baru keliling nyari sekolah sekarang.’

……

Mengenai Ina bagaimana, Pak? Apa betul Ina tinggal dengan ibunya untuk selanjutnya dan melanjutkan sekolah di Jakarta?

Yah, setahu saya juga si Ina masih belum sekolah. Di rumah aja menurut informasi dari putera saya. Tapi…satu-satu dulu, deh, saya urusin. Ini aja saya harus umpet-umpetan ngambil Adi. Ibunya gak memperbolehkan mereka keluar rumah. Takut diculik sama saya.

Saya tidak bertanya-tanya lebih jauh mengenai masalah privat keluarga mereka. Hanya mengatakan bahwa Ina masih terdaftar di sekolah ini dan dapat kembali kapan saja, saat dia sudah dapat kembali.

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai yang mungkin tertinggal? Bagaimana dengan absensi? Bagaimana dengan segambreng aturan sekolah?

Di dunia pada kenyataannya, kita tidak dapat bertindak hanya dalam aturan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s