Ramadhan 1432 II: Si Pemberes Sendal

Beberapa tahun yang lalu, saya ingat itu malam takbiran, pada masjid di lingkungan rumah orangtua saya, seperti biasa sedang diadakan semacam perayaan. Memang begitulah kebiasaan kami.

Perayaan ini sebenernya isinya biasa saja. Ceramah tentu saja ada, kemudian beberapa penampilan dari adik-adik TK, SD, dan SMP kitaran rumah. Kakak SMA-nya sudah jadi panitia. Kemudian acara puncak dari semuanya dan yang paling ditunggu-tunggu segenap anak-anak di lingkungan kami adalah pembagian hadiah.

Iya, pembagian hadiah.

Hadian untuk para pemenang lomba.

Pada satu minggu sebelum Ramadhan berakhir di masjid memang selalu diadakan berbagai macam lomba bagi adik-adik kita. Lomba ini diadakan pada setiap hari selepas ceramah ba’da subuh. Jadi anak-anak tetap berada di masjid tuh dari shalat subuh sampai sekitar jam sepuluh pagi.

Hadiah untuk kerajinan dan ketaatan serta usaha menjalankan ibadah.

Ini sebenernya dilakukan untuk menyemangati anak-anak agar tetap menjalankan ibadahnya. Dan kami berusaha untuk mengapresiasinya. Mereka-mereka yang rajin tarawih gak pernah bolos walaupun Cuma satu hari aja. Mereka yang puasanya tamat sampai maghrib sepanjang satu bulan. Mereka yang tadarus ba’da tarawih dan subuhnya gak pernah absen.

Kemudian ada juga hadah yang betul-betul kejutan, untuk pekerjaan baik yang dilakukan.

Salah satu yang paling saya kenang adalah beberapa tahun yang lalu, saat panitia memanggil nama salah satu anak kecil di lingkungan kami. Itu tentu tidak disangka. Si anak terkejut luarbiasa dan bahkan pengen kabur karena menyangka dia sedang dapat masalah.

Dia naik ke panggung dengan memasang muka blo’on.

Mukanya masih blo’on saat panitia menyerahkan sebuah bingkisan besar beserta amplop yang berisi buku tabungan untuknya.

Buku itu sudah ada catatannya tentu saja. Sejumlah uang yang cukup besar. Hadiah paling besar yang diberikan oleh panitia pada tahun itu.

Alasannya?

Simpel.

Ini anak sepanjang satu bulan ini, tidak pernah absen untuk membereskan sandal. Entah darimana dia mendapat ide untuk melakukan itu. Mungkin dari ceramah salah satu guru kami. Tapi yang jelas, ini anak, setiap hari, setiap subuh dan isya, juga pada shalat-shalat yang lain saat dia datang ikut orangtuanya ke masjid, dia dengan setia membereskan sandal-sendal yang berantakan. Sampai rapih.

Semuanya.

Dengan kesendiriannya dan tidak pernah berkoar-koar pada anak-anak yang lain. Dia hanya melakukan itu. Gak peduli seberapa berantakan para jama’ah yang seenaknya meletakkan sandal.

Gak peduli bahwa segera selepas dia membereskan toh ada saja yang baru datang dan gak ngeh segera memberantakin lagi itu sandal yang telah tersusun rapih.

Gak peduli bahwa selama ini dia bekerja dalam diam dia menemukan bahwa tidak ada satupun yang memperhatikan dan memberikan pujian kepadanya.

Bahkan tak jarang dia malah mendapatkan seruan tak sabar dari orang-orang yang datang belakangan dan merasa terganggu saat mereka ingin meletakkan sandal, mereka harus terhalangi dengan seorang anak kecil yang membungkuk jongkok-jongkok membereskan semuanya satu demi satu.

Dia gak peduli.

Saat datang, dia membereskan sampai rapih kemudian ambil air wudhu. Begitu. Dari hari ke hari.

Dia gak pernah tahu kalau perilaku baiknya ini sesungguhnya telah menarik perhatian beberapa orang yang memilih untuk diam dan menunggu. Sampai kapan ini anak akan terus melakukan aksinya.

Orang-orang ini menilai dalam diam, kemudian bersepakat untuk memberikan si anak sesuatu. Agar dia tidak patah semangat. Agar anak-anak yang lain belajar bahwa ada balasan baik untuk setiap kebaikan yang kita lakukan.

Itu yang saya tangkap dari kisah jaman dahulu kala itu.

Dan malam ini, saya mengingat kejadian itu dari sisi yang lain. Dari wajah terkejut si anak pada malam takbiran saat namanya dipanggil ke atas panggung.

Dia tidak pernah menyangka bahwa pekerjaannya itu diperhatikan oleh orang lain. Tapi toh dia tetap melakukannya.

Sebuah pelajaran yang lain tentang satu kata ‘ikhlas’ yang diajarkan oleh seorang anak berusia 6 tahun di masa yang lalu.

Sebuah pelajaran atas ‘amal’, dan bahwa itu tidak pernah dibatasi oleh besarnya kemampuan kita. Bahwa sebagai orang yang tak memiliki kekuasaan besar pun, sebagai apapun, kita tetap bisa melakukan sesuatu bagi orang lain.

2 thoughts on “Ramadhan 1432 II: Si Pemberes Sendal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s