Pelecehan atau Prasangka?

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:
“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata: Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”

(Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!)

Beberapa minggu yang lalu, salah satu guru tiba-tiba menceritakan hal yang bikin saya terkesiap kaget. Bahwa anak-anaknya pada ngadu mengenai salah satu OB di sekolah yang tindakannya kepada mereka sudah masuk ke pelecehan seksual.

Ini diawali dari tertangkapnya anak-anak laki di kelas pada saat pelaksanaan Shalat Dzuhur berjama’ah di masjid. Maka kena hukum semuanya. Kemudian pada saat diajak bicara, anak-anak ini mengaku bahwa mereka ogah ke masjid karena takut dengan salah satu OB yang katanya suka memegang-megang badan mereka. Dan bahkan wilayah dipegangnya itu adalah wilayah yang privat. Pengduan terus datang dan bergulir dari satu anak ke anak yang lain saling menambahkan.

Menghadapi kisah kayak gini, walaupun bukan pengaduan resmi, tentu saja pihak sekolah harus menanggapi dengan serius.

Sangat serius.

Namun banyak hal yang kemudian membuat saya memilih untuk memendam persoalan agar jangan sampai membesar.

Pengaduan ini hanya berasal dari anak-anak dalam satu kelas. Saya sendiri belum pernah menerima pengaduan yang sejenis dari kelas lain manapun. Bahkan tidak pernah ada komplen mengenai orang yang bersangkutan. Tapi tentu saja ini bukan alasan yang kuat. Mungkin justru inilah pertama kalinya pengaduan datang.

Saya teringat dengan satu dosa jaman kecil dulu. Saat masih SMP kelas satu. Kami benci sekali dengan guru Komputer kami. Dan pada suatu hari, Sang Guru membikin kesalahan yang bagi kami tak ada duanya di dunia ini yaitu menghukum salah satu anggota kelas kami. Beliau mengusir kawan kami dari kelas. Lalu masalah ini meluap sampai Sang Walikelas turun tangan.

Tentu kami membela diri. Dimulai dari salah satu anak mengatakan Pak Komputer suka gak beres. Suka megang-megang tangan kami (satu kelas perempuan semua). Cerita semakin besar sampai hal-hal yang sungguh gak masuk akal. Semua anak menyumbangkan satu kisah kecil. Termasuk saya. Dan kisah yang saya sumbangkan, sama dengan banyak anak lain, adalah kisah bohong.

Kemudian Pak Komputer tidak mengajar kelas kami lagi. Lembaga tersebut diputus kontrak oleh sekolah diganti dengan lembaga lainnya. Kami merasa menang!

Tapi nampaknya kami tidak pernah dapat untuk melarikan diri dari hati kami masing-masing. Ini dosa yang musti saya tanggung mungkin sampai akhirat nanti. Karena saya belum pernah bertemu lagi dengannya, maka sampai saat ini saya belum dapat memohon maafnya. Untuk satu kisah kecil yang saya sumbangkan bertahun-tahun yang lalu.

Itulah kenapa saya memilih untuk hati-hati jika ada kisah seperti ini.

Ini anak-anak, loh! Mereka butuh perlindungan. Tentu saja! Itu mutlak. Tapi anak-anak belum lihay menempatkan dirinya di posisi orang lain.

Jangan sampai kita menghancurkan hidup orang lain atas dasar fitnah.

Pemikiran yang lain juga adalah mengenai figure guru yang mengadukannya. Beliau guru yang berdedikasi, namun juga orang yang menurut saya suka membesar-besarkan masalah.

Tapi yang pasti, saya harus menyelidiki masalah ini. Khawatir memang benar. Adalah tugas kita semua untuk melindungi anak-anak kita dari, lebih naasnya, tangan orang-orang yang justru seharusnya menjaga mereka.

Selama beberapa minggu kami mengajak bicara anak-anak yang mengadukan permasalahan. Anak laki ditangan oleh Pak Kelas 4, yang kebetulan memang dekat dengan mereka. Bukan hanya beliau sebagai guru dekat dan berkawan dengan anak-anak, dia pun pernah menjadi walikelas mereka sehingga lebih bisa mulus berkomunikasi baik kepada anak-anak maupun kepada walimurid. Anak-anak perempuan saya ajak bicara juga. Dengan alasan yang sama seperti Pak Kelas 4. Pernah menjadi walikelas mereka jadi lebih paham baik kepada anak-anaknya maupun kepada walimurid.

Perlahan-lahan jadi anak-anak tidak begitu ngeh kalau kami berdua sedang menyelidiki suatu permasalahan.

Akhirnya kesimpulan kami berdua memang sebenernya tidak terjadi masalah yang perlu dikhawatirkan. Memang Om OB suka mengelus kepala atau bahu mereka (yang laki) yang ternyata tidak mereka sukai. Bagi Om OB, mereka adalah anak-anak kecil. Om OB-nya masih muda sekali dan tidak begitu mengerti bahwa kelas enam SD itu bukan anak-anak lagi. Mereka sudah besar. Tentunya merasa jengah jika diusap-usap kepalanya seperti itu.

Bagi Om OB, menyayangi anak adalah seperti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Beliau sayang kepada anak-anak, Bu. Saya hanya berusaha menyayangi mereka, kata Om OB. Kalau mereka nakal, dan kadang kepada saya, saya berusaha gak marah. Saya usap-usap kepala mereka sebagai ganti sewot kepada mereka.

Maka saya berikan surat peringatan kepada Om OB. Dan saya pindahkan wilayah kerjanya ke lantai terbawah tempat kantor kepsek dan ustadz, ruang terapi ABK, serta UKS dan Lab-lab berada. Sambil menekankan bahwa dia tidak boleh menyentuh anak-anak lagi. Dia pun harus sadar, bahwa ada kemungkinan orang lain akan berpikir yang lain atas tindakannya. Rasa sayang tidak harus ditunjukkan dengan mengusap-usap punggung atau kepala anak-anak. Dengan memperlakukan mereka dengan ramah dan santun, itu pun sudah cukup. Dengan melindungi mereka dari ancaman pun lebih baik.

Jangan sampai tindakan yang niatnya baik dari kita berakhir prasangka dari pihak lain.

Kepada anak-anak juga kami nasihatkan hal yang sama. Berhati-hati dan waspada kepada orang lain namun jangan sampai kita justru menjerumuskan orang yang sebenernya bermaksud baik kepada kita. Kalau ada prilaku yang tidak kita sukai dari orang lain, maka sebaiknya kita tanya baik-baik maksudnya apa. Atau katakan saja bahwa kita tidak suka dan sebaiknya dia berhenti. Laporkan kepada orangtua atau guru yang nanti akan coba untuk menyelidiki dan menyelesaikannya.

Kami, pihak guru pun berjanji akan lebih mengawasi semua kejadian di sekolah. Jangan sampai di tempat yang seharusnya aman bagi anak-anak ini justru malah ada ancaman yang datang.

Fiuhhhh..

2 thoughts on “Pelecehan atau Prasangka?

  1. Hmm untunglah diinvestigasi ya..
    Kalo langsung main hukum, gak kebayang gimana itu paman OB.

    Soal kejadian di masa kecil dulu dgn bapak Komputer😦 semoga ada penyelesain untuk nuraninya ya mpok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s