Ramadhan 1432 IV: Kehabisan Amplop!

Seperti yang sudah-sudah, tiap tahun, tiap Ramadhan, kami mengadakan bakti social yang dananya diambil dari uang infaq setiap hari jum’at yang dikumpulkan oleh siswa dan guru. Biasanya kegiatan ini begitu penuh perencanaan. Tidak tahun ini. Adanya keterbatasan waktu dan beberapa sebab lain yang gak usahlah disebutkan, maka jadilah kegiatan kita kali ini simple bin gampang. Bagi-bagi amplop!

Saya dan beberapa guru yang berpengalaman dalam hal seperti ini tentu saja langsung was-was. Duh, ngeri banget akan kejadian seperti dulu waktu orang yang datang lebih banyak daripada orang yang diundang. Mana yang gak diundang goalak minta ampun lagi! Pake sewot nanya-nanya kenapa mereka gak kebagian jatah.

Mudah-mudahan tahun ini gak kejadian kayak gitu.

Well, acaranya cukup lancar sebenernya jika masalah kehabisan amplopnya gak dimasukan dalam acara, hehehe…

*doh! Manusiaaaa…. Manusiaaa…

Diawali dari speaker di mushalla tempat acara diselenggarakan.

Dari awal memang Pak RW setempat udah wanti-wanti untuk jangan terlalu heboh. Ini masalahnya yang diundang dapet santunan hanya warga satu RW saja. Sementara RW sebelah gak keundang. Bukan apa-apa, terlalu banyak! Kriteria yang kami sampaikan ternyata mencakup banyak keluarga.

Ini gak terlalu jauh dari ibukota Negara. Bahkan jalan besarnya adalah jalan alternative menuju ibukota Jawa Barat. Sungguh mencengangkan karena selama di tempat saya bahkan bisa sempet menerangkan panjang lebar mengenai rumah tradisional!

Rumah bilik…. Banyak!

Rumah panggung….. Banyak!

Rumah panggung bilik tanpa listrik…. Banyak!

Nah, kembali ke speaker. Tanpa kami sadari, ternyata suara dari mushala tempat kami mengadakan acara, sungguh kencang terdengar di luar. Soalnya Pak Ustadz salah, yang dipakenya adalah justru speaker ke luar yang biasa dipake untuk adzan. Maka kebayanglah, belum sampai satu jam, masyarakat udah datang tambah banyak. Walaupun tidak rame!

Jadi kami juga gak gitu ngeh!

Saat pembagian infaq, yang dilakukan oleh anak-anak kami, ternyata di situlah kekacauan mulai terjadi. Beberapa warga yang sudah menerima amplop keluar dari pintu belakang hanya untuk muter dan balik lagi ke dalam masjid melalui pintu depan. Sampai berkali-kali! Itu belum lagi warga yang sebenernya gak diundang ikut masuk juga.

Dan kami… Yah, kami mungkin terlalu sibuk mengawasi anak-anak sampai gak ada yang sadar bahwa amplop yang kami bawa di dalam kardus sudah semakin sedikit dan akhirnya habis!

Nah, loh!

Padahal sudah dihitung dan dilebihkan sepuluh amplop!

Padahal rencananya selesai disini kita mau ke pesantren yatim sahabat kami.

Dan masih ada sekitar duapuluhan lebih orang yang mengantri di belakang. Pun masih berdatangan beberapa orang.

Ketua panitia…bengong!

Guru-guru…..bengong!

Pak RW……juga bengong!

Yaaa, mau gimana lagi. Akhamdulillahnya adzan dhuhur berkumandang maka dengan dalih bahwa sebaiknya kita shalat dulu, acara pun dipending.

Di belakang, beberapa guru kasak-kusuk. Gimana ini atuh, euy!

Kawan saya yang bukan guru tapi ikutan acara, tau-tau nyeletuk mengakhiri saling tengok-tengokan:

‘Yaudah, gua nyari ATM terdekat. Bisa, kan, ditahan acaranya?’

Daan, semuanya ikutan.

Selepas shalat, ceramah aja dulu!

Penyuluhan, kek, apaan gitu lah!

Anak-anak, gimana?

Anak-anak kelas kecil pulang ajalah! Kasian kelamaaan!

Eh, gua ikut dong nyari ATM.

Gua juga! Nitip ajalah! Nih!

Siapa yang mau ikut patungaaan?

Gua! Saya! Aku!

Abdi! Urang!

Gua, tapi gak bawa atm, euy! Boleh ngutang dulu, gak?

Ih, gua juga gak bawa duit, nih! Ikut ngutang, ya?

Eh, pin gua xxxx…

Eh, gua bank itu yaa.. Pin gua onoh…

Yaudahlah! Pake duit gua dulu aja, deh! Nanti yang mau ikutan ganti aja! Jangan bikin ribet gua!

Hihihi…..

Yayaya… Biar gak terlalu heboh! Dua aja yang pergi!

Eh, satu amplopnya emang berapa?

Yang tadi seratus ribu! Trus gimana?

Oh, baguslah! Jadi gak usah susah nyari pecahan.

Maka akhirnya, acara pun kembali berlangsung dengan damai yang mudah-mudahan, anak-anak gak perlulah tahu masalah ini.

Ngng… Dua kali, nih, kejeblos lobang yang sama. Seakan kita tidak belajar dari pengalaman, ya…

Tapi kata seperti kata kawan, gak usahlah terlalu sewot. Anggap aja ini adalah kesempatan yang diberikan Allah kepada kita semua untuk memberi lebih lagi. Dan belajar lagi.

2 thoughts on “Ramadhan 1432 IV: Kehabisan Amplop!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s