Sekolah dan Mall

Beberapa saat yang lalu, pada kelas saya, salah satu siswa autis kami (laki-laki) tertangkap mata oleh saya sedang asik sendiri menggosok-gosok (maaf) kemaluannya di kelas. Saat itu sedang diskusi, jadi kelas dalam keadaan gaduh pun anak-anak berseliweran sana dan sini.

Sang shadow teacher sedang izin tidak dapat masuk hari itu.

Saya pun melangkah dengan cepat menuju Sang Siswa Autis, kemudian memegang pergelangan tangannya. Dia berteriak. Bukan apa-apa, ini anak nyaris tidak dapat dipegang orang lain. Termasuk ibunya sendiri. Dia akan panic jika ada yang memegangnya.

No, kata saya. Not here, not this time!

Dia menarik tangannya, lalu menampar muka saya dengan buku gambarnya.

Saya mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali sampai dia mengulangi perkataan saya juga.

‘Bathroom?’ tanyanya kemudian.

No! Seru saya. Tidak di sekolah! Tidak boleh!

‘Tidak boleh di sekolah?’

Tidak boleh di sekolah. Tidak boleh di mana pun di sekolah.

‘Tidak boleh di sekolah. Tidak boleh di mall.’ Serunya kemudian. Ini membuat saya terkesiap.

‘Tidak boleh di sekolah, tidak boleh di mall.’

Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu saat Bu Eni bercerita tentang insiden di mall. Ini terjadi bukan pada anak yang ini, namun pada anak kenalannya Bu Eni.

Saat itu sekeluarga sedang berada di mall. Belanja keperluan sekolah dan buku-buku bacaan. Sedang seru-seru becengkrama tau-tau salah satu anak, yang penyandang autis, terdengar berteriak-teriak seru. Kontan sang ortu jadi ngeri. Takut terjadi hal-hal yang gak diinginkan.

Dicari..

Ternyata Sang Anak berteriak-teriak seru kepada poster yang bergambar cewek yang berbadan aduhai dan hanya berpakaian minim.

‘Mau! Mau! Mau!’

Orangtuanya bingung.

‘Jangan! Tidak bagus. Haram.’

Yaaa, tapi bagaimanapun, tetap saja si anak gak bisa dibilangin. Dia uring-uringan di tempat itu gak mau pindah. Pokoknya intinya,mah, dia itu mau cewek itu! Titik!

Solusinya?

Sang Ortu membelikan poster untuk anaknya. Bukan poster yang dipajang itu, tapi poster yang lain. Cewek juga. Cewek cantik juga. Cewek cantik yang seksi juga. Tapi dipilihnya cewek cantik yang berbusana lebih santun, yang ternyata Sang Anak mau menerimanya.

Poster itu dipegangnya erat-erat dengan senyum-senyum sampai di rumah.

Well, benar orang-orang yang luarbiasa yang berkesempatan dititipkan anak-anak special ini, yaa..

4 thoughts on “Sekolah dan Mall

  1. ya, saya juga pernah mengalami hal yang sama, tatkala mengiuti teman terapis autis untuk bertugas..hingga sekarang saya kadang kadangmasih ikut dia…

  2. Saya… tak bisa berkomentar apa-apa…😥
    Saya jadi mengerti dengan gerakan yang menentang penggunaan kata “autis” dalam pergaulan sehari-hari…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s