Harga Kasihan

Meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi tiga orang. Pertama, seseorang yang menanggung tanggungan (hamalah) maka dibolehkan minta-minta hingga mendapatkan kebutuhannya kemudian berhenti. Kedua, seorang tetimpa bala bencana hingga habis semua hartanya, maka bolah meminta-minta hingga mendapat apa yang dapat mencukupi kebutuhannya. Ketiga, seseorang yang benar-benar miskin, dapat disaksikan oleh tiga orang terkemuka dari kaummya bahwa fulan benar-benar miskin. Maka dibolehkan baginya meminta-minta hingga mendapat apa yang mencukupi diri atau memperolah kesederhanaan hidup. Selain dari tiga macam itu dari minta-minta, hai qubaishah hanya merupakan haram yang akan dimakan oleh peminta-minta itu sebagai barang yang haram semata-mata.

(HR Muslim)

Beberapa saat yang lalu, saat pengajian di sekolah, Pak Ustadz kami berkisah mengenai desa pengemis.

Tahukah Anda mengenai itu?

Desa pengemis, menurut Pak Ustadz, itu benar ada. Di salah satu daerah di pulau Jawa. Tentu saja nama desanya bukan itu. Tapi dengan nama itulah Si Desa terkenal. Alasannya? Yaa, kerena memang seluruh penghuni desa tersebut adalah pengemis.

Mereka semua, secara bergantian, pergi ke kota-kota di pulau Jawa untuk menggelandang dan menjadi pengemis.

Apakah kehidupan di desa tersebut memperihatinkan?

Owh, sebaliknya malah. Rumah-rumah penduduknya bagus-bagus. Tidak sedikit yang mewah!

Pak Ustadz pernah menanyakan: apakah kalian tidak merasa bersalah mencari uang dengan cara mengemis?

Mereka justru bingung dengan itu. Mereka tidak pernah merasa apa yang mereka lakukan ini salah. Toh mereka meminta baik-baik kepada orang dijalanan, kemudian oleh orang itu diberi. Dengan ikhlas. Mereka tidak memaksa, merampok, atau mencuri.

Kita bukan koruptor, Pak Ustadz.

Iya, tapi kalian menipu. Kalian membuat diri kalian seakan begitu miskin dan menyedihkan hingga orang kasihan.

Mereka tetap bersikeras bahwa mereka tidak menipu. Toh orang gak pernah tanya berapa buah motor yang mereka punya. Gak pernah ditanya berapa luas rumah mereka. Jadi gak nipu, dong. Justru mereka merasa telah berbuat kebaikan karena menolong orang berbuat baik.

…….

Beberapa hari menjelang lebaran biasanya di depan rumah saya akan muncul beberapa orang yang meminta zakat fithrah. Orang-orang ini gak segan-segan duduk di beranda atau halaman selama beberapa waktu. Dari rumah ke rumah. Meminta zakat fithrah.

Keluarga saya biasanya membayar fithrah dengan dikumpulkan di masjid atau di sekolah untuk yang masih bersekolah. Tapi karena adanya orang-orang yang suka meminta tersebut, dan kami sering tidak enak karena terkadang justru orangnya kami kenal, maka selalu disisakan satu atau dua orang yang akan kami bayarkan melalui mereka. Sebetulnya kami juga tidak setuju. Sebab dengan cara ini, penyaluran jadi tidak merata. Namun, yah, begitulah yang kami lakukan.

Tidak tega.

Beberapa hari menjelang lebaran tahun kemarin, saya yang kebetukan saat itu satu-satunya orang di rumah, memberikan fithrah kepadanya (nya merujuk orang yang minta zakat tersebut) seraya bertanya:

Ibu sendiri, sudah bayar zakat fithrah belum?

Dia kaget. Lalu berkata:

‘Justru saya yang menerima zakat, Mbak.’

Tidak, tidak, kata saya. Zakat fithrah adalah kewajiban setiap muslim yang masih bernafas pada menjelang idul fithri. Bayi yang baru lahir beberapa menit sebelum idul fithri pun harus dibayarkan zakatnya. Begitu pula orang miskin, harus membayar zakat juga selain tentunya dia berhak mendapatkan zakat.

Apakah ibu membayar zakat?

Dia diam..

Saya diam juga…

…..

Di depan rumah ibu saya selama beberapa waktu ini selalu nongkrong seorang bapak pemulung dengan anaknya yang masih usia SD. Biasanya mereka duduk, dan melihat ke arah pintu rumah kami dengan pandangan mengharap.

Jika saat itu tidak ada ibu di rumah, kami sering membiarkannya saja. Tapi ibu saya adalah orang yang tidak tegaan. Maka beliau selalu keluar rumah pada akhirnya dan memberikan dua bungkus makan siang dan air minum. Kadang ditambah uang sekedarnya.

Kenapa kami membiarkan saja?

Bapak pemulung itu pada awalnya sendirian. Hampir tiap hari dia datang mengorek-orek sampah di lingkungan kami. Lalu pada suatu hari, yang nampaknya saatnya tepat sekali, Sang Bapak datang bersama anak kecilnya. Kebetulan di rumah kami sedang banyak makanan sisa hajatan. Maka ibu membungkuskannya untuk mereka bersama air minum dan uang.

Kemudian, Si Bapak mulai selalu datang dengan anaknya. Dia duduk di depan rumah kami dengan pandangan yang mengharap ke dalam rumah.

Suatu hari, seraya memberikan bungkusan, yang ajak bicara Sang bapak:

Saya: Umur adikn ini berapa, Pak?

Dia: Delapan tahun.

Saya: Loh, kok, gak sekolah sih? Kok malah dibawa-bawa kerja gini.

Dia: Habis gimana.. (muka melas) Gak punya duit buat bayaran…

Saya: Sekolah negeri dari SD sampai SMP sekarang gratis, Pak. Bukunya juga gratis. Dan kalau bapak gak punya uang buat beli seragam, coba silahkan bicarakan di sekolah. Saya yakin, tidak seperti kata  TV, para guru atau kepala sekolah kita banyak orang baik yang ingin membantu dan mencarikan solusi.

Dia: Gak punya ongkosnya, Dek.

Saya: Bukannya setiap kelurahan atau desa itu ada banyak SDN? Anak di sekitar rumah saya di Bogor, itu jalan kaki dari jam 6 pagi menuju sekolah. Di TV itu, di berita, ada anak jalan dari jam 4 pagi tiap hari sambil gendong adiknya buat sekolah.

Dia: Tapi, kan, untuk sekolah butuh uang jajan.

Saya: Salah satu murid saya, Pak, ada yang setiap hari hanya membawa nasi ke sekolah. Makan siang. Lauknya disumbang oleh anak-anak yang lain. Atau minta jatah sisa lauk guru di ruang makan guru. Tapi kadang-kadang dia malu. Dia makan saja nasi itu dengan kecap. Sepanjang sekolah saya selepas ayah meninggal, saya pun tidak pernah punya uang saku. Uang yang diberikan orangtua saya bahkan kadang tidak cukup hanya untuk ongkos ke sekolah. Dan saya punya kawan baik yang sama dengan saya. Bahkan lebih susah lagi. Dia terkadang mengamen sepanjang perjalanan pergi dan pulang sekolah hanya untuk, minimal, bisa menumpang bis dan angkot dengan gratis.

Saya tahu, bapak sengaja bawa anak ini supaya orang kasihan, kan?

Kalimat itu tidak saya katakan kepadanya.

2 thoughts on “Harga Kasihan

  1. Terdapat garis perbedaan yang tebal antara Miskin dan Malas …
    mmm malas mungkin terlalu kasar …
    lebih tepatnya … kepingin yang enak saja … tidak ingin repot …

    Saya tidak tau harus bersikap seperti apa
    Saya pun tidak tau harus bagaimana …

    Yang jelas saya selalu berharap … agar etos kerja masyarakat kita ini akan semakin membaik …

    Salam saya Bu Al

  2. Dialog yang cerdas… Tapi saya belum tentu “berani” melakukannya hehehehe…
    Saya gemes banget kalo liat para joki three in one yang bawa bayi2 kecil… Teganyaaa….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s