Menghadapi Keluhan

‘Jika Ananda menceritakan atau mengadukan beberapa hal yang kemudian menjadi bahan pertanyaan, dipersilahkan untuk membicarakannya kepada walinya, ya, Ayah dan Bunda. Mohon untuk tidak serta merta menelan mentah-mentah kemudian menjadikan itu sebagai bahan penilaian. Namanya juga anak-anak, mungkin sedang marah atau kesal. Perlu diingatkan juga bahwa memang seperti inilah didikan di sekolah semi militer. Anda sekalian sudah tahu dan menyetujui peraturannya. Maka sekali lagi mohon untuk membicarakannya terlebih dahulu. Saya dapat dihubungi kapan saja. Namun kalau telpon dari Anda tidak kunjung saya terima, saya minta maaf. Mungkin saya sedang tidak dapat menerimanya. Anda dapat mengirimkan SMS atau e-mail kepada saya.’

Itu kurang lebih yang dikatakan oleh walinya adik saya saat pertemuan orangtua murid beberapa saat yang lalu. Kebetulan saya pun menghadirinya. Menurut saya sang wali bersikap tegas, namun juga mengesankan bahwa dia orang yang terbuka untuk menerima masukan ataupun kritik dari walimurid.

Seni berbicara itu memang rada-rada rumit. Ini tau-tau terangkat kembali saat saya menerima kisah dari salah seorang rekan dari sekolah yang berbeda. Sedang ada cerita seru di sana. Diawali dari ketidakpuasan orangtua murid saat dia mengeluhkan tentang aturan yang diterapkan oleh salah seorang guru, yang nampaknya terlalu berlebihan untuk anaknya.

Itu tentu hal biasa yang dialami oleh para guru jaman sekarang. Mendapat protes atau pertanyaan tentang jalannya kelas maksud saya. Apalagi di sekolah swasta. Bagaimana tidak, para orangtua yang kami hadapi kebanyakan adalah orang-orang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau minimal sederajat dengan para guru. Dan mereka peduli, serta sangat luas tentang bagaimana pendidikan apalagi untuk anaknya sendiri.

Di sekolah, guru matematika berhadapan dengan orangtua murid yang adalah seorang professor matematika. Seorang lulusan S1 berhadapan dengan orangtua murid yang bergelas S3. Seorang guru berhadapan dengan dosen di fakultas keguruan terkemuka. Maka seni berbicara itu mutlak diperlukan.

Salah satu cara gampang yang sampai saat ini saya lakukan adalah dengan buku dan pulpen. Apapun keluhannya, dan walaupun kita sudah kemukakan alasan, adalah biasa bahwa alasan kita tidak kunjung memuaskan. Maka jika itu terjadi, saya akan mencatatnya di depan sang ortu. Kemudian mengatakan bahwa ini saya catat untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan saya ke depannya.

Sederhana namun cukup ampuh.

Dan memang terkadang orang hanya ingin agar keluhannya di dengarkan atau dianggap serius. Biasanya keluhan ini adalah perpanjangan dari keluhan siswa sendiri atas apa yang terjadi di sekolah. Bisa hal yang biasa saja, bisa juga hal yang serius. Toh bagaimanapun selalu ada ketidaknyamanan saat terjadi satu perubahan pada pola. Bagi anak-anak usia SD, perubahan sang walikelas pun butuh waktu penyesuaian yang terkadang gampang, namun bagi beberapa anak memang butuh waktu yang lebih panjang.

Maka hindari berdebat panjang lebar. Itu anaknya yang sedang dibicarakan.

Maka kisah yang diceritakan teman saya diawali hanya keluhan dari orangtua murid yang merasa prihatin atas anaknya yang terlihat agak tertekan dengan aturan yang ditetapkan oleh sang guru. Saya tidak tahu bagaimana gaya bicaranya dan memang mungkin saja bernada agak memerintah yang nampaknya membuat sang guru menjadi agak kesal dan bersikap defensive. Kemudian keluarlah kalimat yang kemudian membuat sang orangtua jadi marah:

‘Saya hanya ingin anak-anak disiplin. Kalau Ananda gak terima, dan walimurid juga tidak terima, ya, tidak apa-apa. Kalau begitu aturan itu tidak akan saya berlakukan kepada ananda.’

Nah, apakah itu terlihat seperti seorang guru yang tegas? Atau seseorang yang enggan menerima masukan? Dan silahkan tempatkan diri Anda sediri pada posisi sang ortu saat menerima kalimat seperti itu. Apa yang Anda rasakan?

Apa itu maksudnya guru ini jadi tidak akan memerdulikan anak saya lagi?

Itu sudah cukup buruk. Tambah memperburuk keadaan lagi ketika sang guru mengangkatnya ke dalam kelas. Rekan saya sendiri tidak tahu apa sih maksudnya sang guru musti mengangkat masalah itu ke dalam kelas dan apalagi yang dihadapannya ini bukan anak kecil lagi. Maka jelas itu hanya akan membuat sang siswa merasa malu karena dianggap cemen oleh teman seluruh teman sekelasnya. Walaupun seluruh temannya tidak menyatakannya kepadanya. Dia tetap merasa malu bahwa kesulitannya telah dia keluhkan kepada orangtua yang datang ke sekolah untuk protes kepada walikelas. Maka sang siswa mulai merasa tertekan. Kemudian orangtua pun naik pitam.

Saya setuju dengan pendapat sang guru bahwa aturannya sesungguhnya wajar. Mungkin memang sang anak yang butuh penyesuaian. Mungkin juga memang orangtuanya yang agak terlalu khawatir dengan keadaan sang anak yang menurut anggapan mereka jadi tertekan sementara yang terlihat di sekolah, anaknya okey-okey aja, kok! Hanya seperti semua manusia yang lain,kadang kita hanya ingin mengeluh aja suatu saat. Tapi kalimat yang dikemukakan itu memang suatu kesalahan yang fatal. Pemilihan kata yang sungguh salah. Tindakan yang salah pula membukanya di dalam kelas.

Maka menurut saya, kita sebagai guru, yang notabene toh menghadapi, bukan hanya satu, tapi puluhan anak lain di usia ini, tetap bukan alasan untuk menyepelekan keluhan satu anak. Atau satu orangtua murid.

‘Itu anak satu-satunya. Pertama kali ngadepin anak remaja. Gua udah banyak. Anak gua udah pada remaja pula.’

Okeh. Tapi itu anaknya. Toh kita juga akan melakukan apapun, maksud saya apapun, demi kepentingan anak kita, kan? Orangtua Macam mana sih yang bisa dengan tenang tidur nyenyak saat tahu bahwa anaknya merasa tidak nyaman di sekolahnya?

Maka apa sih susahnya untuk mundur selangkah untuk sekedar mengatakan sesuatu yang menentramkan hati seperti, ‘Baik Bunda, ini akan saya catat untuk jadi bahan pertimbangan saya. Mungkin memang saya agak tergesa-gesa untuk menetapkan aturan yang jauh lebih ketat dibanding apa yang Ananda terima di sekolah yang dahulu. Saya akan mengevaluasi lagi semuanya. Saya berterimakasih Bunda datang kepada saya dan memberi informasi dan masukan seperti ini kepada saya. Dan untuk sementara, mohon agar Ananda diberi dukungan semangat, ya, Bunda. ’

Toh ini kan bukan tentang menang atau kalah, kan? Bukan ajang lomba debat.

3 thoughts on “Menghadapi Keluhan

  1. Hmmmm
    Kalimat defensif si guru itu hanya cocok diterapkan di tempat saya bekerja
    “Kalo lu gak suka aturan maennya, ya udah cari yg laen”😛
    End….! Hehehe

  2. Aku juga mencoba belajar untuk bisa berbahasa yang baik dengan para wali murid. Istilah Sundanya mah ‘malapah geudang’ heula lah, meskipun intinya kita tetap ingin keukeuh dengan peraturan yang sekolah/kita tetapkan, tapi ortu juga harus tetap ngerasa dapat pelayanan prima dari kita karena keluh kesahnya kita dengar…. *harus merangkap jadi guru bk juga kayaknya bu Al…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s