Pasti pertamanya Stres

Mari kita sebut saja anak ini Adel. Anggota kelas tiga ikhwan (laki). Anak yang agak dijauhin oleh seluruh anak yang lain.

Sejak awal juga kenyataan ini menjadi bahan pemikiran. Gimana tidak, ada anak yang jelas-jelas, secara terbuka, dijauhi oleh seluruh kelasnya. Hari berjalan dan kami pun mulai ‘ngeh’. Ini keadaannya emang agak ruwet! Anak ini dijauhin dengan alasan. Bukan karena anak ini suka membully kawan, tapi karena prilakunya memang suka bikin ribet teman-temannya.

Suatu kali salah satu anak protes saat saya mengambil namanya untuk seorang tokoh dari kisah kecil yang saya ceritakan. Kami membicarakan sungai saat itu, dan saya sedang menayangkan gambar tentang sungai sebagai jalur transportasi. Cerita kecilnya: anak itu ceritanya mau main ke rumah temannya, si Adel, tapi tidak menggunakan transportasi darat melainkan melalui sungai. Naik perahu.

Anak itu protes dengan cara membisik di telinga saya:

‘Ibu, saya mau jadi ceritanya siapa aja, deh! Jadi pengedar narkoba juga gak apa-apa. Kan ceritanya doang. Tapi jangan bikin saya jadi temennya Adel, dooong…’

Astaghfirullah.. Bahkan dalam cerita pun ternyata gak ada yang mau jadi temennya si Adel.

Well, pasalnya yang jelas terlihat adalah si Adel ini masih cengeng untuk ukuran anak kelas 3 SD. Suka ambek-ambekan. Dikit-dikit bunyi:

Bu Guruuuuuuu…

Dengan u panjang itu bernada turun naik.

Temen-temennya tidak suka.

‘Emangnya Bu Guru itu Cuma punya kamu!’ kata salah satu anak pada suatu kali. ‘Emangnya di kelas Cuma kamu doang yang pengen diperhatiin.’

Beberapa saat yang lalu, pada bulan Ramadhan, Adel ini marah kepada saya. Pasalnya, saya tidak memperbolehkannya keluar kelas untuk main. Dia melanggar aturan saya dengan membuat ribut di kelas. Ngambek uring-uringan di lantai. Dan salah satu kesepakatan kami di kelas 3 adalah menyampaikan sesuatu harus dengan tenang dan baik-baik. Gak ditolerir lagi berkomunikasi dengan cara ngambek.

Dia melanggarnya. Maka harus tinggal di kelas selama istirahat dan menulis arti suratpendek. Dengan tulisan tegak bersambung. Anak ini gak terima. Maka dia mengancungkan jari tengahnya kepada saya.

Tentu rekan satu kelasnya terdiam semua.

‘Ibuuuu…’ kata salah satu anak. ‘Itu kan gak sopan..’

Maka kata saya:

Turunkan tanganmu Adel. Itu tidak sopan. Tidak boleh diulang lagi.

Hari Senin, Adel ini bikin ulah lagi.

Sepanjang pelajaran dia memang terus mengeluh kepada saya. Tapi karena dia mengeluh dengan bahasa bayi (ngnggng..ibu ngabgnabg mulut monyong) yang saya sama sekali gak mengerti dia bicara apa, maka tidak saya indahkan.

Dua kali saya mengingatkan di kelas:

Nak, kalau kalian ingin menyampaikan sesuatu, bilang yang jelas. Pakai bahasa Indonesia yang baik dan sopan. Bukan bahasa balita. Ibu tidak mengerti dan tidak mau berusaha mengerti. Kalian sudah kelas tiga, sudah saatnya bicara yang baik, menyampaikan sesuatu dengan baik. Bukan merengek. Ibu gak mau mendengarkan rengekan.

Tapi mungkin Adel tidak mendengarnya. Dia terus mengeluh dengan manja. Sampai kemudian, pada saat diskusi yang cukup ramai, salah satu anak maju ke depan.

‘Ibu, Adel ngejulakin saya.’

Maksudnya si Adel mendorong kepalanya dengan jari tangannya. Tidak menyakitkan secara fisik, tapi tentu saja menyakiti hati. Anak ini tersinggung.

Belum saya balas dengan jawaban, si Adel sudah maju dan berkata:

‘Lagian dia maju terus. Aku kesempitaaaaaaaaaaan.’

‘Kamu kenapa gak bilang ke aku kalo kesempitan?’

‘Aku udah bilang terus sama Bu Guru, tapi Bu Gurunya diam aja.’

Ooow, itu toh yang sedari tadi digumamkan si Adel.

‘Makanya kamu itu gomong yang jelas. Aku aja gak ngerti kamu ngomong apa. Tau-tau berdiri terus ngejulakin aku. Itu menyebalkan tau.’

‘Aku kan kesempitaaaaaan, tauuuuuu…’

Maka saya menghentikan perdebatan itu. Sebelum pulang saya membahas tentang tindakan-tindakan yang dapat membuat orang lain tersinggung. Memberikan jari tengah, menjulaki orang, atau mengumpat atau mengatai orang. Jika itu terjadi lagi di kelas saya, maka anak itu akan saya kirim kepada guru BK. Mengerti?

‘Iyaaa….’

Kalian menerima aturan ini? Setuju gak?

‘Setujuuuu…’

Ada yang keberatan, gak? Tunjuk tangan sekarang sebelum ibu mengetuk palu.

Saya memang membawa-bawa palu kecil dari kayu. Tadinya dipergunakan untuk kelas-kelas PKN jika kita sedang mempraktekan sidang MPR atau yang sejenisnya. Kemudian saya pergunakan sebagai tanda keputusan pada setiap aturan di kelas-kelas saya.

Maka bersuara, si Adel.

‘Iya, tuh! Jangan suka gitu. Gak sopan, tauuuu….’

Saya dan seluruh penghuni kelas 3 ikhwan tepokjidat.

Astaga! Ini anak ngerti, gak, sih kalo saya justru sedang mengomentari dan membuat peraturan atas perilakunya dia.

Kemudian sebelum kelas berakhir, saya membagikan hasil ulangan. Tidak ada yang boleh jalan-jalan selain yang dipanggil, kata saya. Jika merasa namanya dipanggil, silahkan maju ke depan untuk mengambil bukunya.

Okeh.

Satu-satu anak maju ke depan.

Sampai saat bukunya Adel yang saya pegang, dan saya panggil dia.

Anak itu hanya menyandar dan mengulurkan tangan.

‘Manaa…’

Silahkan ambil kemari bukunya, Nak.

‘Aaa, ibu aja yang kesini, napa?’

Semuanya bengong.

‘Ih, Adel, kamu ambil buku kamuuuu…’ anak-anak yang lain ribut semua.

‘Yaelaaaah,’ katanya sambil berdiri dan beringsut menyeret tubuhnya ke depan. ‘Males amat, sih, Bu Guru. Ngasih buku aja gak mau.’

*ngelusdada

Saya masih termelongo hoples saat salah satu anak yang nampaknya merupakan anak paling dewasa di kelas ini tertawa kecil. Anak itu dari tadi hanya duduk menyandar dan tertawa geli sebagai komentar atas apa yang terjadi di kelas.

‘Gak usah heran, Bu.’ Kata anak itu. ‘Bu Kelas 3 Ikhwan juga pertamanya setres sama Adel. Emang Adel itu suka gak nyadar kalo sebenernya dia yang lagi ditegor.’

Owh, gitu, yaa….

*meringis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s