Kaki dari Langit

Jadi beberapa saat yang lalu saya memutuskan pindah tempat tinggal. Menjelajah ke sana kemari dan, hai, mencari rumah yang tepat ternyata memang jauh ngejelimet daripada mencari TV, kulkas, atau motor tentunya. Gak bisa sekedar duduk kemudian berselancar di dunia maya membandingkan satu dengan yang lain lalu berdiskusi dengan kawan. Harus beneran keliling. Sesuatu yang paling males saya lakukan.

Memudahkannya, di tempat saya tinggal ini kalau melihat dari persoalan rupiah mungkin masih banyak keleluasaan. Bukan di kota besar. Bahkan dibilang kota kecil pun bukan juga. Jadi gak begitu masalah. Tapi tetep jadi keruwetan tersendiri karena nampaknya untuk menemukan rumah yang tepat, kita harus jatuh cinta dulu kepadanya.

Dan saya pun bukan tipe orang yang punya standar tinggi dalam sesuatu. Sebuah tempat tinggal yang nyaman, kalau bisa agak sepi, itu sudah cukup.

Kemudian saya nyasar pada suatu rumah, dan jatuh cinta kepadanya. Singkat cerita saat udah sedekaaaaat banget untuk ‘okey’, dua orang mengemukakan keheranan.

Rambo.

Hey, mungkin saya hanyalah anaknya ayah saya yang berpendapat bahwa rumah, seperti juga tanah, adalah tabungan yang paling okey. Tidak akan turun harganya. Bahkan jika kau memutuskan untuk tidak menempatinya, atau tidak dapat menempatinya, kau selalu bisa menjualnya kembali atau menyewakannya. Harganya akan selalu naik.

Tapi pernyataan adik saya yang kemudian membuat saya berpikir ulang.

‘Kalau mau menyicil rumah, mendingan pastiin dulu barang di dalamnya udah lengkap. Kayaknya itu rada berat kalo sendirian. Soalnya gua bilangin, yah, udah memutuskan untuk menyicil rumah, yang lain gak akan bisa kebeli lagi. Emang berapa penghasilan lo sebulan?’

Damn! Kalo udah nyepet masalah penghasilan.

Maka saya memutuskan untuk, sekali lagi, mempending (memending?) keinginan untuk itu. Tapi teteup pindah. Ngontrak!

Petak tiga!

Tidak diragukan, inilah pertama kalinya saya tinggal sendirian di rumah kontrakan petak tiga. Sesuatu yang saya yakin banyak orang sudah menjalaninya.

Cukup menyenangkan juga. Sesuai dengan apa yang saya inginkan karena saya bukanlah tipe orang yang selalu ingin bersama orang lain. Maka sebulan ini nampaknya saya sangat menikmatinya. Saya punya tempat di mana saya bisa beneran sendiri jika suatu saat saya ingin sendirian, tapi juga saya selalu punya tempat bersama orang lain jika saya menginginkannya suatu saat.

Lucunya saat memutuskan pindah ke sini sebetulnya saya sedang tidak mencari tempat untuk tinggal, tapi tempat untuk sekre resminya PKK dan posyandu. Well, gak bisa selamanya itu barang-barang menetap di rumahnya Eni pula. Jadi kami menemukan sebuah rumah kontrakan tepat di depan sebuah lapangan yang teduh di tengah semacam kebun yang bersih dan menjadi tempat main anak. Tempat yang nyaman sebagai posyandu. Kontrakan itu petak tiga dan ada tiga rumah, hanya satu yang telah terisi, lalu Anda bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Tempat les anak-anak sekarang ikutan pindah ke sekre tersebut. Jadilah tempat hangout kita ikutan pindah juga.

Bu Dokter udah bilang, sih, kalau tempat yang ini enggak sepenuhnya aman. Banyak kejadian di tempat itu. Hati-hati kalau beneran mau nempatin sekre di situ. Suka ada yang kecurian.

Tapi kami kira, hey, ini pun kotrakan bulanan. Kita bisa pindah kapanpun kita mau jika memang tidak nyaman.

Beberapa saat yang lalu ada kejadian. Pada malam seperti ini, saat saya duduk di meja kerja dan menghadapi laptop. Saya kira itu malam yang tenang yang biasa seperti halnya malam-malam yang lain. Sepi dengan suara jangkrik (beneran) berderit sana-sini. Suasana yang gak bisa di dapatkan di Jakarta tentu saja.

Kemudian saya mendengar suara berisik dari kamar ruang belakang tempat dapur berada. Refleks saya menoleh, lalu berteriak.

Sumpah! Beneran ngagetin!

Ada kaki menjulur dari atap menerobos triplek langit-langit dapur saya.

GIMANA ADA KAKI MENCOBLOS LANGIT-LANGIT RUMAH SAYA!

Mari kita kembali ke beberapa menit yang lalu. Kejadian di rumah sebelah yang gak saya hiraukan.

Jadi tetangga saya di sebelah ini perempuan juga. Dua orang perempuan yang sama-sama bekerja di salah satu minimarket 24 jam. Itu malam lewat jam 10. Nampaknya kedua perempuan ini yang jarang sekali ada bersamaan di rumah mereka (shift jaganya selalu beda nampaknya) dan malam itu, salah satu dari mereka baru saja pulang dan akan pergi tidur saat dia mendengar ada suara-suara mencurigakan di atap rumahnya.

Tapi, yah, namanya cewek yang biasa jauh dari rumah dan tinggal secara independen jauh dari orangtua di perantauan (uhuy) tentu saja gak sepengecut itu. Alih-alih terpaku ketakutan, dia ambilah itu senter kecil dan nekad membuka langit-langit tempatnya yang memang bisa di geser buka itu langsung mengarahkan senter ke atas seraya berpura-pura menelpon polisi. Terdengar suara gabruk-gabruk yang ternyata tidak begitu saya dengar.

Biasalah, lagi kosentrasi mengetik mana dengar apa-apa, ya, kan?

Menyadari bahwa memang ada orang di atap rumahnya dan orang itu lari, ini cewek makin preman pula. Dia ambil bangku dan tambah nekad mengejar si penyusup dengan cara dia ikut naik ke langit-langit rumah. Mungkin seru juga kejar-kejarannya (saya jadi ngebayangin adegan film) sampai itu penyusup gak sadar masuk ke langit-langit rumah (rumah cewek2 minimarket, sekre, baru rumah saya) saya kemudian dia terpeleset jatuh. Kakinya amblas menembus ke dapur saya.

Saya berteriak.

Tambah panic kan tu orang.

Cewek di sebelah tereak-terak menggedor pintu saya.

‘Tarik, Bu Guru! Tarik! Itu orang kurang ajar ngintipin saya!’

Hah?

Selanjutnya, yaudahlah penduduk desa jadi heboh keluar rumah. Itu ibu-ibu  aneh diringkus bapak pemilik kontrakan. Dihakimi masa!

‘Lo bikin malu gua, lo!’

Buyet!!!!

Yang saya kira kehidupan di tempat ini bisa lebih tenang dan membosankan tanpa banyak kejadian.

Dari hasil tanya-tanya, sih, katanya itu dia memang rada gak sehat pikirannya. Dulu pernah dipasung, tapi kemudian sudah dilepaskan dan dibawa berobat ke RSJ. Tapi memang suka kambuh-kambuhan gitu.

Dan bagaimana dia bisa masuk ke dalam langit-langit kami? Yah, nampaknya dia menyusup naik ke atas atap. Semuanya sudah diperbaiki lagi. Dapur saya yang bolong serta genteng dan semuanya.

Perempuan itu (ternyata perempuan pelakuknya, bok!) nampaknya memang hobi naik-naik kea tap rumah orang kalau malam dan sedang tidak nyaman. Dan malam itu, dia naik kea tap kami dan tapa sengaja ngejeblos masuk ke dalam langit-langit.

Lalu setelah itu, apakah saya takut kembali ke rumah? Apakah kami takut?

Uniknya, enggak juga tuh! Cewek-cewek minimarket itu nampaknya sama sablengnya juga, ya… Udah kejadian, tapi rasanya biasa-biasa aja, tuh! Dan kalau mereka juga hepi aja, maka kayaknya saya pun gak punya alasan untuk ngeri juga.

Tapi, seperti kata kawan-kawan, kalo kejadian lagi nampaknya saya harus mulai mencari tempat tinggal yang baru.

*sigh

2 thoughts on “Kaki dari Langit

  1. Dilema
    Kalo orang agak kurang ‘sehat’ trus dipasung ya kasian
    Tapi gak dipasung nyeremin juga hmmm
    bu, sediain raket nyamuk deh di rumah
    dwi fungsi Bu, buat nyamuk dan tamu tak diundang hehe

    ah kita sama nih, belum ada rejeki untuk nyicil rumah, kontrak maning, kontrak maning🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s