Perda Jakarta No. 25 tahun 2005

Ada yang tahu isi perdanya tentang apa? Yup! Mengenai larangan merokok di tempat umum.

Tahukan apa yang akan dikatakan oleh seorang perokok jika kita menegur mereka? Biasanya hanya seakan omongan angin lalu aja. Gak ngaruh apa-apa. Tapi bagaimana jika kita kemudian menegur dengan bawa-bawa peraturan? Maka jawaban yang biasa adalah: Yaudah kenapa pemerintah gak sekalian aja nutup pabrik rokoknya sekalian?

Kalau kita pake dalil agama, lebih gaswat lagi. Langsunglah keluar semua kisah sejarah mengenai jaman nabi gak pernah ada larangan dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan jika kita pakai dalil qiyas. Maka pada akhirnya, hoples pula.

Saya cukup beruntung bekerja pada lingkungan dengan orang-orang yang bekerja di dalamnya cukup peduli pada sekitar. Maka kita semua hampir gak pernah terganggu dengan asap rokok. Gak ada guru yang merokok di sekolah…lagi. Pada saat ini. Walaupun perjalanan untuk itu rada lama juga.

Dulu di lingkungan sekolah ada orang yang merokok. Dia adalah Bapak Ketua Harian. Memang jarang ada di sekolah, tapi begitu dia nangkring, maka terlihatlan sosoknya yang bergaya cuek dan asik (memang orangnya asik) duduk di pelataran sekolah sambil mengebulkan asap rokok.

Rasanya begitu cuek.

Itu sudah lama juga. Pada masa awal-awal saya bekerja sebagai guru. Dan saya tahu, menyaksikan, bahwa saat-saat rapat di kantor dinas atau pelatihan, hampir semua laki-laki, yang pastinya guru, dengan asiknya merokok.

Sampai ruangan berasa sesak.

Tapi waktu itupun saya tidak begitu mempersoalkan dan mempertanyakan tentang itu. Yah selain saat itu saya masih merokok juga, walaupun hanya di rumah pada jam-jam tertentu saja, nampaknya saya masih terbiasa dengan suasana rapat-rapat dan pertemuan di organisasi jaman kuliah dulu saat hampir semua peserta yang memang didominasi laki-laki itu merokok. Terkadang sampai ruangan berasa berkabut ataupun membiru saking hebohnya itu asap menumpuk.

Maka saya menganggap itu pun angin lalu.

Dan sampai saat ini, rapat di dinas selalu diwarnai dengan asap rokok yang sering membuat saya bertanya-tanya. Ini guru-guru apa gak malu, ya? Iya, sih, satu ruangan kan guru semua gak ada muridnya. Tapi di ruangan lain (rapat selalu berlangsung di salah satu SD negeri) masih penuh anak-anak yang pastilah mereka bisa melihat dan merasakan sesaknya juga.

Well, kembali ke pada masa lalu itu.

Sang Bapak Ketua Harian berhenti pada suatu kali. Dia tidak terlihat merokok di sekolah lagi. Bukan karena dia berhenti. Tapi karena pada suatu hari, Bu Dokter, yang punya sekolah juga adiknya si Bapak Ketua Harian, menempel stiker tanda dilarang merokok segede gambreng tepat di belakang mejanya Pak Ketua Harian.

‘Biar si Anton (nama samaran) liat. Bete banget gua! Di lingkungan sekolah masih juga nekad ngerokok!’

Itu ternyata ampuh! Pak Ketua Harian gak pernah lagi terlihat merokok di sekolah. Kalau di rumahnya sendiri sih mana kita peduli, yaa…

Saya kemudian mengikuti jejaknya. Tiap kali saya melihat stiker tanda dilarang merokok pasti saya beli, untuk saya tempel-tempel lagi di sekolahan dan dimanapun yang saya mau (Orang iseng!). Sebab bukan hanya Pak Ketua Harian yang merokok, saya tahu para OB dan pada ngerokok. Mereka memang gak pernah terlihat merokok saat ada anak-anak, tapi mereka ini kan tinggalnya di dalam sekolah. Terkadang bekas-bekas abu rokok semalamnya lupa pula mereka buang. Suka teronggok begitu saja dipojok atau salah satu ruangan.

Sekarang sudah tidak ada cerita kayak gitu setelah Bu Dokter marah besar dan memaki-maki mereka. Gak ada yang berani lagi.

Kemudian sekolah menjadi tempat yang bebas dari asap rokok, walaupun saya tahu bahwa beberapa guru lelaki adalah perokok. Biasanya selepas makan siang, selama beberapa belas menit, guru-guru ini menghilang. Suatu kali salah satu rekan berkata bahwa selepas makan siang, saat anak istirahat itu, mereka biasanya merokok.

Di mana?

Di rumahnya Pak Satpam.

Kediaman Pak Satpam adalah sebuah rumah kecil di sebuah pojokan sekolah. Di sana biasanya mereka berkumpul dan ngebul satu dua batang sebelum kembali ke kelas.

Saya kira, yah, paling enggak asapnya gak ngeganggu kita dan gak keliatan anak-anak.

Sekarang mereka sudah tidak melakukan itu lagi. Bener-bener sudah tidak ada yang merokok di lingkungan sekolah pada siang hari. Guru-guru yang biasanya merokok pun sudah tidak melakukan itu lagi. Gara-garanya, mereka ditegur oleh segerombol anak kelas 5 SD.

Diawali dari pembahasan Peraturan Pusat dan Daerah pada suatu kali. Dan kami membahas beberapa perda yang telah ada di beberapa provinsi di Negara ini. Gak disangka, pada saat diskusi itu, anak-anak tertarik sekali dengan perda larangan merokok di Jakarta. Kami pun pergi ke lab computer untuk mecari dan mencetak isi perdanya secara utuh. Dan yang mereka benar-benar tertarik adalah pasal 8. Saya mengutipnya di bawah:

Bagian Ketiga
Tempat Proses Belajar Mengajar
Pasal 8
(1) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat proses belajar mengajar, wajib melarang kepada peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan serta seluruh unsur sekolah lainnya untuk tidak merokok di tempat proses belajar mengajar.
(2) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat proses belajar mengajar wajib menegur dan/atau memperingatkan dan/atau mengambil tindakan kepada peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta unsur sekolah lainnya apabila terbukti merokok di tempat proses belajar mengajar.
(3) Peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta seluruh unsur sekolah lainnya dapat memberikan teguran atau melaporkan kepada pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat proses belajar mengajar apabila terbukti ada yang merokok di tempat proses belajar mengajar.
(4) Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat proses belajar mengajar, wajib mengambil tindakan atas laporan yang disampaikan oleh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan serta seluruh unsur sekolah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

Ayat yang saya tebalkan itulah yang menarik mereka.

‘Jadi kita boleh, Bu, menegur orang yang merokok di sekolah?’

Menurut perda ini, boleh banget. Kalau kalian melihat ada guru, satpam, OB, supir, atau bahkan pemilik sekolah dan orangtua murid merokok di dalam lingkungan sekolah, kalian boleh menegur orang yang bersangkutan. Sudah ada perdanya, loh, berarti ini bukan hanya masalah pantas atau tidak pantas, mendidik atau tidak mendidik, tapi ini sudah melanggar peraturan daerah.

Beneran, saat itu saya sama sekali gak ngeh bahwa mereka itu punya niat untuk menghentikan aktivitas merokok para guru di dalam kompleks sekolah. Memang di dalam kebun jauh di sana, tapi kan tetep di dalam kompleks sekolah. Saat itu saya tidak tahu kalau anak-anak tahu, dan beberapa tidak sengaja melihat aktivitas tersebut.

Maka pada hari itu juga, Ba’da Dzhuhur, beramai-ramailah segambreng anak-anak dengan membawa kertas yang berisi printout perda larangan merokok di tempat umum ini mnuju rumah Pak Satpam. Mereka cerdik sekali. Tidak menegur dengan bilang: Pak, dilarang merokok di sekolah.

Tidak.

Mereka hanya berdiri ramai-ramai di depan rumah, lalu membacakan keras-keras, secara bergantian isi perda tersebut.

Kebayang, gak, gimana gamangnya suasana tersebut?

Ahahaha…

Dan anak-anak ini hanya membacakan, lalu pergi beramai-ramai.

Kemudian, tidak ada lagi yang merokok di sekolah. Walaupun saya tahu bahwa para guru juga tahu kalau aturan itu gak berlaku di sini. Lah, wong, ini bukan Jakarta tapi Jawa Barat. Jadi perda itu kagak ngaruh sebenernya.

Tapi siapa sih yang gak malu berdebat mengenai itu dengan anak-anak? Dengan muridmu sendiri?

Kalau ada yang sampai ngajak berdebat mengenai itu, beneran deh KETERLALUAN!

Maka gak ada yang merokok lagi di sekolah.

Di sekolah, yaa…

Karena saya tahu beberapa guru masih menghilang selepas makan siang Ba’da Dzuhur.

Mereka pergi ke warung kopi di sudut jalan untuk beberapa menit.

*sigh

5 thoughts on “Perda Jakarta No. 25 tahun 2005

    • Pastinya mubazir. Menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak hanya tak berguna, tapi mengganggu kesehatan diri dan orang lain. Dan mubadzir itu kan temennya setan, ya.. )
      Tentu maksudnya temen setan ini dekat dengan keburukan.🙂

  1. Memang terpampang jelas di peraturannya …
    Tempat Belajar Mengajar … (bukan hanya di sekolah tapi juga di tempat Les saya rasa) dilarang merokok …

    Dan memang sudah seharusnya …
    Kalaupun mereka mau merokok … cari tempat yang diperbolehkan merokok dan tidak mengganggu lingkungan sekitarnya …

    Salam saya Bu Al

  2. ketika saya menempel dan menyebarluaskan aturan pimpinan tentang larangan merokok di ruangan tempat saya bekerja, malah kertas dan tempelan2 nya dicopot, lalu dibuang. pufffh…. ruangan AC tertutup berasap, sesak, tak ada jendela terbuka, hanya ada pintu terbuka yang mengarah ke koridor. hiks.

  3. Ping-balik: Gak Kreatip Amat! | Teacher's Notebook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s