Lagi Guru Keren: Mamah Alo

Beliau baru saja meninggal dunia, beberapa hari yang lalu. Kangker. Saya tidak begitu ngeh kangker yang mana yang pada akhirnya merenggut beliau dari kehidupan. Apakah kangker payudara yang telah menyiksa beliau selama bertahun-tahun, ataukah kangker paru-paru yang kabarnya rembetan dari payudara yang tentu saja lebih cepat menghajar manusia itu.

Mamah Alo adalah salah satu guru saya yang pertama. Beliau juga seorang kerabat. Bagian dari keluarga besar kami. Kawan ayah dan ibu saya. Seseorang yang sosoknya masih juga membuat saya merinding ketakutan bahkan setelah saya dewasa.

Saya ingat beliau adalah guru madrasah kelas satu. Kelas paling awal yang tugas utamanya adalah mengajarkan kami semua membaca Al Qur’an dan belajar shalat. Beliau, seingat saya, bukan salah seorang guru yang kreatif membuat murid-muridnya selalu senang di sekolah. Tapi tidak diragukan lagi beliau adalah seseorang yang memberikan hidupnya untuk mengajar dari hati, sampai akhir nafas.

Hal yang paling ingat dari beliau adalah ketukan rotan yang selalu dbawa-bawanya, teriakan keras memperingatkan saat kami bukannya khusyuk shalat malah ngobrol, serta cubitannya yang minta anjrot menyakitkan. Cubitan itu masih terus menakuti saya sampai dewasa. Sebab itu masih juga mengikuti saya. Karena sebagaimana saya masih terus memandangnya sebagai guru, beliau pun terus, nampaknya, melihat saya sebagai murid kecilnya.

Saya ingat pada hari pertama masuk madrasah. Saya begitu ketakutan pada sosoknya yang memandang angker di balik kacamata. Suatu saat beliau ada di rumah saya, mengobrol seru dengan ayah. Saat itu yang saya lakukan adalah ngumpet di kamar.

‘Jaman sekarang, ada aja orang yang gak punya TV,’ katanya pada ayah. Saat itu ayah tersenyum dan mengatakan padanya.

‘TV itu gak penting. Pentingan ini.’ Ayah menunjuk deretan piala milik kami kepadanya. ‘Orang lain punya TV berwarna yang ada RCTI-nya (hey, waktu itu TV berwarna udah mewah banget), tapi gak semua orang punya koleksi ini, kan?’

Besok siangnya, di kelas, Ibu Alo (kalo di sekolah panggilnya Ibu Alo kalo di rumah Mamah Alo) pengalaman itu kepada kami semua. Tentu saja saya jadi malu sekali. Pulangnya saya ngambek dan menolak bicara pada ayah.

Saya tahu beliau teman dan saudara ayah, saya tahu itu. Tapi beliau adalah guruku. Jangan cerita yang macem-macem pada beliau yang akan membuat saya malu.

Beberapa tahun kemudian saat saya sudah lulus madrasah ibtidaiyah, sudah remaja. Mendadak pada suatu kali beliau menghampiri dan mencubit pipi saya dengan begitu kencangnya sambil memarahi habis-habisan.Pasalnya, saya dan beberapa kawan membuat keributan pada saat seharusnya kami shalat tarawih di masjid. Dan bukannya tekun shalat, saya dan kawa-kawan malah ngerumpi di belakang. Beliau memarahi saya sama seperti saat saya masih anak kecil dulu. Maka saya tahu, bahwa saya, bagaimanapun, tetaplah anaknya yang gak segan dia marahin dan hukum setiap kali membuat kenakalan.

Jadi saya tetap takut kepadanya.

Salah satu kenangan lucu yang manis adalah beberapa tahun yang lalu saat saya sudah jadi guru dan pulang ke rumah menemui Ibu sedang ngamuk besar kepada adik. Ibu saya bukan satu-satunya ibu-ibu yang ngamuk pada anaknya. Ibu Isah, bibi saya, pun sedang ngamuk kepada anaknya. Dan beberapa ibu lain yang tanpa sengaja saya temui. Ini gara-gara Ibu Alo sebelumnya sewot berat sambil kelilingan.

Saat itu hari madrasah, dan anak-anak pada madol semua! Gara-gara beberapa anak yang nekad pengen main bola mempengaruhi anak-anak yang lain untuk kompakan cabut. Bu Alo yang kaget dan marah menemui kelasnya kosong itu segera berkeliling kampong mengetuk pintu dari rumah ke rumah mencari-cari anak-anaknya yang hilang. Beberapa jam kemudian, biasalah di tebak. Anak-anak ini kembali ke rumah langsung mendapati para ibunya ngamuk berat.

‘Malu-maluin Mamah aja, kamu!’ hardik Ibu kepada adik saya. ‘Sampe Bu Alo sendiri dateng nyari-nyari. Di suruh ngaji malah kabur. Mau jadi apa, kamu? Hah! Pokoknya Mama gak mau tau. Kamu datang ke rumah Bu Alo. Minta maaf!’

Saya tidak tahu sampai kemudian bahwa beliau menderita kangker payudara dan telah berkali-kali menjalani operasi pengangkatan. Setahu saya, beliau masih terus aktif mengajar dan terus aktif di pengajian-pengajian. Tidak terlihat kelelahan atau hilang semangat. Masih terus bikin saya takut dan bawaannya menghindar saat bertemu dengannya.

Tapi, hidup jalan terus. Kita berkembang. Saya tahu bahwa saya tidak lagi membencinya sejak sudah begitu lama walaupun saya masih juga segan untuk ngobrol berlama-lama dengannya. Saya ketika kecil dahulu yang selalu berpendapat bahwa beliau adalah monster perempuan jahat telah lama sekali merubah pandangan itu. Beliau adalah orang yang hebat. Membaktikan dirinya untuk mengajari kami, anak-anak kampung yang badung-badung ini untuk bisa shalat dan membaca qur’an. Hari demi hari, dia terus menerus tanpa lelahnya, sampai tubuh dan kondisinya sudah tidak mampu lagi untuk itu.

Terakhir kali saya bercakap-cakap dengan beliau adalah beberapa saat selepas saya kembali ke rumah setelah operasi jantung. Saya sedang berjalan-jalan pada pagi saat itu. Kami berpapasan di jalan lalu bicara sebentar. Beliau menanyakan kondisi saya, kemudian meminta maaf karena tidak dapat menjenguk. Tapi beliau tidak bilang bahwa beliau pun baru saja pulang dari RS selepas operasi pengangkatan kangker untuk yang ke sekian kalinya. Ibu saya yang memberitahukan kemudian.

Dan ibu saya memberi tahu bahwa kangker payudaranya saat ini sudah menjalar ke paru-paru yang nampaknya, agak membuatnya putus asa juga pada akhirnya.

Saya tahu beliau masuk RS lagi beberapa saat yang lalu, dan merupakan penyesalan yang mendalam bahwa saya tidak sempat menjenguknya saat terakhir kali. Terlalu sibuk dengan kehebohan di rumah saat dua adik saya pun masuk RS dan menjalani operasi. Hari Sabtu ada acara keluarga di rumah dan malamnya, masih juga heboh saat adik kembali di bawa ke UGD. Hari Minggu malam, Mamah Alo meninggal dunia.

‘Biarpun kalo nyubit sakit banget, tapi kalo ga ada Mamah Alo mungkin gw ga bisa ngaji :’)’ kata sepupuku lewat twitter pada malam duka tersebut. Dan saya kira, itulah penutupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s