Maaf Saya Autis

‘Maaf, ya.. Anak kami ini agak special..’

Mendadak kata-kata tersebut sering terlontar dari mulut kami semua. Pada banyak kesempatan, ketika kami berada di luar sekolah. Pada saat fieldtrip atau kunjungan. Atau terkadang di sekolah, pada saat ada guru lain atau tamu sedang berkunjung.

‘Maaf, Pak. Bisa tidak satu guru ikut ke dalam. Siswa kami yang ini membutuhkan pembimbing. Ini siswa berkebutuhan khusus.’

Biasanya, pada banyak tempat, orang akan langsung mengerti. Tapi terkadang tidak. Maka kami pun harus secara gamblang menyebutkan.

Autis, Pak..

Bagaimana rasanya?

Maksud saya, bagaimana perasaan sang siswa saat mendengar gurunya menyebutkan hal itu?

Pertama kali saya merasa tercengkram hati beberapa bulan yang lalu, tahun ajaran kemarin, saat salah satu lembaga les dari luar sekolah datang dan menyelenggarakan tryout di sekolah. Kami sudah berkeputusan bahwa siswa bekebutuhan khusus kami tidak akan kami dampingi saat melaksanakan test tersebut. Hanya mengawasi saja. Bagaimana dia saat harus mengerjakan test try out UAN sendirian. Tanpa bimbingan sama sekali.

Rasanya benar seperti berada dalam salah satu adegan ilm Laskar Pelangi. Tahu, kan, saat dua guru dari SD PN Timah yang keren itu cengar-cengir melihat hasil ulangan yang dikerjakan oleh salah satu anak yang tuna grahita.

‘Yang ini malah ngegambar sapi…’

Kejadian seperti itu juga kami hadapi. Saat hasil test matematika dikumpulkan, dua guru dari lembaga tersebut tertawa saling berbisik.

‘Ini Cuma dikerjakan satu soal. Salah pula.’

Damn!

Saya lupa memberi tahu bahwa ada satu anak berkebutuhan khusus di dalam kelas saya.

Maka saya pun mengatakan.

Maaf, ya, Pak. Siswa yang ini berkebutuhan khusus.

Saya menyebutkan kalimat tersebut seraya melangkah keluar kelas mengiringi bapak-bapak guru itu. Mereka segera maklum.

‘Oh, ya.. Di sekolah yang itu juga menerima siswa berkebutuhan khusus. Tapi untuk yang berkebutuhan khususnya, mereka memakai tanda pengenal khusus. Jadi kami tahu.’

Kami berpendapat itu tidak perlu. Mungkin nanti saat diluar sekolah mereka butuh untuk memberi tahu orang lain. Tapi di sekolah, itu tidak diadakan. Kami toh harus menunjukkan dan memberi tahu anak-anak untuk tidak terkejut dan memperlakukan berbeda kepada rekan-rekan mereka yang berbeda.

Well, itu tahun ajaran yang lalu.

Kemudian kemarin, saat berenang, saya sekali lagi mengatakan hal yang sama kepada guru dari sekolah lain. Tapi kali ini, ada rasa sakit yang lebih mencengkram dada saya.

Karena kali ini saya berkesempatan melihat wajah anak saya yang disebutkan itu.

Saat itu di kamar bilas. Pelajaran renang untuk anak-anak besar baru saja selesai. Dan sebagian besar anak saat itu sudah berada di dalam kamar mandi. Saya masuk terakhir. Masih mengenakan pakaian renang dan sedang bersiap mengambil tas untuk masuk pula ke kamar mandi.

Saya masuk berbarengan segerembol anak sekolah lain dan guru mereka yang baru saja datang.

Anak-anak itu berteriak.

Siswa berkebutuhan khusus saya ini ternyata sedang berada di bawah pancuran yang terbuka dengan seluruh pakaian yang sudah dilepasnya. Tangannya memegang pembalut wanita yang tercetak flek darah.

Dia tersenyum memanggil saya.

‘Bu Alifia…’

Anak-anak dari sekolah lain itu berteriak. Tapi bukan itu yang membuat saya terkesiap. Melainkan desisan beberapa guru dari sekolah lain itu.

‘Iiih…’

Maka tanpa sadar saya tutupi tubuh anak saya dengan handuk, kemudian sambil memandunya menuju ruang tunggu di kamar mandi seraya meminta maaf kepada guru-guru itu.

Maaf, ya, Bu. Ini siswa kami yang berkebutuhan khusus.

‘Hah?’

Para guru itu malah berkerut kening.

Autis, Bu..

Nyengir.

‘Oh..’

Hanya oh itu yang mereka katakan kemudian saya tidak memerdulikan mereka lagi.

‘Bu, aku gak autis.’ Kata anak saya itu.

Ibu tahu. Tapi itu yang mereka cepat mengerti dan maklum. Maaf, ya.. Jangan mandi di bawah pancuran lagi, ya, Nak. Kamu kan sudah besar.

‘Tadi kamar mandinya penuh.’

Kamu bisa menunggu dulu. Lihat, ibu juga menunggu.

Jadi kami duduk. Dia masih terbalut handuk saya yang sesungguhnya kecil itu.

Kemudian anak-anak sekolah lain keluar dari kamar ganti. Sudah berganti pakaian renang. Mereka melirik sambil bisik-bisik. Begitupun guru-gurunya.

Dan anak saya ini mendadak berdiri. Dia hampiri salah satu guru.

‘Maaf, ya, Bu Guru. Saya berkebutuhan khusus.’

….

‘Oh, iya.. Iya… Gak apa-apa, kok.’

…..

Dan saat itu juga saya ingin menangis saja rasanya.

….

Di dunia ini, ada orang-orang yang memiliki kondisi yang istmewa. Apakah mereka menginginkannya? Apakah mereka senang dengan keadaannya? Apakah mereka selalu punya pilihan?

Saya kira kita semua tahu jawabannya.

Tapi toh tetap saja, pada kenyataannya, mereka yang meminta maaf kepada orang lain atas apa yang mereka alami.

Itu yang menghantam saya.

Dan kita, yang lahir dan berada dalam keadaan yang sempurna ini yang merasa terganggu, atau bahkan mencibir atas kesulitan mereka.

3 thoughts on “Maaf Saya Autis

  1. entah mengapa, mata saya berkaca-kaca. teringat Sulungku yg di awal tahun kedua usianya, menunjukkan berbedanya. tidak terlalu berbeda, hanya sedikit istimewa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s