Menjahit Kompor Meledak

Tahun ini perubahan terbanyak adalah pada pelajaran SBK (Seni Budaya dan Keterampilan). Kalau sebelumnya kami lebih menekankan pada bidang seni, yang selalu aja pada akhirnya jadi bahan perdebatan gak berujung begitu sampai pada persetujuan di yayasan yang rada saklek di agama itu, maka tahun ini kami lebih menitik beratkan pada bidang keterampilan.

Membuat barang-barang plus daur ulangnya sekalian.

Menjahit.

Memasak.

Termasuk bagi siswa lelaki tentunya!

Dan jangan salah, loh! Justru anak-anak lelaki ini yang hasilnya pada bagus-baguuuuus. Yah, walaupun hasil karya teracak-acakan juga punyanya lelaki.

Masakannya lebih nyerempet enaknya, ya, anak lelaki.

Jahitan yang paling rapih juga punyanya anak lelaki.

Menyulam paling indah…beuh! Anak laki juga itu!

Locker paling bersih, itu hampir tiap kelas anak laki!

Trus anak perempuan?

Secara umum anak perempuan itu rapih, walaupun sangat jarang yang paling rapih. Tapi hampir tidak ada juga yang soangat berantakan. Pun kebanyakan, kebanyakaaaan, rapihnya ya biasa. Serapih-rapihnya anak-anak. Jangan bandingkan dengan jahitannya tukang jahit tentu saja.

Dan lucunya, kadang justru anak yang paling jagoan, tukang berantem, lasak, gak bisa diem, sering luka-luka akibat terlalu aktif dalam main bola maupun manjat-manjat pohonlah yang jahitannya paling rapih!

Sampe ayah bundanya terbengong-bengong saat gurunya bilang:

‘Aduh, Ayah Bunda. Amar itu dapet nilai tertinggi di SBK. Masakannya paling enak dan paling menarik penyajiannya.’

Heh?

Ayah dan Bunda berpandang-pandangan.

Melongo!

Cekikikan berdua.

‘Ah, masa, sih, Bu? Masa, sih? Kami udah siap-siap ini dapet laporan bahwa si Amar berantem lagi entah untuk yang keberapa belas kali.’

Sebenernya postingan ini terinspirasi dari postingannya Om Trainer disini yang tentang celana anaknya yang bolong.

Jadi, karena anak-anak sedang belajar menjahit, maka kami sediakanlah peralatan untuk itu di setiap kelas mulai dari kelas empat ke atas. Dan mereka punya tugas baru.

Menjahit!

Menjahit atau menambal pakaianmu sendiri yang sobek saat terlalu heboh bermain di sekolah!

Jadi sekarang kalau ada anak yang pakaiannya sobek, maka segera saja kami suruh ganti pakaian (setiap anak kami wajibkan menyiapkan pakaian ganti di locker masing-masing) lalu kami minta mereka menjahit pakaian sendiri.

Tapi tentu saja, biasanya, pakaian yang sudah dijahit anak ini tetap dijahit ulang lagi di rumahnya pada akhirnya. Walaupun tidak selalu. Tergantung bagaimana orangtuanya tentu. Ups, bukan berarti malas, loh! Ada yang berpendapat, oh, okey, anak saya udah berusaha jahit sendiri walaupun menyan menyon. Yaudah, deh, jahit ulang lagi lebih rapih. Malu juga kalo seragam anak kita acakadul! Ntar apa kata ortu yang lain.

Tapi ada juga yang berpendapat: Ngng.. kayaknya biarpun acakadul, tetep indah, kok! (Ini ngeliatnya pake cinta soalnya) Gak apa-apa, deh! Biar saja. Biar mereka bangga dengan hasil karyanya sendiri. Ntar kalo anaknya minta dijahitin ulang (takutnya anaknya malu), baru, deh, dijahitin lagi yang lebih boagus!

Dan salah satu yang sering dipertanyakan atau dibatinkan ortu biasanya sih gini:

Aduh, anak saya kan masih kecil. Disuruh ngejahit sendiri apa gak bahaya? Disuruh masak apa gak bahaya? Gimana nanti kalo ketusuk jarum? Gimana nanti kalo kompornya meledak?

Masalah kompor meledak itu udah jadi bahan pikiran kita dan bukan hanya masalah kemungkinan anak terpercik minyak panas segala. Itu makanya untuk memasak, kami pikirkan sekali apa-apa bahan untuk setiap kelas. Pastinya, sebelum kelas empat, itu berarti sebelum anak-anak sudah tenang…

Eh, anak kelas empat yang udah tenang? Anak kelas tiga kebawah, gimana?

Yaaaah, siapa yang baca ini punya anak kelas tiga kebawah hayo ngacung! Kelas tiga itulah masa-masa paling pecicilan minta anjrot! Orang kerja kelompok di dalam kelas aja bisa kejedot!

Kelas empat yang udah lumayan tenang. Walaupun masih ada satu dua anak yang masih suka lupa diri dan tau-tau keliling-liling dalam kelas.

Okeh, kembali ke persoalan.

Sebelum kelas empat, anak-anak tentu gak memasak yang nganeh-nganeh dulu. Pertama paling ngolesin selai ke roti atau donat (sebenrnya,  kalo ini TK juga udah!). Gurunya yang bikin roti bakar atau donat, maka sekarang ruang guru udah kayak kapal pecah jadi tempat eksperimen masakan sebelom hari H (di depan anak masak satu dua aja buat contoh), anak-anak cuman ngeliatin aja atau ikut bikin adonan.

Terus peper-peperan tepung terigu, deh!

Terus, kadang, lempar-lemparan, deh!

Tau-tau semua anak belepotan tepung juga, sih!

*garujidat!

Kelas dua rebus-rebusan ajah!

Kelas tiga mulai kukus-kukusan.

Goreng-gorengan dan marut-marutan mulainya kelas empat!

Kelas enam, beuh! Harus bisa bikin makan pagi, siang, dan malam secara lengkap!

Mengenai kompor yang meledak, kami akui rada kebawa-bawa khawatir juga itu dengan segala pemberitaan di TV. Maka tadinya kami pindahkan acara masak di lapangan aja. Di ruang terbuka. Tapi sekarang, sih, justru kami malah pindah ke kompor minyak tanah dulu. Kami pikir ini agak lebih aman untuk sementara.

Walaupun itu yang namanya nyari minyak tanaaaaah susahnya setengah degleng!

*curhat! Hiks!

Habisnya, mau pakai kompor listrik ribeut, euy! Listrik di sekolah gak stabil. Ini aja anjlok melulu! Pagimane ceritanya pake kompor listrik!

Masalah ketusuk jarum atau kecipratan minyak panas, itu cerita biasa sebenernya. Selalu ada anak yang tertusuk jarum, kecipratan minyak, atau terparut tangannya. Sama dengan jatuh, besut, sobek, atau bahkan yang paling naas tentunya patah. Itu ceritanya anak-anak di mana pun. Dari cucunya presiden sampai anaknya gelandangan kalau pecicilan, jatuh, dan besut itu udah biasa.

Seperti dalam hidup kita jatuh bangun pun sudah biasa.

Kalau luka anak serius, kita bawa ke rumah sakit saat itu juga. Termasuk terbentur kepala yang walaupun gak luka, tetep kami periksakan ke dokter minimal. Kepala, bok! Ngeri!

(Mudah-mudahan gak ada, ya, Allah!)

Luka agak parah, dibawa ke klinik.

Luka terparut biasa atau teriris pisau, kita beri betadine dan JANGAN PANIK!

Kalo panik anak nangis berat. Kalau kita biasa aja, anak juga akan menghadapinya dengan kalem.

Apalagi kalau orangtuanya ikutan panic dan nangis Bombay, beuh! Anak bakalan kejer gak ketulungan!

Pengalaman, nih! Ada anak jatuh terseret saat bermain lalu di beri betadine. Kita pesankan untuk hati-hati lain kali. Itu anak gak apa-apa. Udah main lagi ketawa-tawa. Tau-tau ibunya lari nyamperin panic sambil nangis. Udah aja itu anak langsung ngegaung-gaung seakan-akan tangannya patah aja.

Dan masalah luka-luka kecil di sekolah kami, para guru, berpendapat its okey! Gak usah terlalu panik atau gimanaaa gitu. Sepanjang itu anak luka saat kegiatan, dan kita pun menanganinya dengan sesuai kebutuhannya, saya yakin orangtua murid pun mengerti. Lain cerita kalau si anak luka gara-gara ditabok guru atau sakit gara-gara dihukum yang nganeh-nganeh kayak dijemur seharian atau disuruh push up 100 kali!

Jadi, begitulah ceritanya.

Maka jika Anda berkesempatan melongok ke sekolah kami dan melihat ada anak yang lagi duduk serius menjahit pakaian, gak usah heran, dah! Dia tidak sedang dihukum. Kami hanya sedang memikirkan untuk buka usaha konveksi!

Hihihi…

Iklan

4 pemikiran pada “Menjahit Kompor Meledak

  1. Sama seperti mengajarkan menggunting kepada anak saya dulu. Saya kok khawatirnya setengah mampus. Takut inilah takut itulah.. Tapi akhirnya, semua ketakutan itu malah gak terbukti sama sekali. Dan sekarang, mereka sudah mahir menggunakan gunting untuk berbagai keperluan mereka. Bahkan dengan suksesnya dia menggunting taplak meja, hahaha… 😀

    Jadi intinya adalah bahwa anak memang harus dikenalkan dengan semua itu. Kecelakaan bisa saja terjadi. Waspada saja, tapi gak perlu takut atau parno… 🙂

    Cekgu, kalau bajunya dah jadi, saya pesan satu ya… *gubrakkkk*

  2. Ngomong-ngomong soal jahit menjahit, jadi ingat dulu sewaktu SD kelas 6. Pas ada pelajaran ketrampilan (menyulam). Pas jam istirahat, anak-anak kelas 6 duduk di teras kelas trus melanjutkan sulamannya, sambil bercanda gitu tiba-tiba gunting temanku melayang ke alisnya, dan sempat nyempet ke bagian mata juga. Ntah gimana kronologinya, tiba-tiba pada heboh trus dibawa ke puskesmas terdekat waktu itu, trus sampek ada jahitannya di dekat alis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s