Mengingatkan


Beberapa hari yang lalu, pada pagi, saya udah harus menenangkan satu cewek nangis-nangis Bombay! Bukan murid, tapi guru!

Walikelas dua ikhwan.

Ini satu hari selepas ambil rapot bayangan. Gara-garanya, well, singkatnya ada anak baru dikelasnya yang tukang rusuh. Beneran memang dialah yang bikin kelas selalu ruwet gak terkendali. Tapi rekan saya bukan nangis karena putus asa menghadapi si anak itu.

Dia putus asa menghadapi semua orangtua murid yang lain.

Bayangin aja, SEMUA ortu komplen mengenai satu anak kelas dua SD yang pecicilan. Dia gak nakal sebagaimana anak nakal, tapi gak bisa diem dan kerjaannya lari-larian dan timpuk-timpukan kertas. Ogah dengerin guru. Pokoknya maunya lariiii…

Dan tiga bulan ternyata belum cukup untuk si walikelas kami yang baru kali ini menjadi walikelas itu untuk meredakan si anak.

Tapi ortu murid marah semua. Bahkan sampai ada yang mengancam akan mengeluarkan anaknya dari sini kalau si guru gak bisa menghandle itu anak bangor!

Maka si walikelas nangis Bombay, lah!

‘Tolong aku, dong, Bu.. Gimana caranya aku bikin itu anak bisa jadi anak yang tertib.’

Beneran, menghadapi kisah kayak gini yang bikin sedih.

Sekedar mengingatkan bahwa anak itu bukan computer yang kita bisa install ulang atau kita masukkan program baru dalam hitungan detik. Jangan kepikiran acara The Nanny yang luarbiasa kilat ekspres dalam waktu seminggu bisa ngerubah anak badung itu beneran nyata senyata-nyatanya di kehidupan ini.

Tiga bulan itu belum cukup, belon apa-apa.

Yah, kecuali kalo kita masuk kelas dengan rotan di tangan ngancem siapapun yang berani bicara atau bikin ulah akan kita cambuk 30 kali!

Saya teringat beberapa tahun yang laluuuu saat masuk suatu kelas menemukan si Nouval sedang digebukin oleh Ahmad yang lagi uring-uringan. Si Ahmad siswa sulit saat itu.

Nouval dengan kalem bilang:

‘Biasa, Bu. Lagi kumat dia. Gak papa, kok. Aku kan jagoan. Gak sakit. Biarin aja dia mukulin punggung aku daripada anak cewek nanti yang dipukul.’

Setahun kemudian, keadaan berbalik. Nouval yang kemudian jadi siswa sulit. Tapi orangtuanya Ahmad datang mengamuk minta agar sekolah memberikan hukuman yang tegas dan kalau bisa mengeluarkan Nouval dari sekolah.

Masalahnya dia suka minta paksa makanan anak lain termasuk makanannya si Ahmad.

Saya sangat sedih saat itu. Bukan karena diomelin orang, tapi saya kasihan sekali dengan Nouval.

Saya sedih karena orangtuanya Ahmad tidak bisa sabar menunggu. Lupa bahwa sebelumnya, selama satu tahun penuh semua orangtua anak yang lain pun berusaha sabar dengan kelakuan anaknya.

Dan setiap anak itu berbeda. Gak ada satu teori yang bisa dipakai untuk setiap anak di dunia ini bagaimana cara menghadapi atau menanggulanginya. Biar guru itu udah 20 tahun mengajar pun, saya yakin, dua puluh kali dia menghadapi kelas yang berbeda-beda dan harus kembali belajar lagi setiap kalinya.

Jadi, maukah Anda menolong kami?

Anda bisa memberi ide bagaimana menghadapi anak itu.

Atau paling tidak, berilah waktu agar si anak maupun gurunya belajar mengenai situasinya.

Anak yang pernah saya tulis tidak mau masuk kelas sama sekali dan mengamuk terus-terusan, saat ini berada di kelas tiga dan merupakan anak paling soleh di kelas. Dipercaya sebagai ketua kelas. Anak tukang membantah waktu kelas satu dulu yang kerjanya uring-uringan dan bikin ketakutan semua temannya sekarang adalah anak yang manis di kelas empat. Sebaliknya, anak yang dulunya pendiam sangat penurut justru sekarang lagi boadung-boadungnya tukang ngelawan.

Karena terkadang ada saatnya si siswa sulit justru anak Anda. Maka pada saat itu, bukankah Anda menginginkan pengertian dan kesabaran dari semua pihak?

4 thoughts on “Mengingatkan

  1. Saya rasa para orang tua kelas dua ikhwan itu harus mau mengerti.😐

    Menurut saya, mana ada sih anak kecil masih SD yang mudah diatur?😆 Biarkanlah semua sifat, entah itu pecicilan, nakal, dan sifat lainnya, itu sebagai proses tumbuh kembang si anak. Kalau si pecicilan “ditekan”, saya khawatir itu mempengaruhi perkembangan otak si anak.😐 Efek dari “penekanan” anak-anak mungkin gak akan langsung terlihat, tapi nanti saat remaja atau dewasa baru terlihat.😐

  2. Yah mungkin para ortu itu hanya memikirkan nasib anaknya aja
    Wajar sih. Kalo si anak pecicilan dianggap menganggu proses belajar mengajar buah hatinya

    Mesti pinter2 gurunya memberi pengertian. Good luck yah *pesimis mode on

    Ohya, memangnya bisa ya Bu, kalo ada komplain begitu trus si anak langsung dikeluarkan? Anak tetangga saya pernah juga diancam sama gurunya, abis bandel banget. Nantangin berkelahi ke semua kakak2 kelasnya!

  3. Namanya juga anak-anak, pasti ada masa-masanya tertentu. Sebagai orang tua dan guru haruslah memiliki kesabaran yang ekstra. Guru harus ngasih pengertian kepada anak didik, dan begitu juga orang tua juga wajib memberikan pengarahan kepada anak-anaknya. Dan seharusnya ada komunikasi yang lebih antara guru dan orang tua jika terdapat anak-anak yang berkebutuhan khusus (maksudnya harus ada pengawasan ekstra).
    Hehehehe… sok jadi penasihat,,, padahal juga bukan seorang guru. Yang pastinya juga kalah donk dengan Ibu Guru.
    Salam kenal ya Bu Guru….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s