Permohonan Maaf Paling Susah Sedunia!

Oh, plis, gak usah ribet liat judul diatas. Itu cuma kalimat yang berlebihaaaan.

Bagaimana kabar sekolah akhir-akhir ini?

Well, nampaknya kami baik-baik saja. Hujan banyak turun yang artinya dimana-mana becek dan lantai-lantai mulai berdebel tanah. Kebun rambutan mulai berbuah, horray! Anak-anak mulai seru nongkrongin pohon-pohon rambutan dan lompatan meraih buahnya yang menjuntai sampai ke bawah ke jangkauan tangan mereka. Sejauh ini belum ada yang nekad manjatin pohonnya. Selain masih keingetan insiden tangan patah seorang anak laki-laki kelas 5 beberapa saat yang lalu pun nampaknya ngeri setengah mati dengan prospek mengeruwetnya ulet bulu yang menempel pada batang pohonnya.

Yep, sudah nungul korban pertama tahun ini yang gatal-gatal karena ulet bulu dan dia adalah…jreng jreng!

Bu Lulu!

Seperti kejutan saja, huh! Kenyataannya emang nyaris tiap tahun selalu aja dia duluan yang kena ulet bulu!

Sungguh sial dia!

Tapi apa cerita baru di sekolah?

Yaaah, karena tahun ini kerjaan saya lebih banyak di kantor dengan kertas atau orang dewasa, nampaknya saya sangat banyak merasa kehilangan cerita pada tahun ini. Dan walaupun teteup aja ada kisah, nampaknya terlalu sempit waktu untuk saya mengelaborasinya menjadi sebuah kisah utuh.

Dreeed!

(Uh, sok sibuk banget, yaa…)

Eniwei, hari ini saya cukup bahagia karena salah satu anak special kami yang autis kembali menggerecokin saya dengan berkali-kali nungul di pintu ruang saya sambil mengocehkan serentetan kata yang agak susah untuk ditangkap telinga kepada saya. Itu adalah kebiasaan dia dan saya menganggap bahwa itu adalah ‘waktu kami’.

Dia: (nungul di pintu) Waswesws bajgkdskasA ontime shdjd…

Saya: (mengangkat alis)

Dia: (Lari) (balik lagi) (nungul di pintu saya) klkdwgjlkg…

Saya: (panggil namanya)

Dia: (Lari) (balik lagi) (nungul di pintu saya) klkdwgjlkg…

Saya: (panggil namanya)

Dia: (Lari) (balik lagi) (nungul di pintu saya) klkdwgjlkg…

Begitu berulang-ulang.

Saya gak ngerti maksudnya apa itu semua.

Pertama-tama saya mengejarnya dan bertanya ada apa. Dia hanya tertawa dan lari-larian saja. Kemudian saya biarkan adegan itu berulang-ulang tiap hari. Terkadang saya akan mendekatinya (dan dia lariiiii), terkadang saya hanya memanggil namanya atau bertanya ada apa. Bukan maksudnya saya mengharapkan jawaban yang lugas atas pertanyaan itu, yang saya pasti akan menangis Bombay kalo memang dia kemudian menjawabnya dengan lugas. Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya melihatnya dan menganggap bahwa dia ada dan berarti untuk sekedar ikut permainannya.

Atau bahwa saya memang mencoba untuk tidak menepikannya.

Beberapa minggu ini dia tidak datang ke pintu saya. Yup, beberapa minggu! Dan saya sedih sekali karenanya.

Ini gara-gara lagu!

Sebelumnya saya tahu bahwa anak ini sangat tidak suka dengan music…mungkin lebih tepatnya irama. Dia selalu resah saat harus berada ditengah-tengah anak yang melafalkan qur’an atau hanya sekedar doa bersama. Dia bahkan lari dengan kecepatan setengah mampus saat harus ikut shalat berjama’ah bersama kelasnya yang masih membacakan doa shalat dengan keras sama-sama. Karena baginya sama saja, bahwa irama, dengan bahasa apapun atau bahkan hanya (atau apalagi) music ritmic sudah cukup membuat guncang seluruh keseimbangan yang coba dibuatnya di sekitarnya.

Tapi dia bisa beribadah. Hanya baginya, nampaknya, sebuah ibadah baik itu shalat maupun doa adalah masa kotemplasi penuh keheningan yang intens saat komunikasi kepada yang maha kuasa berlangsung sangat pribadi dan penuh kekhusyuan.

Bukankah itu indah? Saya kira itu sungguh indah!

Terkadang saya berpikir bahwa mungkin pengajaran Budha akan lebih mudah dan meraihnya.

Yeah, whatever…

Kemudian pada suatu hari saat saya sedang berada di kelasnya, tanpa sadar saya menyanyi.

Lebih tepatnya bersenandung.

Saat itu kami sedang ulangan. Dan kelas sedikit hening dari biasanya. Saya duduk di meja membaca sebuah artikel sementara anak-anak mengerjakan soal. Salah satu anak mulai bersenandung.

Dengan seluruh angkasa raya memuja

Pahlawan Negara

Nan gugur remaja di ribaan bendera

Mbela putra bangsa

Dan secara reflex, saya pun mulai ikut bersenandung yang pun diikuti beberapa anak yang lain.

Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga jasa
Kau Cahya pelita

Dan tiba-tiba.

BRAK!!!

Anak itu menghempaskan mejanya ke tembok, lalu mulai duduk di sudut memegangi kepalanya.

‘Brenti..brenti…..brenti…’ katanya.

Kami terpana, duoooong.

Sang shadow teacher berusaha menenangkan yang hanya dib alas dengan isak berkepanjangan.

‘Ampuuun…ampuuun… Gak nyanyi.. Gak… Gak nyanyiii…’

Dan ketika saya berdiri menghampiri yang nampaknya itu malah tambah bikin keadaan jadi runyam. Dia lompat dan kemudian mendorong saya sampai jatuh sebelum lari secepat tornado menjauh jaunya dari kelas.

Sempet kepikiran juga sih kalo ini anak nampaknya bisa dikondisikan menjadi atlet lari, hehe… Setel aja music di kupingnya di garis start dan dia akan meleset sekenceng-kencengnya sampai garis finish.

Kemudian saya benar-benar kehilangannya.

Seberapa banyak pun saya meminta maaf kepadanya dan menyampaikan dengan berbagai macam cara bahwa saya sungguh tidak bermaksud untuk menyakitinya, dia tidak datang melongok saya di ruangan. Dia menolak untuk melihat saya. Dia bahkan tidak menghadapkan mukanya ke muka saya saat kami membaca qur’an pada pagi.

Apa dia masih marah kepada saya?

Saya juga gak tahu, Bu, kata Shadow Teachernya.

Maka saya beneran kangen kepadanya. Saya merasa kehilangan pada saat saya berada di kelasnya yang biasanya dialah yang begitu susah untuk disuruh duduk di bangkunya. Biasanya, dia yang pertama kali lompat dan berkali-kali menghampiri meja saya.

Dia dulu senang bercerita, tentu dengan caranya sendiri kepada saya. Melalui berbagai macam karton cereal sarapan paginya yang dia akan sodor-sodorkan kepada saya. Atau buku teka-teki silang atau sekedar gambar-gambar acakadul karyanya sebelumnya.

Dan seperti itulah dia bicara. Tidak dengan kata, tapi lompatan girangnya. Dengan tarikan-tarikan tangannya menarik salah satu bagian tubuh orang lain.

Saya ingat pada hari ketika salah satu kawannya sakit parah dan semua anak merasa sedih karena itu. Semua anak mengatakan bahwa mereka merindukan sang kawan yang baik hati itu. Lalu pada suatu pagi, kebetulan saat itu adalah jam saya di kelas mereka, anak itu muncul. Terlambat. Diantar ibunya. Dengan wajah masih lemah. Kami semua gembira saat itu. Gak peduli bahwa guru mereka masih ada di kelas, semua anak berlompatan menghampiri. Bertanya-tanya. Dan si anak special ini, dia tidak menyatakan kebahagiannya dengan menghampiri dan bertanya-tanya. Tapi dia pun senang seperti semua rekannya yang lain. Dan menyatakan itu dengan cara berlarian dan guling-gulingan di lantai. Menarik-narik jilbab saya.

Dia menyatakan perasaannnya kepada dunia ini, dengan cara yang berbeda.

Hal yang paling menyenangkan untuk dilihat adalah bahwa seluruh rekan sekelasnya seakan mengerti bahasanya.

Kemudian, butuh berminggu untuk melihatnya kembali seperti sediakala dimana dia dapat menerima saya kembali dengan tanpa prasangka.

Bahkan saya pun tidak tahu bagaimana kejadiannya.

Saya hanya mengingat bahwa tadi paginya saat saya menerangkan di kelas, saat itu serius sekali, gak ada joke, dan anak-anak lagi ruwet mencoba memahami struktur pemerintahan provinsi, dia dibelakang sana mendadak tersenyum kepada saya.

Okeh, dia bicara acak-acakan seakan mengigau, memanggil, berseruuu…tapi ini pertama kalinya saya melihat dia tersenyum.

Beneran tersenyum.

Dan beberapa jam kemudian, saat istirahat selepas dhuhur, mukanya kembali ada di sela-sela pintu saya.

….

Selamat datang kembali, Nak. Terimakasih sudah memaafkan saya.

10 thoughts on “Permohonan Maaf Paling Susah Sedunia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s