Iri dan Adil

Rasa iri hati kita selalu berumur lebih panjang daripada kebahagiaan dari mereka yang membangkitkan rasa iri hati tersebut.

–  La Rochetoucauld

‘Bu, kalo ortunya xxx protes lagi mengenai ABK (anak berkebutuhan khusus) gimana? Apa Saya langsung bilang aja silahkan diskusi sama Bu Eni aja?’

Salah satu rekan walikelas tiga yang menyatakan kekhawatiran itu. Bukan tidak beralasan, sang ortu memang sudah dikenal sebagai salah satu ortu yang, yah, mungkin rada bikin ribet. Gak pernah ikut rapat ortumurid, gak pernah mau ikut kegiatan, tapi tau-tau protes dengan kebijakan sekolah atau keputusan ortu murid yang sudah disepakati bersama.

Selama ini saya kira protes dari yang bersangkutan cukup dapat dimaklumi. Pengulangan dari keluhan beberap ortu murid sebelumnya.Kanmasalahnya Cuma dia aja yang gak pernah datang pada saat pertemuan ortu murid dan pihak sekolah dan itu sebabnya jadi rada telat.

Tapi kali ini saya kira sudah cukup rada kelewatan. Dia protes mengenai keberadaan ABK, dan bukan karena khawatir anaknya terluka atau apa yang saya kira cukup dapat dimaklumi.

Dia protes karena rangking anaknya di kelas turun karena digeser oleh, ironisnya, dua orang ABK di kelasnya.

Okeh, okeeeeeh, saya akan menuliskan tentang rengking atau peringkat ini dulu untuk orang-orang yang punya anak di sekolah, atau masih sekolah, yang tentunya ngeh banget kalo jaman sekarang itu udah gak ada lagi rengking atau peringkat di kelas.

Sejak kurikulum KBK tahun 2004 dan kemudian dilanjutkan oleh KTSP tahun 2006, memang rengking sudah ditiadakan. Blas.. Gak ada.

Tapi tetep aja kita berikan tuh selembar kertas berisi daftar nilai rata-rata tertinggi dalam satu kelas. Tentu ini lebih merupakan kemudahan aja karena gak semua orang tua mau mudah menerima mengenai tidak ada rengking lagi.

Eniwei, ortu ini sewot gara-gara nilai rata-rata anaknya tersingkir rada jauh. Dan tambah bikin sewot lagi karena dua anak ABK di kelas anaknya ini, autis dan disleksia, ternyata mendapatkan nilai rata-rata yang jauh lebih tinggi dari anaknya.

Moarahnya beneran loh sampe bilang segala:

‘Ini namanya gak adil, Bu! Anak-anak itu kandibantu shadow teacher pas ulangan. Pantes aja nilainya bagus. Gak adil, dong. Kalo gitu caranya yah gampang aja. Saya bayar deh shadow teacher buat anak saya pas ulangan umum. Bereskan, Bu?’

Dan itu membuat saya sedih.

Apa Anda memang bermaksud pada setiap perkataan Bapak? Sampai sebegitukah arti nilai dan rengking?

Masa sih Bapak iri dengan siswa autis?

Lah, gak malu sama puteranya, Pak? Putera Bapak aja hepi-hepi aja, tuh!

Tentu saja saya pn pada akhirnya menjelaskan panjang lebar mengenai tugas atau apa saja wilayahnya shadow teacher itu. Dan ini hanyalah apa yang berkecamuk di hati saya saja.

Bicara tentang adil atau tidak adil maka benerkah tidak adil bahwa dia memiliki seorang anak laki-laki yang sehat, cerdas, dan, dalam ukuran yang saya yakin akan menyakiti siswa ABK, normal di mana kehidupan terbuka luas lebuar untuk anaknya sementara di kelas yang sama ini ada dua anak lelaki lain yang, mungkin memiliki eidetic memory tapi sekaligus penyandang autis?

Diatas kertas..diatas kertas.. memang anak autis ini mendapat nilai jauh diatas anaknya. Itu jelas terlihat. Si anak autis ini adalah penghafal yang handal, tukang ngutak utik rumus yang jempolan di mana bahasa matematika, kami yakin, adalah bahasanya yang pertama kemudian diikuti dengan bahasa computer. Dia jauh lebih mudah memahami computer dibanding manusia lain di sekitarnya. Tapi…Anda lihatlah anak ini. Lihatlah.. Apa Anda yakin bahwa Anda lah yang seharusnya berteriak-teriak pada dunia bahwa INI TIDAK ADIL!

5 thoughts on “Iri dan Adil

  1. Huh… Geram melihat ortu yang “sok” seperti itu. Kayaknya, dunia ini milik dia. Apapun yang berlaku, harus sesuai dengan apa maunya.. Cape deh…

    Memang begitulah dunia pendidikan kita, diwarnai oleh orang-orang “sok” seperti itu. Menyebalkan, menggerahkan dan melelahkan..

    Tapi… Bukankah dengan keberadaan orang-orang seperti itu dunia pendidikan jadi lebih berwarna? Guru-guru jadi lebih tertantang untuk menyelesailan masalah? Sekolah jadi lebih ramai dengan aneka celotehan dan protes tersebut?🙂

    Dunia memang tidak terasa adil ketika sesuatu yg kita anggap benar tidak diapresiasi sebagaimana mestinya oleh orang lain.. Tak perlu gundah, tak perlu risau, dan tak perlu berhenti berkarya. Sebab, dengan itu semua hidup menjadi semakin menggairahkan..🙂

    Selamat tahun baru, Cekgu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s