Guru dalam Buku dan Film: Botchan (Botchan)

Kata Botchan tidak dapat diterjemahkan karena berbagai nuansa yang terkandung di dalamnya. Pada dasarnya kata itu merupakan panggilan sopan untuk para anak laki-laki, terutama ketika mereka masih kanak-kanak, dari keluarga terpandang. Sapaan ini serupa dengan ‘tuan muda’, namun dengan nuansa kedekatan dan kasih sayang di dalamnya. Dalam beberapa kasus, kata ini juga bisa digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang agak manja dan menuruti maunya sendiri.

Alan Turney.

Aku pada kisah ini tidak pernah disebutkan namanya selain hanya sebagai Botchan saja yang figurnya hampir merupakan representasi dari kata tersebut. Dia adalah putera kedua dari keluarga terhormat yang pada masa kecilnya dikenal sebagai seorang anak yang minta ampun badungnya. Dia digambarkan sebagai orang yang bersumbu pendek, sangat gampang tersulut emosi, namun perasa dan tidak segan mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain.

Panggilan Botchan didapatinya bukan dari ibu ataupun ayah, namun dari Kiyo, pembantunya, yang nampaknya memang satu-satunya orang yang mau melihat sisi terbaik dari anak ini, dan memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya. Sang ibu yang sakit-sakitan lebih banyak marah dan kemudian menyalah-nyalahkannya atas sakit yang semakin parah dideritaanya. Segera setelah Sang Ibu meninggal dunia, Sang Ayah pun mengambil keputusan untuk setuju dengan perkataan almarhum istrinya dan mulai membenci anak bungsunya ini. Bahkan jika tanpa dihalangi oleh Kiyo, Sang Ayah sungguhan mengusir anak lelakinya yang masih kanak-kanak itu. Walaupun akhirnya tidak jadi, namun tetap saja perlakuannya terhadap Botchan tidak berubah. Namun karena Botchan sendiri bukan orang yang pencemburu dan iri terhadap perbedaaan perlakuan dari Sang Ayah terhadap dirinya dan Sang kakak, maka hidup berjalan terus tanpa banyak kesulitan.

Sampai Sang Ayah meninggal dunia.

Sang Kakak yang dianggap sebagai pewaris tunggal nampaknya cukup baik hati dengan memberikan uang sejumlaah 600 yen kepada adiknya yang masih remaja sebagai ‘pensiun’, hehe.. Hubungan mereka selesai sampai di situ. Sang Kakak memutuskan bahwa sudah tidak ada apapun lagi diantara mereka berdua. Pada saat itu satu-satunya yang ada di pikiran Botchaan adalah Kiyo yang sudah tidak muda lagi sedangkan yang dapat dia lakukan hanyalah menyisihkan sebagian uang pemberian itu kepadanya ditambah janji bahwa pada suatu hari dia akan datang kembali menjemputnya, dan mengajak Kiyo untuk tinggal bersamanya, jika keadaannya sudah memungkinkan. Tanpa diduga, janji ini sungguh-sungguh dipegang erat Kiyo.

Botchan pergi ke Tokyo dan memutuskan untuk menggunakan uang yang tersisa sebagai modal melanjutkan pendidikannya di sekolah guru. Beberapa tahun kemudian pekerjaan pertamanya pun datang. Dia dikirim menjadi pengajar matematika di sebuah sekolah desa di salah satu pulau di Jepang.

Membaca buku ini sungguh membuat pikiraan saya melayang kepada Les Choristes (silahkan baca ini dan yang ini) , bagaimana si Botchan yang waktu kecil minta ampun boadung itu pada akhirnya seakan mendapatkaan karma: harus mengasuh segambreng anak lelaki yang amit-amit jahilnya!
Tidak banyak berubah dari pembawaan masa kecilnya, Botchan tetap orang yang apa adanya. Malas untuk menjaga sikapnya sebagai seorang guru yang dianggap sebagai pekerjaan terhormat di masyarakat. Dia tidak berusaha menutup-nutupi kelemahannya dihadapan siswanya. Ketika mendapati sebuah soal yang tidak dapat dipecahkannya pada saat itu juga, dengan entengnya dia mengatakan bahwa dia tidak bisa namun tetap akan dia coba lagi di rumah. Kalau sudah dipecahkannya, dia janji, aakan membahasnya di kelas.

Okeh, itu memang hal yang biasa…untuk saat ini. Tapi karya ini sendiri keluar pada masa awal restorasi meiji yang pada saat itu, seorang guru mengatakan bahwa dia tidak tahu adalah hal yang sangat aneh. Maka mulailah ledekan ‘guru goblok’ menempel pada Botchan, ditambah pula dia dijadikan bulan-bulanan keisengan anak-anak yang kadang memang sudah menjurus ke kurang ajar. Tapi Botchan tetaplah Botchan yang dulu. Dia sama sekali tidak berusaha untuk mengambil hati mereka. Anak-anak didiknya ini barulah sadar bahwa Sang Guru Matematika yang selama ini mereka lecehkan itu adalah orang yang sungguh-sungguh peduli terhadap mereka. Tapi sayangnya itu sudah terlambat. Sang Guru sudah dipaksa mengundurkan diri dan pergi dari desa mereka.

Menghadapi anak-anak badung itu satu hal yang musti dihadapi dengan tabah oleh Botchan, walaupun gak pasrah-pasrah amat juga, sih! Menghadapi ruwetnya tetangga adalah hal yang lain lagi. Botchan yang walaupun berasal dari keluarga terhormat toh tumbuh besar di kota besar Edo (Ibukota Jepang sebelum Tokyo, baidewei!), maka kehidupan masyarakat desa benar-benar merupakan kejutan baginya. Masyarakat desa bukanlah sebagaimana yang selalu dilukiskan oleh para penulis yang romantis sebagai masyarakat yang sederhana, namun masyarakat yang ikut campur dengan urusan orang lain. Bahkan Botchan yang cueknya gak kira-kira itupun pada akhirnya harus mau lebih berhati-hati dan menjaga sikapnya.

Salah satu keribetan saat membaca karya asing adalah bagaimana menghafal tokoh yang berseliweran di dalamnya (Hmm, kalo saya nulis cerita, gak bakalan bikin nama-nama yang ribet, dah!), nah di kisah ini lebih diperumit lagi dengan kebiasaannya si Botchan yang suka memberikan julukan-julukanseperti ‘baju merah’ ‘badut’ atau ‘labu hijau’ kepada orang-orang yang tentu saja membuat kita harus lebih teliti lagi kalau gak mau kehilangan jejak.

Botchan adalah guru yang hebat, menurut beberapa tokoh di kisah, walaupun tidak banyak dikupas bagaimana manajemen kelasnya. Kisah lebih banyak berputar di ruang guru tempatnya sering berkeluh kesah mengenai rekan-rekannya. Ini agak saya sayangkan mengingat Natsume Soseki, sang penulis, sungguh-sungguh seorang guru dan peneliti yang pernah mengajar di desa pedalaman Jepang (Bukan! Kata penulisnya ini bukan kisah nyata maupun pengalamannya!) yang saya yakin, pastilah akan banyak yang bisa saya dapatkan dari situ.

Well, itu bedanya sebuah karya yang baik, bukan? Tidak lekang oleh waktu. Lewat 100 tahun kemudian, Botchan tetap hidup dan memiliki penggemar sementara Shinchan, yaa, waktu yang menjawabnya, hehe..

Dan satu hal yang kembali saya diingatkan adalah mengenai insting kita. Bahwa kadang-kadang, penilaian pertama-tama kita terhadap seseorang yang baru kita temui adalah penilaian yang paling benar. Dan kita tahu, pada saat itu juga, bahwa kita telah bertemu dengan sahabat kita.

4 thoughts on “Guru dalam Buku dan Film: Botchan (Botchan)

  1. Buku karya orang Jepang tentang sekolah yang sangat menginspirasi saya adalah Toto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Tentu Cekgu sudah membacanya bukan?

    Sepertinya Botchan ini menarik juga. Ini buku sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia kan Cekgu?

    • Toto Chan udah dwooong….

      Buku ini cukup menyenangkan dibacanya, Uda Ustadz. Dan nampaknya sih sang penerjemah memang berusaha banget untuk menafsirkannya sehingga menjadi bahan bacaan yang dapat dinikmati, hehe… Curhatan mengenai ribetnya mengalihbahasakan Botchan rada panjang juga soalnya. Ini Saya baca yang terjemahan Bahasa Inggris, tapi kayaknya yang Bahasa Indonesia juga ada. Liaat-liat pas browsing sih udah ada diterbitin oleh PT Gramedia.

  2. Halo Bu Al,
    Sudah lama sekali ndak berkunjung. Bagaimana siswa-siswanya ?
    Wah, referensinya mengingatkan saya ttg novel2nya Soseki.
    Saya lupa apakah sempat bawa pulang Botchan yg versi Jepang,
    novel-novel spt ini termasuk bacaan wajib di SD dan SMP di Jepang.
    Apalagi yg nulis Pak Natsume, semua kalangan menggemarinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s