Jangan Jadi Jahat

‘Kalau Saya, sih, sekolahan itu jadi pilihan terakhir, deh! Gak jelas!’

Itu kalimat yang dilontarkan oleh salah satu ortu kepada ortu murid kami, beberapa saat yang lalu. Pada saat pertemuan pertama walimurid di salah satu SMP tetangga kami.

Nyesek? Well, gak juga. Udah biasaa..

Seperti sering saya ulang di sini beberapa saat yang lalu, sekolah ini adalah sekolah pilihan terakhir dimana anak-anak yang kami terima adalah anak-anak yang kebanyakan gak diterima di sekolah lain. Sebagian besar karena masalah membaca. Karena seperti kita semua tahu, walaupun sebenarnya sekolah dasar itu tidak diperkenankan menolak siswa karena anak itu belum dapat membaca, seharusnya tugas guru sekolah dasar yang membimbing anak dapat membaca dan bukan TK, tapi toh kenyataannya seperti itu. Kebanyakan SD memang ogah repot ngajarin anak membaca.

Asiknya emang anak itu udah bisa baca pas masuk SD. Jadi bisa ngebut.

Nilainya bagus-bagus!

Sebagian lagi, anak kami adalah anak-anak dari keluarga pas-pas-san yang orangtuanya gak tega masukin anak ke SD negeri.

Minta maaf untuk semua guru SD negeri, tapi bagaimanapun, inilah kenyataan di sekitar kami.

Tahu, kan, cerita di TV tentang SD Negeri yang jumlah siswanya seabrek-abrek dan gurunya gak jelas ada atau tidak ada. Begitulah adanya.

Beberapa saat yang lalu, pada saat pertemuan di dinas pendidikan setempat, saya pernah bertukar kisah dengan salah satu guru SD Negeri yang masih muda dan bersemangat. Jarak antara sekolah itu dan sekolah saya hanya satu kali naik angkot. Dan dia berkisah, dengan sangat gembira, menceritakan bahwa sekarang sekolahnya sudah punya komputer. Dua buah. Jadi anak-anak bisa belajar TIK (Teknologi Informasi dan Telekomunikasi) dengan gak usah menghayal-hayal lagi. Udah ada komputer benerannya!

Tapi komputer itu diletakkan di rumah salah satu guru, bukan di sekolah.

Loh, kenapa?

Karena satu tahun sebellumnya, itu sekolah akhirnya punya pompa air juga (aka sanyo). Hasil minta kepada salah satu orang yang cukup kaya di desa kami.
Alhamdulillah, katanya. Sekarang anak-anak gak usah pulang kalau mau buang air.

Sebab biasanya begitu anak pulang, malah gak balik lagi ke sekolah. Bukan paada gak mau, tapi gak boleh sama ortunya. Ada yang disuruh jagain adek, lah. Ada juga yang disuruh nyuci angkot. Duileeeh…

Tapi kenyataanya, itu pompa air hanya dapat mereka nikmati dua hari saja. HANYA DUA HARI! Padahal para guru udah berniat patungan buat naikin daya listrik nanti kalau gaji honorer mereka yang gak jelas kapan keluarnya itu dibayarkan oleh pemerintah daerah setempat.

Kenapa?

Pompa air itu udah keburu ilang. Seseorang mencurinya.

Saya terpana sampai lama.

Busyet, tega bener yang nyuri!

Jadi, kembali ke topik, para ortu yang masih punya keleluasaan dana lebih memilih sekolah swasta yang gak musti seabrek-abrek siswanya. Walaupun sekolah swasta itu sekolah yang paling murah bayarannya dan terutama lagi, bisa dicicil bayarnya.

Oh, ya, saya pernah berkisah, kan, bahwa ada satu SDN di tempat kami yang satu kelas siswanya ada 120 orang? Musti dibagi tiga sesi itu kelas. Pagi, siang, dan sore. Padahal gurunya dia-dia juga!

Bayangin betapa capeknya itu guru dari senen sampe sabtu musti ngajar tiga shift.

Bayangin, betapa siyalnya anak-anak yang dapet giliran shift ke tiga pas banget ketemu guru yang udah kelelahan dan pastinya gak bakalan ngajar dengan baik.

Jadi, menghadapi kata-kata diatas yang dikisahkan oleh salah satu wali murid bagi kami sudah biasa. Toh, semua juga tahu. Anak-anak yang gak diterima di sekolah swasta yaang lain, ditampung di sini.

Harusnya gak naik kelas tapi boleh naik kalo pindah, juga akhirnya nyampe disini.

Apalagi kami memang buka kelas berkebutuhan khusus. Yaudahlah, ini sekolah tempat anak-anak yang dilempar dari sekolah lain.

Karena tidak dapat membaca pada saat penerimaan murid baru.

Karena tidak lulus seleksi saat observasi psikologi dengan cap kemungkinan autis, ADD, ADHD, terlambat berkembang, pendengaran tidak maksimal, speech delay, hydrocepalus, taurette syndrome, dan macem-macem lagi.

Dan yang kita lakukan hanyalah meneriima anak-anak yang kebingungan mau kemana ini, lalu bekerja sebaik-baiknya untuk mereka.

Tentu saja, itu sudah masa lalu. Bukan berarti kami tidak maju-maju pula!

Beberapa saat yang lalu sekolah kami mulai meluluskan siswa. Merupakan sebuah kejutan luarbiasa bahwa ternyata sekolah kami pada kenyataannya toh malahan dapet top score untuk tingkat kecamatan.

Berdua sih, dengan salah satu sekolah negeri yang kami juga gak ngeh di mana lagi letaknya. Konon sih yang ada di tengah sawah sana.

Uh, saya seneng banget nyeritain ke anak-anak saya kalau top score nilai UN di kecamatan ini adalah sekolah yang ada di tengah sawah itu! Malu gak sih! Kita ada AC-nya, lowh! Lampunya philips, ada empat di setiap kelas. Dan kita punya komputer dengan jaringan internet yang jumlahnya sama dengan jumlah anak di setiap kelasnya. Sementara sekolah ituuuu, lampunya yang kuning krenyek-krenyek. Itu juga gak bakalan dinyalain kecuali kalo hari bener-bener gelap karena hujan lebat. Sambil ngarep itu lampu belon putus juga!

Iyaaa, cuma kecamatan. Tapi masa sih kita bisa ngalahi sekolah-sekolah internasional, sekolah nasional plus dan beberapa sekolah yang moahalnya amit-amit muridnya cuma 20 sekelas gurunya dua: satu guru lokal, satu guru bule!

Itu bukan ukuran! Nilai UN bukan ukuran!

Tapi beberapa saat kemudian, pada tahun ini, selama berbulan-bulan kami mendapat banyak kisah yang menyenangkan, dari anak-anak kami yang telah berada di SMP.

Salah satu siswa kami terpilih bersama segelintir siswa SMP dari tempat-tempat lain untuk dikirim ke LN sebagai duta dari Indonesia.

Ada siswa kami yang ke LN juga sebagai bagian dari tim olimpiade sains dan robot.

Beberapa ortu murid berkisah bahwa anaknya mendapat juara pertama di sekolahnya, atau di kelasnya.

Di provinsi yang lain, siswa kami juga terus melaju sana-sini di kejuaraan renang dan taekwondo. Dia masih belum memutuskan mana bidang yang akan ditekuninya benar-benar.

Dan kalimat yang pertama saya kisahkan itu, datangnya dari salah seorang Ibu yang anaknya dulu adalah siswa yang suliiiit di sekolah kami. Siswa yang beneran, menumpahkan air mata guru-guru juga. Siswa yang membuat kami garuk-garuk kepala menanganinya.

‘Itu kata-kata ortu murid lain pas pertemuan pertama kali, Bu. Saya sampe malu dan males dateng. Tapi kenyataannya, ternyata anak saya sekarang juara satu di sekolahnya. Di sekolahnya! Waduh, saya bilang ke anak saya, Ibu Alifia musti tahu ini. Ibu dua kali jadi walikelas anak saya. Dia gak boleh lupa sama Ibu.’

Saya kira, dilupakan memang udah cerita biasa buat kami para guru sekolah. Kebanyakan toh yang diingat guru sekolah itu jahat tukang menghukum tukang ngatur. Tapi saya ikut senang bahwa kamu berhasil meraihnya, Nak. Kamu akan survive di dunia yang liar ini. Jangan jadi orang yang merugikan orang lain, itu doa kami para guru SD kepada kalian. Itu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s