Home

Beberapa waktu yang lalu, saya memutar film dokumenter berjudul Home di kelas 4.

Okey, ini film sebenernya udah jadul punya. Keluaran tahun 2009.

Menceritakan tentang keadaan planet kita ini yaitu Bumi dengan rentang penceritaan dari asal mula bumi terbentuk sampai masalah-masalah yaang dihaadapi pada saat ini. Point penting yang saya ambil pada film ini adalah bahwa si pentutur kisah mengambil posisi yang positif dan bukan pesimis. Kita diajak mengenal apa saja yang diderita Ibu kita ini, tapi juga memberikan pemikiran bahwa kita pasti bisa menjaganya. Kita pasti bisa untuk mempertahankan kehidupan seluruh makhluk diatas rumah kita.

Jangan kepikiran gaambar-gambar dengan visual efect yang heboh menggambarkan permulaan kehidupan di Bumi. Kalo dilihat dari visualisasinya aja, maka saya akan mengatakan itu sungguh KEREN buat kita orang dewasa, tapi luarbiasa MEMBOSANKAN untuk anak-anak.

Dan jangan juga kepikiraan kalo guru menayangkan film itu artinya hanya menyetel film dan melongo nonton dowang. Kita juga harus mau menerangkan dan menceritakan untuk menunjukkan apa yang sebetulnya ingin kita sampaikan melalui film itu.

Maka dari sekitar 90 menit film berjalan, tinggal 60 menit selepas proses editing saya (bukan karena ada gambar yang gak pantas, tapi karena terlalu lama aja), saya haanya dapat mempertahankan kosentrasi penuh sekitar 40 menit saja. Sisanya mulailah anak-anak nguap sana-sini.

Cuma gambar-gambar dowang soalnya dan orang ngomong.

Tapi saya kira itu cukup. Duapuluh menitnya adalah bonus. Apa yang ingin saya sampaikan sudah saya sampaikan, selanjutnya, mereka bisa lanjut menonton sampai habis dengan segala gaya.

Segala gaya ini boleh sambil diskusi. Dan percayalah, membiarkan film berjalan otomatis menjaga diskusi anak gak jauh-jauh dari itu juga sebenarnya.

Saya kira justru yang paling menarik saat pemutaran film Home ini adalah pada saat terakhir ketika film sudah habis dan credit muncul. Saya sengaja tidak pernah memotong credit title untuk menunjukkan bahwa saya menghargai para pekerja film yang telah susah payah membuat karya ini.

(Denger, tuh, Trans Brother! )

Okeh, saat credit title muncul, anak-anak bersorak soray.

Bukan karena kenyaataan film telah habis, bukaaaan. Tapi karena di credit titlenya, gaambar-gambar yang ditayangkan adalah sebagian gambar yang sudah tayang, tapi dengan tulisan nama negaranya terpampang jelas.

Namibia.

Equador.

Brazil.

Dan setiap kali nama negara muncul, anak-anak bersorak. Berteriak!

Argentina.

‘JAGOANKU!’ Ini maksudnya tentu saja bola!

Islandia.

‘KEREN!’

United Kingdom.

‘AKU MAU KE SANA!’

‘AKU JUGAAAA!’

Netherland

‘Uuuu! Penjajah!’

‘Itu kan negaranya kakekku! Tauuu..’ Salah satu anak kelas 4 yang memang keturunan blasteran Belanda Indonesia sewot berat.

Qatar

‘Hah? Negara apaan, tuh!’

Spain.

‘Akuuu… Akuuuu…’

Dan tentu saja yang paling gempita adalah saat yang muncul negara…

Indonesia.

Dan semua anak mendadak berteriak. Semuanya.

‘HOME!’

Mengangkat tangan. Bersorak. Tepuk tangan.

……..

Ya ampun, seandainya saja saya tahu bakal begitu, niscaya saya rekam, deh, adegan itu. Sungguh mengharukan, loh.. Bener!

Download Home disini: CD1. CD2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s