Unbreakable

Pernah melihat film Unbreakable?

Itu film tahun 2000 yang ditulis dan disutradai oleh M. Night Syahmalan, sutradara fave saya. Film itu menceritakan mengenai seorang laki-laki yang yang menjadi satu-satunya korban selamat dari sebuah kecelakaan kereta api. Bukan hanya dia adalah satu-satunya orang yang masih hidup, tapi dia bahkan tidak terluka sedikit pun. Tidak pingsan, dan tidak tergores sedikitpun. Sementara itu di bagian lain, ada pula seorang laki-laki yang dijuluki Mr. Glass. Julukan itu didapatkannya karena dia, sejak lahirnya, adalah seseorang gak pernah lepas dari cedera. Benturan sekecil apapun membuat tulang-tulang di sekujur tubuhnya remuk ataupun patah.

Ingat?

Saya mendadak teringat suatu percakapan di dalam film. Dikisahkan pada beberapa belas tahun sebelumnya, Mr. Glass menolak untuk keluar rumah. Sehari-harinya hanya dihabiskan di sofa di depan TV.

‘Jangan duduk di ruangan ini terus.’ Kata Sang Ibu kepadanya. ‘Sudah sering kali kukatakan.’

‘Aku tidak mau main diluar lagi. Aku tidak mau cedera lagi. Cukup ini yang terakhir.’ Tangan Mr. Glass masih terbalut gips.

‘Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kau bisa saja jatuh di sini. Diantara bangku dan televisi. Jika itu yang dikehendaki Tuhan, maka terjadilah. Kau tidak bisa sembunyi dari-Nya di ruangan ini.’

‘Disekolah aku dipanggil Mr. Glass karena aku mudah patah seperti kaca.’

‘Kau membuat keputusan sekarang untuk menjadi penakut, maka kau takkan bisa mengubahnya lagi. Seumur hidupmu akan ketakutan.’

…..

‘Aku punya hadiah untukmu.’ Kata Sang Ibu mengakhiri hening yang cukup panjang.

‘Kenapa?’

‘Jangan tanya ‘kenapa’. Kamu mau atau tidak?’

(ngangguk)

‘Ambilah kalau begitu.’

‘Ada di mana?’

‘Di kursi…di seberang jalan.’

Si Anak pun keluar rumah dan menyebrang jalan. Menemukan bahwa hadiah yang diberikan ibunya adalah sebuah buku komik superhero.

‘Aku beli banyak sekali.’ Kata Sang Ibu. ‘Akan ada satu untukmu, setiap kali kamu berani untuk keluar rumah dan berjalan ke sini.’

Sang Ibu tahu bahwa anaknya bisa saja jatuh lagi dan terluka atau bahkan patah. Mungkin saja Sang Anak tidak akan selamat kali ini. Tapi dia tetap memaksa Sang Anak untuk pergi dan berjuang melawan ketakutannya sendiri.

Tentu sebelumnya, dia telah sepenuh hati melawan dirinya sendiri.

Beberapa tahun yang lalu saat eskul Tae Kwon Do, salah satu anak ditunggu jemputan untuk pulang. Dia nangis karena ingin ikut Tae Kwon Do. Ibunya melarang keras. Sebelumnya ini anak pernah jatuh dan terluka. Dia nangis sedih sekali membuat kami para guru jadi serba salah. Lalu salah seorang ibu, bukan ibunya anak ini, memeluk Si Anak sambil menangis tersedu-sedu.

‘Sabar ya, Nak. Mungkin tahun depan kamu boleh ikut Tae Kwon Do lagi.’

Selepas Si Anak pulang, Sang Ibu yang tadi memeluk anak yang menangis, masih juga menangis terisak-isak. Dia termangu di pinggir lapangan mengawasi anaknya yang sedang latihan di area spesial. Area ini diperuntukkan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian ekstra.

‘Seandainya anak saya seperti anak itu. Sehat dan kuat. Anak saya kayak anak-anak yang lain yang lincah jumpalitan. Tapi bedanya anak lain kalau cidera akan sembuh. Sedang anak saya kalau terluka bisa mati. Tapi saya kan gak bisa mengikat anak saya di tempat tidur, Bu. Dia berhak hidup.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s