Kalimat yang Baik dan Buruk

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (TQS Ibrahim [14]: 24-25).

Apa sih yang harus kita lakukan seandainya kita curiga kalau anak-anak didik kita mengalami domestic abuse? Apa yang kita lakukan jika salah satu ortu murid berkisah bahwa dia mengalami domestic abuse?

Beberapa kali saya dicurhatin oleh salah seorang siswa mengenai pertengkaran-pertengkaran rumah tangga yang berlangsung di rumahnya. Dan yang saya lakukan hanyalah menasihati untuk bersabar atau tidak memikirkannya lebih lanjut. Karena ayah dan ibu pun kadang bertengkar, seperti juga kita sama teman yang suka juga bertengkar kadang-kadang. Dan saya tahu, pertengkaran-pertengkaraan ini mungkin hanya pertengkaran biasa, tapi anak-anak bisa saja memikirkaannya lebih jauh.

Terkadang memang, kalaupun biasa, tapi kata-kata yang dipilih oraangtua itu sangat buruk dan mengganggu anaknya. Misalnya ada salah satu anak perempuan yang berkisah bahwa ibunya berteriak kepada ayahnya melalui telpon dan mengatakan:

‘LO KALO SELINGKUH  LAGI GUA BUNUH DIRI!’

Entahlah apa maksudnya itu. Mungkin, yaaa…mungkin saja itu hanya becanda. Tapi bayangkan saja bagaimana perasaan Si Anak saat melihat ibunya berteriak-teriak dan mengucapkan kalimat itu kepada ayahnya.

Nak, mungkin itu Cuma becanda aja. Tau, kan, kadang ada aja orang yang bertengkar ssuka mengucapkan kata-kata yang kayak gitu. Ingat Kakak Nuri yang udah lulus itu? Sering banget kena hukum gara-gara kalo marah, dia bilangnya kayak gitu dengan bahasa lebih kasar lagi.

‘Ooo.. Kalo Ibu..kalo suami ibu selingkuh juga mau bunuh diri?’

*gabruk!

Nak, itu bukan perilaku yang patut dicontoh. Jangan diikuti omongan seperti itu. Gak usah dipikirin. Mungkin ituibumu lagi cerita sinetron aja sama ayahmu.

Tapi beneran loh, kita sering berpikir yang tidak-tidak dari sebaris atau dua baris kalimat yang kita dengar. Mari kita kesampingkan kisah apakah Ibu si anak ini memang bermaksud atau tidak mengenai omongannya, tapi akhir-akhir ini, saya agak kehilangan rasa tenang pada malam khususnya jam-jam menjelang tidur.

Karena itu saat biasanya tetangga mulai berteriak-teriak lagi.

Bertengkar.

Bayangin suaranya sampe ke dinding kamar tidur di kediaman saya maka tau sendiri kan betapa kerasnya teriakan-teriakan itu.

Walaupun berkali-kali saya diingatkan dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak ikut-ikutan ngurusin rumah tangga orang lain, tapi teteup aja suka kepikiran dan bahkan terbawa mimpi!

Ya, ampun.. Saya harus mengurangi nonton film horor dan bunuh-bunuhan!

Padahal saya gak mengenal dekat dengan tetangga saya yang itu. Yah, selain memang orangnya jarang keluar rumah pun saya juga jarang bergaul dengan tetangga kecuali dengan anak-anak aja. Maka saya tidak tahu menahu mengenai orang itu. Tapi teteup rada kepikiran juga. Lah, gimana kalau kita sebagai anak (kecil) yang menonton orangtua kita bertengkar, yah?

Lalu bagaimana jika kita menjadi saksi dengar dari pertengkaran atau, yah, bisa dikatakan kekerasan yang dilakukan oleh teman kita sendiri?

Beberapa saat yang lalu, salah seorang rekan guru curhat panjang lebar mengenai salah satu dari kami juga. Ini yang berkisah ceritanya baru pindah rumah ke sebelah rumah rekan yang diceritakan itu. Dan rekan yang diceritakan itu adalah seorang guru yang soangat penyabar.

Beneran! Dia walikelas kecil yang kayaknya gak pernah marah. Selalu tenang dan terkendali.

Maka bayangkan betapa terkejutnya rekan yang baru pindah itu saat pertama kali mendengar dia berteriak-teriak kepada anaknya dengan kata-kata yang amat kasar.

Rekan itu berpikir bahwa mungkin anaknya yang saat ini duduk di kelas 6 SD memang gak ketulungan boandelnya. Soalnya dari cerita-ceritanya, kayaknya dia beneran banggaaa banget sama anaknya yang selalu dewasa dan nilainya bagus-bagus.

Tapi peristiwa ini berulang nyaris setiap hari. Kadang jeritan Si Anak sampai terdengar begitu keras diiringi dengan sedu sendannya.

Dan dari hasil dengar-dengar yang sebenernya gak kepengen juga kedengeran itu, permasalahan anaknya adalah hal-hal yang biasa. Seperti dia suka ledek-ledekan di facebook sama temennya. Atau dia mulai suka-sukaan sama temennya. Hal-hal yang sebenernya bisa diselesaikan dengan cara bicara dari hati ke hati. Dan sebagai guru SD, sementara anaknya pun masih SD, dia seharusnya lebih memahami ini.

Bagaimanapun, suara-suara di sebelah itu membuat Sang Rekan menjadi gak betah dan berniat untuk pindah lagi. Demi ketenangan jiwanya dan ketenangan keluarganya juga.

Pastinya, saya gak mau anak saya tumbuh mendengar itu semua tiap hari, Bu, katanya.

Well, saya ngat dengan film pendek berjudul BlinkyTM yang saya saksikan beberapa saat yang lalu. Berkisah tentang seorang anak yang memiliki teman seoraang robot.

Ini ceritanya di dunia di mana robot sudah diproduksi secara masal dan dijual bebas.

Si Robot bukan hanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, tapi juga bisa menjadi teman anak-anak. Dan ortu si anak yang memiliki robot ini sering bertengkar hebat. Maka setiap kali orangtuanya bertengkar, Si Anak melampiaskan kekhawatiran dan kekesalannya kepada Blinky. Sampai suatu ketika, Si Anak berteriak-teriak marah pada saat sekai lagi dia menyaksikan orangtuanya bertengkar, dan kelepasan bicara:

‘BUNUH ORANGTUAKU! BUNUH AKU! BUNUH SEMUA ORANG!’

Blinky-nya langsung eror.

Si Ibu yang masih emosi mengetahui bahwa mainan mahal yang diberikannya kepada Sang Anak rusak pun kelepasan bicara.

‘KALAU INI TERJADI LAGI MAKA IBU AKAN MENYURUH BLINKY UNTUK MEMASAKMU SEBAGAI MAKAN MALAM!’

Maka beberapa hari kemudian, saat makan malam, Sang Ibu bertanya pada Blinky mengenai anaknya yang tidak hadir di meja makan. Blinky menjawab bahwa anaknya ada di atas meja dan Sang Ibu sedang memakannya.

TENTU SAJA itu hanya film.

Tapi saya kira kita seharusnya bisa untuk menahan diri dari kata-kata yang sungguh buruk kepada orang-orang yang kita sayangi.

5 thoughts on “Kalimat yang Baik dan Buruk

  1. Mulutmu harimaumu😦
    Pilem blinkynya sereeem.

    Mpok, si teman jd pindah rumah?
    Aku bingung, klo di sekolah bisa halus manis, di rumah kow gitu?
    Aneh

  2. Kita sbagai ortu (di rumah maupun di sekolah), seharusnya selalu belajar utk memahami, menyelami dan mengerti apa yang di inginkan oleh anak, agar cerita di atas tdk terjadi pada kita dan orang-orang di sekitar kita, Amiiin ….. Insyaa Allah ….

  3. *Glek* huwaaa, kasihan ibu-anak itu… Kalo sesekali marah sih saya kira wajar, Bu. Kadang kita juga pas lagi capek, jadi kurang sabar sama anak. Tapi kalo tiap hari?? Haduuh… *ndak tega mbayanginnya

    *glek lagi*
    Iiih, film-nya horor!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s