Visum

Beberapa saat yang lalu saya pernah menulis kisah tentang salah satu anakku yang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) yang menolak bicara kepada saya selama beberapa minggu setelah kejadian nyanyi di kelas. Nah, beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan ngobrol panjang dengan Sang Ibu yang menceritakan kejadian tahun lalu yang bertekad untuk tidak melupakannya, sebagai pelajaran pribadi. Karena kisah ini ternyata sedikit banyak, saya pun ikut terbawa-bawa juga. Hanya pada saat kisah ini meledak menjadi masalah, saya sedang cuti panjang pasca operasi.

Siswa ABK ini memang cukup spesial buat saya. Mungkin karena dialah siswa ABK pertama yang nongol di sekolah, dan entah bagaimana nampaknya dia memilih saya sebagai salah satu kawannya. Padahal saya bukan walikelasnya. Pun tidak terlalu banyak berada di sebelahnya. Saya hanya salah satu guru yang kebetulan mengajar kelasnya saja.

Mari kita sebut saja namanya Rully. Mungkin saya pernah menuliskannya dengan nama lain di blog ini hanya saya tidak ingat lagi. Yah, begitulah masalahnya kalau nama semua orang saya ganti-ganti seenak udel sendiri. Kadang suka lupa anak yang mana namanya siapa, hehe…

Saya pernah kisahkan anak ini memang sering mengajak saya bercakap-cakap, dengan caranya sendiri. Dengan bahasa yang sebetulnya tidak saya pahami. Terkadang dia berteriak-teriak minta ampun atau hal-hal yang seperti itu, walaupun tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Salah satu hal yang menjadi kebiasaannya adalah dia mengeluhkan sakit dari apa yang terjadi pada dirinya beberapa hari atau bahkaan minggu sebelumnya. Misalnya, dia pernah terantuk pinggiran tempat tidur beberapa hari yang lalu, nah itu akan dibahasnya, sambil bilang sakit-sakiiiiiiit, sampai berhari-hari kemudian.

Suatu hari dia lari dari kelasnya dan masuk ke ruang guru dan berdiri di hadapan saya.

‘Bu Alifia,’ katanya. ‘Kenapa sakit?’

Maksudnya, dia bertanya (atau ingin ditanya) kenapa dia sakit.

Kenapa?

‘Dicubit Pak hendy, aduuuuuh… Aduuuuh..’

Oh, mana yang dicubit?

‘kenapa sakit? Dicubit Pak hendy..aduuuuh… Aku kejedot, aduuuuh… Aduuuuh… Sakiiiiit..’

Pak Hendy adalah Shadow Teachernya.

Saya tidak pernah menanyakan balik mengenai itu kepada Pak Hendy, dan itu adalah penyesalan saya kemudian. Tapi saya pernah membahasnya bersama seorang kawan di ruang guru. Saya katakan bahwa si Rully akhir-akhir ini sering nangkep saya di mana-mana. Kadang dia lari dari kelasnya untuk mencari saya dan bilang-bilang kalau dia sakit. Katanya dicubit Pak hendy. Kamu pernah dicurhatin hal yang sama, gak, sama si Rully.

‘Enggak.’ Kata kawan dengan singkat. ‘Main-main kali.’

Mungkiiiin….

‘Si Rully kan apa-apa berlebihan. Dia lari kepentok dikit aja ngeluh sakitnya sampai berhari-haari. Mungkin Pak Hendy rada marah kali sama dia. Maklumlah, seharian suntuk megangin Rully. Capek kali, dia. Trus dicubit juga kali, ya.. Dikit. Cuma Rully kan gitu.’

Saya sempaat pula memberitahu walikelasnya Rully yaang kebetulan laki-laki, namun Si bapak hanya cengar-cengir aja. Mengatakan nanti dia akan cari tahu. Saya cukup tahu diri untuk tidak terlalu mencampurinya menangani kelasnya. Lagian, saya pun tahu, sebagai perempuan kadang suka berlebihan kalau udah urusan anak-anak yang terluka atau jatuh. Guru laki-laki biasanya emang gak gitu panikan.

Sampai suatu ketika saat Sang Ibu berniat memandikan anaknya (karena anaknya laki-laki dan udah gede, maka urusan memandikan lebih banyak diserahkannya kepada paman anaknya. Sang Ibu adalah seorang single mother) Si Anak menjerit-jerit saat celananya mau dibuka.

Dia bilang sakit.

Dan Sang Ibu kaget dong ternyata di paha anaknya terdapat jejak-jejak biru dan memar bahkan ada yang masih bengkak.

‘Dicubit Pak Hendy.’ Kata anaknya.

*JEGER!!!!

Kalap tingkat tinggi dan kebetulan Sang Ibu adalah seorang pengacara, maka saat itu juga dia potret kemudian dibawanya ke polisi untuk di visum.

Sebenernya, dia masih belum mengajukan tuntutan, itu dilakukannya hanya sebagai pengumpulan bukti jika nanti, kejadian ini akan dia bawa ke jalur hukum. Pada saat itu, dia hanya ingin bicara dengan Sang Shadow Teacher dan saya. Karena menurut pengakuan Rully, dia pernah menceritakannya kepada saya. Dan Sang Ibu beneran pengen tahu kenapa saya tidak melakukan apa-apa dan hanya diam saja.

Tapi saat dia tahu bahwa saya sedang dirawat di RS, maka dia memilih untuk tidak melibatkan saya ataupun guru yang lain termasuk walikelas anaknya. Dia hanya mau bicara dengan Sang Shadow.

Masalahnya Pak hendy gak pernah nongol lagi. Dia hanya mengirim pesan melalui BBM bahwa dia minta maaf atas itu semua. Dia pun tidak pernah muncul lagi di sekolah.

Sang Ibu bahkan pernah mendatangi kostannya Pak hendy yang entah apakah orangnya sedang tidak ada atau memang aja tidak dibukakan pintu. Kemudian Sang Ibu mengirim pesan kembali bahwa dia hanya ingin bicara. Sebutkan aja kapan waktu dan tempatnya.

Pesan itu tidak pernah dibalas.

Kemudian Sang Ibu memberikan ultimatum bahwa jika Pak hendy masih tidak mau menemuinya, atau dengan kata lain kabur, maka sebaiknya Pak Hendy gak usah pernah datang lagi ke sekolah. Karena Sang Ibu akan melapor dan menuntut secara resmi kalau dia melihat Pak hendy lagi di sekitar sekolah.

Sepertinya Pak hendy beneraan takut dengan ancaman itu, dan tidak pernah datang lagi. Lalu untuk asalah Pak hendy dengan sekolah atau apapun itu, tidak perlulah untuk dikisahkan.

Saya sungguh tidak tahu mengenai itu semua karena setahu saya, ketika masuk kembali setelah dua bulan cuti, memang Shadow Teacher-nya Rully sudah berganti orang. Dan saya tidak begitu terkejut mengenai Pak hendy tidak lagi bekerja di sekolah ini. Dan saya kira kita semua tahu bahwa kita tidak selalu dekat dengan semua orang. Tidak selalu peduli dengan semua orang. Ditambah saya pun adalah seseorang yang lebih suka menghabiskan waktu dengan main bola atau membaca buku di perpustakaan bersama anak-anak daripada ikut nimbrung dengan obrolan para guru yang menurut saya kadang…gak penting banget, sih!

Saya minta maaaf kepada ibunya Rully mengenai itu. Karena saya sungguh-sungguh tidak pernah menduga sampai seperti itu. Saya kira, peristiwa-peristiwa semacam itu hanya di tempat lain yang saya baca melalui berita.

Sang Ibu tidak mempermasalahkan itu kepada saya dan memang tidak pernah bermaksud untuk itu. Dia hanya minta tolong untuk membantu menjaga anaknya. Karena nampaknya anaknya percaya kepada saya. Dan Sang Ibu mengaku bahwa kejadian itu membuatnya agak trauma dan menjadi tidak percayaan kepada siapapun yang menangani anaknya. Termasuk Shadow Teachernya saat ini.

Shadow Teacher-nya Rully yang sekarang menjadi salah satu kawan terdekat saya di sekolah dan bertolak belakang sekali dengan Pak Hendy, baidewei! Dia orangnya soangat sabar, jauh lebih sabar dari saya, dan jauh lebih telaten juga. Bahkan sepertinya dialah Shadow Teacher paling telaten di sekolah saat ini. Lebih telaten dari yang cewek-cewek, hehe… Ibunya tahu, tapi dia tetap tidak pernah bisa mempercayainya. Tidak setelah kejadian itu.

Sekali lagi diingaatkan. Saya masih harus banyak belajar.

Satu pemikiran pada “Visum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s