Di Dunia Ini Ada Orang Pelit

Salah satu permasalahan anak-anak kelas kecil adalah soal memberi dan meminta mengenai makanan. Beuh, nyaris tiap hari ada ajalah anak-anak kelas satu atau dua SD yang mendatangi guru dan curhat:

Bu, aku gak dikasih (misalnya) cokelat sama si anu. Aku udah minta, tapi gak dikasih. Padahal kemaren (yang dimaksud kemaren ini mungkin berbulan-bulan yang lalu, yaou..) aku ngasih dia Chitato.

Gurunya akan mengatakan:

Mungkin si Anu lagi laper, Nak. Mungkin cokelatnya tinggal sedikit. Jadi gak mungkin bagi-bagi.

Si Anak akan ngotot bilang.

Tapi kan kita harus berbagi. Si Anu jahat, dong, Bu. Gak mau berbagi.

Beuh, meni maksa pisan, ya…

Tapi itulah. Bagi anak-anak, apapun HARUS. Kadang gak ngerti situasi dan kondisi. Dan hal-hal seperti ini yang kadang bikin salah paham. Soalnya anak-anak juga berbagai macam tabiat. Dan mereka belum ahli dalam membaca keinginan orang lain. Gak mengerti kalau orang lain sebenernya terpaksa, dan tidak mau, memberikan keinginannya.

Beberapa saat yang lalu, saya menghadapi persengketaan kecil masalah bagi meminta ini yang saya baru tahu setelah orangtua murid protes marah ke sekolah.

Jadi gini, kejadiannya pada saat istirahat kedua. Salah satu anak, mari kita sebut saja namanya A, sedang asik makan kue bolu kukus di pinggir lapangan.

Kemudian anak lain yaitu B menghampiri.

‘Aku minta, dong, kuenya..’

‘Yah, tinggal segigit, Kak.’ Ini si B adalah kakak kelasnya, ya.. ‘Aku masih laper, nih..’

‘Yaudah, deh, kalo gak boleh minta kuenya, aku minta yang itu aja, deh.’

Dia menunjuk tangan si A yang satu lagi yang sedang menggenggam uang 10 ribu rupiah.

‘Jadi aku bisa beli kue itu sendiri.’

Lalu dengan polosnya si A memberikan uang sepuluh ribu itu ke B. Kemudian, si B pergilah ke kantin dan menemukan kalau uang 10 ribu itu ternyata cukup buat beli kue yang sama 10 buah.

Dia makan satu, kemudian yang sembilan lainnya dia bagi-bagikan kepada sembilan orang lain yang sama sekali gak tahu menahu masalah si B dapet uang dari mana. Pokoknya yang mereka tau, si B bagi-bagi kue.

Bagaimana dengan A? Yah, itu anak sedih, lah. Duitnya raib diminta kakak kelasnya. Dan namanya anak-anak, begitu tiba di rumah, dia nangis tersedu-sedu kepada ibunya yang langsung sewot mencak-mencak ke sekolah yang tidak awas sampai tidak tahu kalau ada tukang palak di sekolah.

Ada lagi kisah, kali ini ceritanya tukeran uang.

Jadi ada dua anak perempuan yang mari kita sebut namanya C dan D. Ini berdua bercakap-cakap pada pagi sebelum masuk kelas. Si C pagi ini di beri uang berupa dua lembar seratus ribu untuk menabung, sementara si D juga diberi uang dua lembar lima ribuan juga untuk nabung. Mereka membanding-bandingkan uang itu.

Lalu, karena merasa gak seru kalau uangnya kok dikasih dua yang sama, maka mereka bersepakat untuk tukeran. Maka si C menabung satu lembar seratusribuan dan selembar limaribuan. Begitu pula si D. Bu TU Tabungan yang gak ngeh tentu saja mencatat sesuai yang disetorkan si anak.

Kebayang dong betapa terkejutnya Si Ibu C mengetahui yang tercatat adalah Rp. 105.000,00 dan bukan Rp. 200.000,00 seperti yang seharusnya.

Kisah lain lagi adalah dua anak lelaki yang kita sebut saja E dan F. Si E membawa bekal makan siang berupa burger. Saat akan memakannya, datanglah si F yang tertarik sekali dengan burgernya si E. Maka dia memintanya.

‘Bagi burgernya dong..’

‘Aku Cuma satu.’

‘Yaudah, ini aku punya permen dua. Buat kamu satu, deh..’

Maka ditukerlah sebuah burger dengan sebuah permen.

Kejadian-kejadian seperti itu seriiing sekali terjadi. Dan tergantung para ortu juga tanggepannya. Ada yang baik-baik menanyakan sebenernya ceritanya gimana sih kok bisa burgernya anak saya diambil sama temennya dan dituker permen? Tapi ada juga yang langsung marah-marah.

Bagi kami, ini rada njelimet juga. Kami mengajarkan untuk berbagi, tapi juga mengajarkan untuk tidak memaksa. Nah, masalahnya itu anak-anak juga gak pada merasa temannya terpaksa. Dan seperti saya katakan sebelumnya, pada saat ini, dunia si anak adalah dirinya sendiri. Mereka belum ahli membaca keinginan anak lain. Maka gak heran kalau kejadian si anak yang satu nangis, atau orangtuanya yang marah pada esok harinya, sementara anak yang satu lagi gak merasa salah sama sekali.

Hari ini, itulah yang menjadi topik bicara saya saat menjadi pembina upacara senin pagi. Bagaimana caranya meminta kepada teman, dan kapan kita haarus berhenti.

Intinya sih, saya menegaskan kalau meminta dalam bentuk uang itu dilarang. Meminta kepada teman hanya boleh yang berupa makanan atau minuman.

Bagaimana kalau minjem duit, tanya anak-anak kelas enam. Yah, kelas enam kan sudah besar. Kadang mereka pun suka meminjam duit temannya. Kalau hari ini dia gak bawa duit (di sekolah kami, tidak setiap anak membawa uang), tapi dia ingin jajan.

Meminjam uang teman boleh, tapi hanya untuk satu hari. Besok harus dilunasi. Dan itupun hanya diperbolehkan untuk kakak-kakak kelas lima dan enam saja.

Tanpa memaksa.

Maksud saya tanpa memaksa adalah, kalaau mereka meminta sesuatu, baik makanan, minuman, maupun minjam uang untuk kelas lima dan enam, itu hanya satu kali meminta. Kalau teman bilang ‘gak boleh’ atau diam saja atau bilang ‘cuma punyaa satu, nih’ , berarti dia tidak memberi. Dan mereka harus terima itu. Kalau dua kali, berarti itu sudah memaksa. Dan itu dilarang. Bahkan bisa dibilang ‘memalak’.

Tapi teman yang dimintain sesuatu itu juga HARUS bilang dengan jelas kalau dia tidak mau memberi. Jangan diam saja. Bilang dengan jelas, AKU GAK MAU MEMBERIMU INI, MAAF, YA.

Aku butuh uang ini untuk ongkos pulang.

Atau, bisa juga bilang:

Aku gak mau pinjemin kamu uang soalnya kamu suka lupa ngembalinnya, sih.

Tapi kenapa teman tidak mau memberi? Tanya anak-anak kelas kecil. Kan kita harus saling memberi.

Mungkin ada alasannya, kata saya. Mungkin teman kita sedang soangat lapar dan makanannya tinggal sedikit. Jadi tidak mungkin memberi. MUNGKIN kamu pernah tidak mau memberi sesuatu kepada dia, makanya sekarang gantian, pas dia punya makanan, dia tidak mau memberi kamu. Atau mungkin, teman kamu emang orangnya pelit. Dan kalian harus menerima kalau di dunia ini, ada orang-orang yang pelit. Jadi kamu istighfar saja. Lalu mendoakan agar teman kita itu diberi hidayah dari Allah supaya gak pelit lagi. Okey…

Hihihi… Anak-anak…

2 thoughts on “Di Dunia Ini Ada Orang Pelit

  1. waktu TeKa pernah juga di mintain jajan bekal makan siang sama teman dan aku sukarela memberi (karena emang gak mood saat itu untuk makan hehe)

    Pas aku cerita ama nyokap, nyokap langsung ngomong “dasar bodooh, itu kan buat kamu”
    Mungkin maksudnya nyokap gak jahat tapi yg tertanam di otak mini saya saat itu adalah BAIK = BODOH wkwkkwkwkw 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s