Carnage

The issue is not whether we are there, whether we are not there. The issue is, do they want to talk about this, do they want to work this out.

Tahun kemarin, kami menghadapi pertengkaran anak yang melibatkan orangtua. Dan itu semua berujung dua guru setres minta ampun. Salah satunya sampai sakit dan absen selama satu minggu. Padahal masalahnya juga gak gede-gede amat.

Gara-gara pertikaian di facebook. Dan sempat bikin saya ikutan sewot dan berkoar-koar masalah komentar dan membalas komentar di dunia maya pada setiap kelas yang saya masuki.

Jadi anak yang satu, yang memang anaknya agak terbuka, menulis status tentang apapun yang terlintas di benaknya. Salah satu anak di kelasnya meledek. Namun karena mereka berdua tidak bersahabat, maka ledekan yang sebenernya Cuma becanda itu ditanggapi serius dengan balas mengejek juga. Dan, BOOM, akhirnya ledekan itu kemudian menjadi perang besar saling ngatain satu sama lain.

Tapi yang namanya Facebook tentu saja apapun yang kita tuliskan bukan hanya jadi masalah berdua saja. Ada ayah, ibu, paman, bibi, teman ayah dan ibu, guru, bahkan nenek dan kakek ikut baca juga. Nah, orang-orang ini terkadang tidak mengerti apa-apa tapi tau-tau ikut mengintervensi permasalahan. Ceritanya hanya peduli tau-tau jadi masalah keluarga. Nah, pada saat itu bayangkan bagaimana kabar Sang Ortu yang mendadak dinaasihati semua orang: Kamu harus menyelesaikan masalah ini. Ini bisa dibawa ke pengadilan, loh!

‘KAMU INI GIMANA SIH! ANAKMU LOH YANG KENA MASALAH. MASA GAK MAU TAU! IBU MACAM APA?’

Saya tahu para guru itu banyak yang punya FB dua: satu untuk kehidupan pribadi mereka dan yang satu lagi untuk mengawasi anak-anak. Dan sebagai guru tentu kita harus bisa bermain. Jangan apa-apa langsung diprotes atau dimarahin. Jangan bikin anak tahu banget kalo mereka itu diawasi. Karena tentu saja, sangat mudah untuk ‘kabur’ dari jangkauan kita. Biasanya yang saya lakukan adalah membahasnya di kelas, tanpa menyebutkan nama atau kasus secara spesifik melainkan agak nyerempet mengenai itu. Secara umum saja.
Maka suatu ketika, datanglah keluarga si anak yang pertama. Saya bilang keluarga, yah, itu artinya bukan Cuma ortu yang datang, tapi juga nenek dan bibi segala di bawa-bawa. Mereka minta bertemu dengaan Sang Walikelas, lalu moarah-moarah!

Berjam-jam!

Jadi, Sang Walikelas saking bingung dan ruwetnya, juga tambah perasaan bersalah dan takut saat si nenek tereak-tereak mengenai pasal penghinaan, maka dipenuhilah permintaan Sang keluarga untuk bertemu dengan anak yang kedua!

Kesalahan besar!

Maka saya pesankan kepada para guru yang sedang mengalami hal yang sama, permintaan seperti itu jangan pernah dipenuhi. Paling tidak, jangan dipenuhi sebelum Anda berbicara dulu dengan orangtua anak yang satunya.

Kawan saya ini memenuhi permintaan itu. Saat menjemput si anak, dia katakan bawa apapun yang terjadi, minta maaf ajalah. Gak usah di panjang lebarin. Toh memang kamu juga salah.

Jadi si anak datang, menunduk, minta maaf.

Apakah Sang Keluarga luluh dan mau memaafkan? Well, harusnya begitu. Tapi janganlah kita langsung menyerah kepada karakter hanya berdasarkan bicara-bicara  dalam waktu beberapa jam saja. Karena orangtua akan meradang seperti singa yang terluka demi melindungi anaknya.

Tentu, siapa yang tidak?

Mengetahui si anak menerima semuanya, tau-tau segalanya jadi kacau balau. Si Nenek mulai membentak-bentak dan mengata-ngatai si anak yang kedua. Si Bibi mulai menghina orangtua anak yang kedua. Sampai akhirnya Bu Walikelas menghentikan itu semua.

Trus, memangnya si anak yang kedua gak punya perasaan? Biar diam saja, tapi dia tentu saja tidak terima dibentak, dikatai, dan bahkan orangtuanya pun dihina.

Memangnya dia gak punya orangtua?

Maka dari yang tadinya Sang Ibu dari anak yang kedua bingung dan khawatir saat diminta datang esoknya pada pagi itu juga, malamnya setelah si anak menceritakan peristiwa itu, keadaan sudah berubah. Sang ayah menelpon Pak kepala Sekolah dan Bu Walikelas dengan membentak-bentak tidak terima. Bu

Walikelas yang kebingungan yang ruwet gara-gara seharian ini dibentak-bentak sama dua keluarga itu akhirnya mengadukan gundahnya kepada suaminya.

Yah, siapa lagi? Tentu curhat ke suami sendiri, bukan?

Eh, malah dimarahin sekali lagi sama suaminya.

‘SIAPA SIH MEREKA! EMANG KAMU DIGAJI BERAPA BUAT JADI GURU SD? UDAH SEHARIAN NGASUH ANAK ORANG, DIBENTAK-BENTAK PULA! GAK USAH KERJA LAGI! KAMU PIKIR GAJIKU NGGAK CUKUP BUAT KITA? HAH! MANA ALAMATNYA! GUA HAMPIRIN JUGA MEREKA!’

Dan sakitlah Bu Walikelas. Seminggu gak masuk sekolah.

Bukan berarti masalah pertengkaran anak ini bisa ditanggapi dengan dewasa pula, loh, oleh guru. Karena saya pernah mengalami kejadian yang hampir sama, tapi kali ini dengan guru lain.

Sekitar tahun kemarin atau sebelumnya (saya lupa!) tau-tau saya menerima aduan telpon dari salah satu ortu anak saya. Agak sewot memang. Sang ibu bilang kalau anaknya dimintain uang oleh kakak kelasnya. Dan tau-taulah seakan saya yang memalak anaknya karena justru saya yang kena bentak juga.

Well, karena itu lain kelas, gak mungkin dong saya tarik si kakak dan tanya-tanya ada apa. Saya kenal watak walikelasnya soalnya. Gak semua orang bisa terima anaknya disidang oleh selain dia. Diaa akan tersinggung berat. Maka saya beritahu mengenai masalah itu.

Kan, biasanya kalau walikelas dapet aduan seperti itu ya anaknya dipanggil dan ditanya ceritanya gimana. Lalu ditegaskan kalau itu tidak boleh.

Begiitu kan? Heey, ini anak-anak SD! Mereka masih bisa dinasehati.

Siangnya justru anak saya yang dipanggil guru BK. Disidang karena katanya dia suka nonton film porno.

Hah? Kok jadi ke film porno?

Jadi ternyata saat si Kakak Kelas ditanya, dia bilang kalau itu anak suka nonton film porno di rumah. Maka dia bilang bahwa sebagai hukuman, dia harus membayar sejumlah uang kepada kakak kelas.

Saat saya konfirmasi kepada Sang Walikelas, dia balas sewot kepada saya. Mempertanyakan kesigapan saya sebagai walikelas. Kok, anaknya suka nonton film porno malah diam saja. Bahkan dia membentak saya dan mengatakan kalau anak saya itu porno!

Saya jadi garuk-garuk kepala.

Beberapa saat kemudian, saya ajak bicara si anak. Dia mengaku kalau suka nonton film porno.

Loh, memang orangtuamu gak ngelarang. Itu kan gak baik.

‘Tapi mama dan papaku juga nonton bareng sama aku.’

Owh, trus pornonya kayak gimana, sih?

‘Filmnya ada ciuman-ciumannya.’

Trus, udah itu aja?

‘Trus pake bajunya juga menampilkan aurat.’

Menampilkan aurat kayak gimana?

‘Kadang pake baju renang. Trus seringnya gak pake baju menutup aurat.’

Misalnya?

‘Kalo yang laki-laki suka pake celana pendek. Trus yang perempuan malah lebih parah lagi. Lebih kebuka, Bu.’

Ngng, aurat itu sebatas mana, sih, Nak?

‘Kalo laki-laki kan dari pusar sampe lutut. Kalo perempuan semuanya kecuali muka dan telapak tangan. Kata Pak Ustadz gitu. Tapi kata mama, aku boleh nonton ciuman asal ada mama sama ayah. Kalo gak ada, aku gak boleh nonton.’

Nah, loh!

Jadi terbuka aurat dan ciuman masuk kategori porno menurutnya. Porno yang masih boleh dilihat asal ada orangtuanya. Maka kebayang dong saat lagi ngobrol-ngobrol si anak berkata:

‘Aku pernah nonton film porno. Sering. Di rumahku.’

Dan pikiran kita orang dewasa udah kemana-mana.

Kemudian Sang walikelas, entah didorong rasa ingin melindungi anaknya atau dirinya sendiri dari kesan walikelas yang perfect dan gak terima bahwa anaknya berbuat salah, menjadikan itu sebagai senjata yang kemudian mengaburkan masalah yang sebenarnya yaitu malak-memalak dan ancam-mengancam.

Bahan pelajaran banget buat saya. Lain kali kalau ada masalah berkaitan dengan kelasnya dia, mendingan gak usah bawa-bawa ntu orang. Langsung tarik aja anaknya dan ajak ngobrol. Masa bodo amat nanti saya diaduin ke bos atau dia marah besar sama saya yang penting anak saya gak apa-apain.

Well, beberapa hari yang lalu saya kembali mendapatkan permintaan salah satu ortu murid yang ingin bicara mengenai beberapa anak. Gara-gara anaknya nangis karena dimusuhin oleh anak-anak lain di kelasnya. Permintaan itu tidak saya kabulkan. Walaupun Sang Ayah berjanji tidak akan marah-marah, hanya ingin tahu ada apa sebenarnya. Saya katakan bahwa saya akan bicara dulu kepada ortu anak-anak yang lain itu. Saya khawatir nanti ada salah pengertian saja. Dan Sang Ayah mengerti itu.

Jadi, apa hubungannya dengan Carnage?

Itu judul film yang sedikit banyak mirip dengan kisah-kisah yang sebenernya kta pasti maklum, tapi ketika kejadiannya datang, kadang kita sebagai orangtua juga tidak dapat menahan diri, bukan?

Carnage adalah kisah tentang dua orangtua yang bertemu dan membicarakan pertengkaran anak-anak mereka. Film diawali dengan kedua orangtua kalem saling mengerti, namun seiring waktu, pembicaraan menjadi panas dengan naluri untuk melindungi anaknya masing-masing. Dari dua keluarga diakhiri dengan empat individu saling menyerang satu sama lain. Padahal pada saat yang sama itu, anak-anak mereka telah kembali bermain bersama dan saling memaafkan satu sama lain.

Kisah yang klasik, tapi percayalah ini masih akan bergulir. Evergreen, lah! Bisa terjadi kepada siapapun.

Mungkin antara saya dan Anda pada suatu hari nanti🙂

2 thoughts on “Carnage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s