Sumpah Babi

‘Bu, kalo ada Ibu yang nyumpahin kita jadi babi, apa kita bakal jadi babi?’

Pertanyaan itu terlontar dari mulut Farhan anakku yang saat ini berada di kelas empat SD.

Okeh, kita kembali pada beberapa menit sebelumnya. Itu pagi dan saya dalam perjalanan ke sekolah. Gak sengaja melihat sosok kecil sedang menyusuri jalanan sendirian. Farhan. Salah satu anakku kelas empat.

Maka saya pun menepi dan menyuruh Farhan untuk ikut masuk ke mobil bersama saya.

‘Bu, kalo ada Ibu yang nyumpahin kita jadi babi, apa kita bakal jadi babi?’

Hah?

Apa sih, Farhan? Ibu gak ngerti. Emang siapa yang nyumpahin, siapa yang disumpahin.

‘Aku. Aku yang disumpahin. Sama ibu-ibu sekomplek di rumahku. Makanya aku berangkat sekolah jalan kaki.’

……

Emang gimana ceritanya?

Maka Farhan bercerita.

Ini diawali pada sore kemarin, dia dengan seorang kawan seru main sepeda di jalanan komplek rumahnya. Balap-baalapan gitu. Nah, lagi seru-serunya mendadak nungul seorang anak perempuan usia TK yang melintas jalan tanpa nengok kiri kanan lebih dahulu. Lalu…

Gak, gak ketabrak itu anak.

Keserempet.

Sampai jatuh dan nangis.

Tapi gak luka.

Yah, paling enggak, itu pengakuannya si Farhan.

Cumannya sepedanya Farhan rada pengok juga karena dia sempat terbanting ke trotoar saat mendadak belok menghindari anak kecil itu.

Farhan pun langsung memacu sepedanya pulang. Habis, temennya juga gitu. Kabur. Si anak perempuan di tinggalkan sendirian nangis tersedu-sedu karena kaget setengaah mampus!

Begitu sampai di rumah, ibunya Farhan sudah sewot. Bukan karena sepedanya rusak, tapi karena si Farhan main sepeda sementara hari masih mendung selepas hujan yang seharian dan itu anak gak minta izin dulu main sepedanya.

‘Itu kenapa sepedanya penyok?’ kata Ibunya Farhan.

Farhan ceritalah.

Tambah marah Sang Ibu. Soalnya Farhan jujur pisan ngasih tau kalo itu anak yang keserempet ditinggalkan begitu aja. Maka si Farhan pun kena hukum gaak boleh main sepeda selama seminggu!

Dan dia harus datang ke rumah si anak kecil untuk minta maaf kepada orangtuanya.

Farhan pun melangkahkan kaki menuju rumah si anak.

Mengetuk pintu.

Ibu si anak yang membuka pintu.

Farhan minta maaf.

Ibu si anak langsung berteriak membentak-bentak si Farhan.

‘JADI ELO YANG NABRAK ANAK GUA! UNTUNG ANAK GUA GAK KENAPA-NAPA! DASAR BABI GUA SUMPAHIN ELO JADI BABI!!’

Farhannya bengong.

‘Jadi, apa aku nanti bakalan jadi babi, Bu? Aku kan udah mendzolimi anak ibu itu. Kan, sumpah seorang ibu itu didengar Allah, kan, Bu?’

…..

Tentu saja saya kemudian memberi tahunya bahwa yang dia lakukan sudah benar dan sebaiknya dia tidak perlu memikirkan itu lebih lanjut. Farhan gak jahat dan memang gak bermaksud jahat. Allah tahu, Farhan. Allah akan menindak sesuai dengan perbuataan seseorang. Blablablaa… yadada…

Eniwey….

Kisah ini sedih, yaa, kan?

…..

Apakah itu yang musti kita lakukan kepada seorang anak kecil yang dengan berani datang untuk meminta maaf secara jantan atas apa yang telah dilakukannya? Memakinya?

One thought on “Sumpah Babi

  1. mungkin ibu anak perempuan itu emosi karena anaknya jatuh akibat kaget tiba-tiba ada sepeda melintas.
    sebaiknya sih ibu anak perempuan itu, meminta anaknya untuk memaafkan si farhan, mencontoh sikapnya yang berani datang sendiri untuk meminta maaf.

    kasihan farhan jadi kepikiran berubah jadi babi. moga2 kedua anak itu dah melupakan kejadian ini sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s