Sex, Lies and Cigarettes

Ada 2 kebohongan dari industri rokok, pertama merokok itu tidak berbahaya dan mereka tidak memasarkannya ke anak-anak.

Film dokumenter ini dimulai dengan ulasan tentang berita bayi merokok dari Indonesia yang beredar beberapa saat yang lalu. Tidak digembar-gemborkan oleh media kita bahwa kisah yang miris tersebut telah menjadi bahan olok-olok internasional. Beberapa hanya menganggap sebagai lelucon yang menggelikan tapi sama sekali tidak lucu, kebanyakan orang marah dengan kenyataan tersebut dan mempertanyakan apa sebetulnya yang dikerjakan oleh orangtua balita itu dan orang-orang dewasa di situ? Apalagi bahwa kenyataannya, sang ortu balita justru berada di sekitar sang balita saat adegan merokok ini direkam.

Kemudian adegan beralih dari adegan satu dan adegan yang lain yang sama mirisnya. Bagaimana rokok begitu dalam berakar membudaya di masyarakat Indonesia.

Ini film dokumenter buatan luar negeri yang mengambil kisah dari negara kita. Tapi tentu saja, kita tidak terlalu mendengar dengungnya. Berbeda saat yang diulas adalah tentang betapa perkasa dan hebatnya tukang sampah di Indonesia yang di bayar murah namun penuh dedikasi dalam pekerjaannya. Ya, kita memang bangsa yang senang mengasihani diri sendiri.

Adegan film terus bergulir memperlihatkan betapa parahnya kebiasaan merokok di negara ini. Sementara di New York sana (ini yang bikin film orang amrik) sudah tidak lagi ditemui papan reklame iklan rokok, sementara di Indonesia reklame tentang rokok hampir berada dalam jeda menit dan detik saja. Isi iklannya sama persis dengan yang terdapat pada iklan-iklan rokok di Amerika duapuluh tahun yang lalu. Tentang kehidupan anak muda yang keren, koboi, band, eksekutif muda, dan hangatnya persahabatan. Karena memang usia itulah yang ingin diraih oleh produsen rokok. Usia produktif diatas 18 tahun secara resmi, namun dari iklan sebetulnya yang dirangkul adalah usia 14 tahun ke atas. Hasilnya untuk di Indonesia, anak usia 8 tahun pun ikut diraih juga.

Sang pembuat film dokumenter terheran-heran melihat kenyataan bahwa anak berseragam sekolah menengah dengan enaknya kongkow sambil merokok hanya beberapa belas langkah dari pagar depan sekolahnya. Dan bahwa ternyata sebuat tempat yang menjual rokok (warung) berada tepat di sebelah gerbang sekolah dengan plang yang saling bersisian. Kenyataan lain yang nampaknya menggamparnya, tapi tidak buat kita, adalah bahwa rokok di Indonesia dijual ketengan per batang dengan harga yang sangat murah. Tidak seperti di negaranya yang satu bungkus rokok sekarang harus dijual seharga 12 dolar akibat tekanan pajak yang tinggi, di negara ini rokok bisa dibeli dengaan harga yang jauh-jauh lebih terjangkau oleh siapapun.

Kemudian belum lagi dengan kenyataan bahwa rokok bisa dibeli siapapun selama seseorang itu sudah bisa berjalan dan memberitahu si tukang rokok bahwa ia ingin membeli rokok. Tentu saja, justru orangtuanya sendiri kok yang menyuruh anaknya lari dan membelikan rokok di warung terdekat.

Film ini tidak banyak mengupas masalah kesehatan, yang sesungguhnyaa justru di butuhkan oleh masyarakat kita. Nampaknya ini dikarenakan bahwa di negara si pembuat film hal ini bukan lagi suatu perdebatan. Rokok berbahaya bagi kesehatan, dan itu sudah merupakan kenyataan yang diterima oleh berbaagai macam pihak.Sudah basi untuk mereka. Berbeda dengan di negara ini yang pendapat tentang kesehatannya masih dijadikan perdebatan yang panjang. Dan itulah memang yang dilakukan oleh para kaki tangan industri rokok termasuk orang-orang yang bergelar dokter dalam bidang kesehatannya, menurut film ini. Diperlihatkan pula jalannya beberapa persidangan di Amerika beberapa belas tahun yang lalu mengenai pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli kesehatan yang membela rokok pada saat itu persis sama dengaan yang terjadi sekarang di negara ini. Dan memang itulah tugas dia. Untuk menanamkan keraguan di benak masyarakat. Hal-hal yang sudah dianggap basi di Amerika, namun masih segar di sini.

Betapa kita memang adalah negara yang ketinggalan, ya, kan?

Tahukah Anda bahwa beberapa saat sebelum UU rokok disahkan di Amrik, perusahaan rokok terbesar di sana sudah mengalihkan matanya ke Indonesia dan membeli salah satu perusahaan rokok terbesar di negara ini yaitu Sampoerna Group. Mata mereka fokus ke sini dan negara-negara berkembang lainnya, untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Tepat pada waktunya. Karena di negara maju sana, rokok sudah menjadi budaya masa lalu.

Bahkan si tukang rokoknya (di negara maju) mengatakan kalau sekarang dia lebih banyak menonton TV, karena sudah jaarang orang datang ke kios yang dikelolanya.

Negara ini adalah negara sepakbola, menurut dokumenter tersebut. Dan sponsor tim sepakbola nasional kita adalah Djarum, sebuah perusahaan rokok yang raksasa di negara ini. Papan reklame dan iklannya ada di setiap laga pertandingan. Sungguh ironis antara olahraga dan rokok.

Dan bagaimana dengan puluhan konser musik tiap tahun baik artis dalam dan luar negeri yang tanpa malu-malu menggaet perusahaan rokok sebagai sponsornya. Film ini memperlihatkan sedikit adegan saat konser band Nidji, band anak muda baik-baik, yang ditayangkan di TV nasional dan disaksikan oleh jutaan manusia di Indonesia sementara di bagian bawah layar, simbol Amild tidak putus terpampang. Maka apakah Anda merasa malu dengan kenyataan ini? Bahwa kita dan ketidakberpihakan kita kepada masa depan kesehatan bangsa ini telah menjadi bahan olok-olok dan tertawaan bangsa lain.

Pak Presiden suatu kali pernah bilang kalau beliau malu karena masalah sampah di kota kembang beberapa tahun yang lalu menjadi berita Internasional. Dan saya ingin sekali bertanya kepada beliau jika saja beliau ikut menonton film dokumenter yang telah beredar di youtube ini: Apakah Anda tidak malu, Pak? Karena saya malu.

Dua hal lagi yang membuat saya kemudian terpingkal-pingkal sambil merasa sedih sekali. Pertama bahwa diungkap kalau pernyataan mengenai rokok adalah termmasuk produk dengan zat adiktif berbahaya telah dihapus kalimat tersebut tepat pada malam sebelum UU ditanda tangani oleh presiden RI yang menurut dokumenter ini, entah benar atau tidak, hanya karena tiga orang anggota parlemen kita menarik dukungan terhadap itu. Karena ketiga orang tersebut nampaknya telah dibeli oleh perusahaan rokok.

Dan yang kedua, ini yang membuat saya meledak tertawa, bahwa salah satu orang anggota parlemen, cewek, dengan berapi-api menyatakan bahwa para ahli kesehatan hanya memikirkan masalah kesehatan saja tapi tidak peduli dengan nasib ribuan pekerja pabrik rokok di Indonesia.

*ngakak

Well, tidak pernah memikirkan? Bukankah itu-itu dowang yang jadi senjata pemungkasnya produsen rokok. Bukankah karena itu-itu dowang maka posisi kita tidak pernah maju mengenai ini?

Gila tuh ibu-ibu urat malunya kemana, ya?

Maka saya tersenyum saat sang pembuat film balik menanyakan:

Jadi, Anda tidak menganggap penting kesehatan masyarakat?

One thought on “Sex, Lies and Cigarettes

  1. Videonya ini mau aku posting di faceebook, tapi kegedean, tidak heran yang menjadi orang terkaya di indonesia pemilik pabrik rokok, modal 1 sen jual 1 dollar, gimana ga kaya, dan di kudus *tempat pabrik rokok, petinggi perusahaan rokok disana lebih berkuasa di banding bupati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s