Tentang Arman

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan menolak memberi makan orang miskin. (QS Al Maun: 1-3)

Di sekolah tempat saya bekerja ini, ada beberapa anak yang berada di sekolah dengan tanpa membayar sepeserpun biaya sekolah. Apapun itu. Tidak banyak memang, hanya sekian persen yang akngkanya sangat kecil. Namun ada.

Sedihnya, walaupun tanpa pungutan biaya sedikitpun namun nampaknya ini tidak menghalangi anak-anak yang bebas iuran ini pergi dari sekolah, dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan. Kadang kami juga rasanya sama sekali tidak mengerti. Tapi kami coba untuk tetap memantau anak-anak ini di sekolahnya yang selanjutnya. Dan itu tidak mudah juga.

Biasanya setelah satu atau dua tahun, kami seakan melupakan Sang Anak yang telah pergi dari sekolah ini.

Beberapa hari yang lalu, pada pagi, saat berangkat sekolah, saya tanpa sengaja bertemu dengan salah satu anak kami yang pergi ini. Kebetulan saya tahu kisah dia pergi dari sekolah. Diawali dari main-main selayaknya anak-anak kemudian menyebabkan salah satu anak cedera.

Saat itu dia masih kelas dua SD dan dia bersama anak-anak yang lain bermain-main di panggung yang berada di tengah-tengah TK. Mereka becanda, dorong-dorongan, lalu segalanya berlangsung menjadi terlalu keras yang menyebabkan salah satu anak terjatuh dengan dagu menghantam lantai. Sobek. Berdarah. Orangtua si anak yang jatuh itu kebetulan berada di sekitar dan langsung marah luarbiasa. Kemudian membentak Arman (mari kita sebut saja namanya Arman) sambil menunjuk-nunjuk.

‘Dasar anak gak tau diuntung! Udah sekolah disini gratis, nyelakain anak lain lagi!’

Itu cukup ramai akhirnya. Si Arman tidak nangis, tapi dia hanya diam saja.

Tidak bicara apapun lagi.

Oh, ya.. Ingat dengan seorang perempuan yang kurang waras yang sempat saya ceritakan disini? Well, si Arman ini adalah anak dari perempuan itu. Dia tidak pernah punya ayah, karena tidak ada yang tahu siapa yang sebenernya memperkosa ibunya beberapa saat sebelumnya. Dengan tanpa ayah dan ibu yang kurang waras menggelandang sana dan sini, satu-satunya orangtua Arman hanyalah Sang Nenek yang bekerja sebagai tukang urut keliling.

Besoknya, Arman tidak masuk sekolah. Beberapa saat kemudian, Sang nenek datang. Dia mengucapkan terimakasih pada sekolah karena telah memberikan kesempatan cucunya untuk menikmati pendidikan selama ini, namun nampaknya sekolah ini memang tidak cocok dengannya. Arman akan dia pindahkan ke sekolah negeri setempat.

Kami mencoba untuk mempertahankan, tapi Sang Nenek bersikeras. Kasihan Arman, katanya. Dia berbeda dengan anak lain dia gak punya apa yang anak lain punya. Dan nampaknya, tidak semua orang di sekolah yang mau mengerti itu. Lagian, kata Sang Nenek, cucu saya ini emang boadung dan gak bisa dibilangin. Sang nenek takut kalau nanti ada anak kaya yang celaka lagi.

Pada akhirnya, Arman gak pernah kembali lagi ke sekolah.

Beberapa tahun lewat dan saya hampir melupakan anak ini. Sampai kemarin pagi. Saat saya lihat dia sedang mengangkut sepikul kayu di punggungnya. Langkah kakinya yang lincah dengan segera meninggalkan saya. Berhenti di depan sebuah toko, lalu berbalik dan menyapa saya.

‘Bu Alifia,’ katanya. Lalu dia cium tangan saya.

Arman? Kamu.. kerja disini?

‘Iya, Bu.. Maaf, ya, Bu. Saya harus kerja lagi.’

Oh.. Tapi, kamu kan sekarang sekolah di SDN XX di seberang jalan itu, kan?

Emang masuk siang?

Dia nyengir saja dan berkata,’Enggak, Bu.. Saya udah gak sekolah lagi..’

……

Anak ini harusnya sekarang duduk di kelas 5 SD.

Tapi.. kenapa?

Saya tahan tangannya.

Nggak punya uang buat beli buku? Buat jajan?

Dia senyum saja.

‘Saya gak naik kelas. Nenek saya bilang gak usah sekolah lagi. Lagian nenek saya juga udah sakit-sakitan.’

….

‘Saya juga gak betah sekolah.. Udah, ya.. Bos saya nanti marah.’

Tunggu sebentar.. kamu tahu rumah yang itu, yang temboknya warna kuning itu? Sekarang Ibu tinggal di situ. Kamu nanti malam datang ke rumah Ibu, ya.. Ibu kangen pengen ngobrol aja sama kamu.

Dia nyengir lebar dan kabur dari saya.

Itu dua hari yang lalu dan saya masih menunggunya datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s