Curse and Courage

Oh God, you were shallow disgusting creature. You want to know the truth? One, you not gonna be in a Band, or a model, Missy. Because you have no ambition. With no skills, You will gonna be the 80% of the US workforce of minimum wages job. Witch mean the way of your living for the rest of your life, until you replace by a computers.

I don’t care.

The only talent You ever have is getting man to fuck you. Your life will become carnaval of pain until you can’t stand, not one more day! Not one more hour! It will get worse. Much more worse! Everyday I came in this office and I listened your kids to shit-off all of yourself! It’s so easy to be carreless, it takes curse and courage to take cares.

Percakapan diatas diawali pada saat seorang anak perempuan bernama Missy dipanggil ke ruang BK untuk diajak berbicara mengenai nilai-nilai yang didapatkannya. Semua nilai di setiap mata pelajarannya adalah F alias Fail. Dan anak itu sama sekali terlihat tidak peduli dengan itu semua. Sang guru BK mulai menasihati, yang semakin lama semakin bernada tinggi sampai kemudian terlepas semua emosinya. Depresif. Begitulah seluruh kisah dalam film Detachement.

Cerita dimulai dengan rekaman wawancara para guru di sebuah SMA yang merupakan salah satu SMA yang gagal di US. Sang pewawancara adalah seorang guru pengganti yang akan bertugas di SMA tersebut untuk beberapa saat. Ini bukan kisah yang ceria berwarna-warni yang menyenangkan melainkan suram, sesuram lamban dan menyayatnya setiap adegan yang disajikan.

Ingat dengan Waiting for Superman? Well, jika Waiting for Superman disajikan dari kaca mata walimurid sekolah dasar, kisah ini diambil dari sudut pandang para guru di sekolah menengah atas. Bagaimana memang begitu campur aduknya permasalahan dalam sistem pendidikan di negaranya. Dimulai dari guru yang memang tidak memiliki kapasitas untuk menjadi guru, karena selain berasal dari orang-orang yang bukan berlatar belakang pendidikan tapi merasa dipanggil untuk menjadi guru (jadi merasa ditampar gua, hehe..), ataupun orang-orang yang malas mencari kerja atau tanpa sengaja terjebak pada situasi tersebut. Namun dikisahkan bahwa, siapapun dia, sebenernya mereka yang berstatus guru inikebanyakan punya keinginan besar untuk melakukan perubahan, untuk mengabdikan dirinya demi masa depan orang lain. Mereka punya mimpi bahwa anak-anak yang mereka didik dengan sepenuh hati ini pada suatu hari nanti akan menjadi orang-orang yang memberikan kontribusi besar pada masyarakat di sekitar mereka. Kemudian dengan perjalanan waktu, para guru semakin sadar bahwa mereka sendirian tanpa dukungan. Semakin merasa tidak mampu, kelelahan, gagal, dan mulai sadar bahwa mereka adalah orang-orang yang kalah hingga pada suatu titik di mana mereka sudah tidak lagi peduli.

Siswanya pun semakin tidak memerdulikan mereka.

Ada satu adegan yang miris sekali di film ini di mana sang guru berteriak-teriak setengah menangis di kelasnya (dan guru ini laki-laki!) sementara anak-anaknya sama sekali ogah memberikan perhatian.

Salah seorang rekan guru dari sekolah negeri mengatakan bahwa, sejak sekolah (negeri) jadi gratis dan ada BOS, maka guru menjadi pihak yang ditekan sana dan sini. Karena saya belon pernah mengalami bekerja di sekolah negeri, maka saya tidak begitu paham apa maksud sang rekan tersebut. Namun beberapa adegan di film bisa saya rasakan sebagai kenyataan di sekitar saya bahwa bersekolah, nampaknya sekarang memang sudah dihitung secara ekonomis: gua udah bayar mahal maka nilai anak gua harus bagus! Kadang sungguh melelahkan bahwa kita mencoba untuk mengajak anak kita untuk berlari, tapi orangtuanya, yang bayar sekolah, marah-marah karena itu.

Jadi, kembali ke detachment, bagi saya pribadi film ini cukup menjadi semacam katarsis dari apa yang saya sering rasakan. Betapa lelahnya mengajar dan memperbaiki siswa yang sekaligus berhadapan kepentingan sekolah dan orangtua ditambah dengan birokrasi yang nampaknya dimanapun tetap aja berasa kayak di neraka kadang! Bukan berarti saya pun ingin pada suatu saat nanti akan berakhir seperti mereka (Nauzubillah, deh!) walaupun cukup sadar bahwa terkadang ada hari-hari di mana saya rasanya ingin kabur dari pekerjaan menyedihkan dengan bayaran yang tidak sebanding ini. Sudah cukuplah untuk menjadi penyadaran bahwa saya toh tidak sendirian. Dan saya yakin, berani atau tidak mereka dengan lantang berbicara di luar sana, bukan melulu yang demo minta naik gaji, tapi bahwa banyak yang merasakan kegelisahan dan kadang kepenatan yang sama dengan saya yang akhirnya toh, tidak semuanya menyerah di ujung jalan. Selalu ada yang tetap bertahan sampai akhir yang sering toh tidak pun jelas ujungnya.

Dan bahwa menjadi guru itu tidaklah pernah mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s