Try Not To Be Yourself!

Mr.D: Apa kau mabuk?

Ms. Mason: Haha.. Tidak, aku tidak mabuk. Hari ini.. yah, hanya saja aku kira anak-anak akan senang.. karena aku sudah menyiapkan segalanya dan aku benar-benar ingin membantu mereka memahami pelajaran. Aku menghabiskan waktu banyak untuk bekerja keras membuat tabel dan menyempurnakan lesson plan tapi..mereka membenciku.

Mr.D: Kau terlalu bertindak mengikuti buku kau terlalu serius. Santailah.. bersenang-senang.. Salah sekali-kali. Lihat apa yang kulakukan tadi kepada anak yang baru melewati kita? Aku memukul pantatnya.

Ms. Mason: Tapi..tapi itulah aku. Aku guru dan yang aku tahu mengajar. Aku tak bisa melakukan yang lain diluar apa yang sudah kupelajari.

Mr.D: Try not to be yourself!

Mr.D, Ms. Lisa Mason, dan Dr. Simon Hunt

Try not to be yourself! Itulah sebagian dari nasihat-nasihatnya Mr. Duncan alias Mr. D, sang guru pengganti yang bekerja di Xavier Academy. Eits, jangan salah. Ini sekolah gak ada urusannya dengan Xavier Academy yang sekolah para mutan di seri X-Men, ya..

Satu-satunya yang membuat saya jadi penonton setia sitkom CBC Canada terbaru ini adalah karena waktu tayangnya tepat sebelum sitkom fave saya Little Mosque on the Prairie, bukan karena ini cerita tentang keseharian para guru di sekolah swasta di Canada. Dan awalnya memang tidak begitu menjanjikan. Tapi lama kelamaan, sitkom ini jadi semakin menarik untuk disaksikan. Mudah-mudahan gak bakalan cepet kedodoran.

Ini kisah terinspirasi dari pengalamannya Gerry Dee (kalo di sitkom namanya berubah menjadi Gerry Duncan) seorang komedian yang pernah bekerja sebagai guru selama 10 tahun di sebuah sekolah swasta (rentang SD sampai SMA di satu tempat) sebelum akhirnya memilih untuk fokus menjadi pelawak. Mana kita tahu seberapa yang nyata dan seberapa banyak yang hanyalah suatu cerita atau apakah emang si Gerry itu sebegitu ancurnya waktu ngajar. Well, mungkin kita hanya bisa menikmatinya saja.

Jadi Mr. Duncan ngotot minta dipanggil dengan sebutan Mr.D oleh para siswanya, dan dia akan memulai pekerjaannya sebagai seorang guru (pengganti) IPS sekaligus guru olah raga juga. Ngotot karena sejak awal para siswa keberatan dengan sebutan itu. Pertama, karena sebutan untuk seorang guru hanya diberikan kepada guru yang spesial di mata siswanya, buruk atau keren, dan yang lebih penting lagi, sudah ada di sekolah itu yang dijuluki sebagai Mr.D (Mr. Dwyr) yang merupakan guru fave anak-anak. Tapi manalah dia peduli. Pokoknya dia Mr.D, titik…

Sumpaaaaah, ancur bener ini orang! Percaya dirinya itu gak kira-kira! Dan pada awal ketika kita mengikuti serial nampaknya kita (penonton) diajak untuk berada pada posisimurid- muridnya Mr.D ini yang tiap hari musti ngegerutu dengerin ocehannya ini bapak aneh yang kebanyakan salahnya tapi pinter berkelit dalam setiap situasi. Yah, cobalah bayangin kalo kita masuk kelas trus gurunya Cuma nyuruh kita baca buku tentang topik yang mau dibahas sementara si guru itu sendiri asik dengan komputer di belakang kelas browsing topik yang seharusnya dia ajarin ituh!

Apa-apaan, tuh!

Hal yang selanjutnya Mr.D lakukan adalah berdiri di depan kelas dan mengumumkan kalau dia baru saja selesai membaca topik yang akan dibicarakan di kelas.

‘Saya gak peduli kamu udah selesai mempelajari topik ini atau belum tapi saya sudah. Jadi mari kita diskusikan. Gak usah khawatir, saya juga baru tahu dan baru baca barusan. Tapi karena saya guru, jadi saya lebih pinter jadi lebih cepet paham. Ayo, saya bantu kalian memahaminya. Kalian mau kita membicarakan bagian mana?’
Ngngng….

Well, emang gak biasa kelasnya Mr.D ini. Dari mulai slogan-slogan yang dipilihnya (Salahkan dirimu sendiri!) sampai kebiasaan-kebiasaan anehnya seperti main basket di tengah anak-anaknya lagi ngerjain ulangan (ngeselin bangeeeet…) atau memberikan nilai hanya berdasarkan apakah dia ingat atau tidak anak itu (Kalo kamu aktif, bikin gondok guru atau enggak, dia akan ingat dan nilainya bagus. Yah, minimal itu anak menunjukkan kalo dirinya gak apatis, lah) serta banyak plus rapihnya tulisan (Itu tanda keseriusan si murid, dong!) ditambah…kalo kamu berani protes secara baik-baik kepadanya mengenai nilai ulangan, maka nilai kamu akan diganti jadi A atau A+! Dengan alasan bahwa kamu sudah berani menyatakan pendapat. Hey, dia kan guru social study, katanya. Urusannya bukan fakta, tapi pendapat!

Yah, nampaknya ini guru memang anehnya minta anjrot, tapi dia hanya punya cara yang ngajar yang nyeleneh aja.

Jadi Mr.D ini pun sebenernya tetap belajar untuk lebih memahami pekerjaannya dan berusaha lebih baik. Hanya ya itulah, dia jadi tokoh yang ‘love to hate’ gitu. Dari mata Mr.D ini kita diajak menebos ke dalam ruang guru untuk melihat wujud keseharian para bapak dan ibu guru yang jadi nampak lebih manusiawi dan kok jadinya malah unik-unik gitu, ya..

Sahabat Mr.D adalah Lisa Mason, sama-sama guru IPS dan sama-sama guru baru yang punya cita-cita mulia sebagai guru yang terbaik untuk siswa-siswanya. Tapi Ms. Mason ini orangnya terlalu kaku, perfeksionis yang sering gak PD sehingga malahan bikin ngantuk dan bete anak-anak. Bukan berarti Ms. Mason gak tahu itu dan gak berusaha memperbaiki diri. Mati-matian dia tiap kali berusahaaaa banget agar anak-anaknya bisa lebih menikmati kelasnya. Sobat yang lain adalah Dr. Simon Hunt sang guru sains dan matematika yang kikuk dan tiap hari dikerjain murid-muridnya. Dr. Hunt ini justru senang dengan adanya Mr.D yang membuat, yah paling enggak, dia jadi punya teman hangout dan curhat tentang hidupnya dan khayalannya yang gila-gilaan. Cuma khayalan dowang, sih..

Mr. Calahan, Mr. Cheeley, Trudy, dan Bobi

Selain Sang Kepsek (Mr. Calahan) yang ogah mau tau yang penting sekolahnya dapet rengking lebih tinggi dan bisa ngalahin musuh bebuyutan sekolah swasta tetangga itu adapula Sang Wakepsek (Mr. Cheeley) hobi banget petatang peteteng nunjukin kalo dia punya kuasa lebih dan selalu sibuuuuk tebar pesona ke guru-guru cewek. Maklum, jomblo dan nampaknya emang gak laku-laku, tuh! Kemudian Ms. Trudy Sang TU yang punya hoby ngerjain orang plus gampaaaang banget terharu. Lgh..

Sesama rekan di pelajaran olahraga adalah Bobi (blon terungkap nama keluarganya) yang lebih fokus ke topik kesehatan. Ini orang saking tomboynya sampai semua orang, termasuk murid-muridnya yang masih SD, menyangka kalau dia seorang lesbian. Padahal dia berkali-kali bilang kalau dia tinggal bersama kekasihnya yang laki-laki dan itu sudah sepuluh tahun lamanya. Ngocol juga saat topik sex education dan Bobi setengah mati berusaha menjelaskan tentang struktur vagina sementara anak-anaknya malah lebih tertarik dengan hubungan pribadinya si Bobi yang anak-anak (SD) pada kekeuh surekeuh ngasih tau kalo sang guru itu adalah seorang lesbian sementara Bobi-nya teteup kekeuh surekeuh bahwa dia hetero.

Busyet, sok tau bener anak-anaknya!

Mr. Leung, Malik, Bill

Selain para guru itu ada juga Mr. Leung sang pustakawan yang mengibarkan bendera perang kepada Mr.D, Malik sang janitor yang suka ikut campur tapi emang sering jadi tempat curhat para guru serta Bill si bartender sahabat Mr.D.

Well, saya tidak tahu bagaimana akan jadinya sitkom yang masih tahap uji coba ini tapi nampaknya semakin memberikan penyegaran setiap tayangnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s