Guru dalam Buku dan Film: Monsieur Bashir Lazhar (Monsieur Lazhar)

The last things she did was kick her chair to make it fall over. Sometimes i wonder if she wasn’t sending a violent message. When we violent we get a detention. But we can’t give Martine Lachanche a detention, because she’s dead.

Martine Lachanche menggantung dirinya sendiri di kelas dan siswanyalah yang menemukan jenazahnya pada pagi yang dingin beberapa detik sebelum bel tanda masuk hari itu berdering. Dan itu yang mengawali kisah kali ini.

Tentu bikin gak habis pikir kenapa ada orang yang membunuh dirinya sendiri di sekolah tempatnya bekerja, di kelasnya sendiri, pada pagi saat hari akan segera dimulai. Kenapa? Well, namun ‘kenapa’ itu bukan sesuatu yang harus dijawab oleh Bashir Lazhar sang guru pengganti. Bahkan sebaliknya, dia tidak diperkenankan untuk membahas atau bahkan menyenggol masalah itu di kelas. Tugasnya hanya menggantikan tugas Mrs. Lachanche sampai, harusnya, akhir tahun ajaran.

Ini bukan film bertema pendidikan yang biasa. Kali ini penonton tidak lagi diajak untuk menyimak bagaimana perjuangan guru ngeberesin anak-anak degil ogah peduli masa depannya atau, kalau di kita, melulu berkutat dengan masalah ekonomi. Kali ini yang musti dihadapi oleh Monsieur Lazhar adalah beban psikologis yang diderita oleh kelasnya, dan ternyata, oleh dirinya sendiri juga.

Seperti sebelumnya saya tuliskan, Mrs. Lachanche mati bunuh diri di kelasnya. Ini tentu saja membawa suatu permasalahan baru. Bukan hanya para siswanya yang mengalami trauma, namun para gurunya juga ikut stres. Bagaimana tidak, Sang Guru sebelumnya dikabarkan tertekan setelah mendapatkan protes keras akibat tindakannya yang dianggap tidak senonoh kepada salah seorang siswanya. Tindakan yang dianggap tidak senonoh ini adalah pelukan yang dia berikan kepada salah satu siswa laki-lakinya yang didapatinya sedang menangis di kelas. Sebagai seorang guru, dan seorang ibu, maka secara otomatis dia peluk anak itu. Tindakan yang mungkin tidak begitu masalah, atau bahkan mengharukan, justru membawanya kepada tuduhan pelecehan seksual. Menurut UU di Canada, seorang guru tidak diperbolehkan kontak fisik dengan siswanya. Dan itu termasuk memukul, mencubit, mengeplak, mencium, dan tentu saja memeluk.

Tidak diketahui oleh kepala sekolah atau siapapun di sekolah, sesungguhnya Monsieur Bashir Lazhar bukanlah seorang guru. Beliau hanya seseorang yang bekerja di restourant di Aljazair, negara tempatnya berasal. Istrinyalah yang seorang guru sekaligus penulis buku. Dan buku terakhir sang istri ini yang membuat mereka semua kena masalah. Bukan hanya dibredel pemerintah namun sampai kepada ancaman pembunuhan. Bashir Lazhar memutuskan untuk membawa kabur seluruh keluarganya ke negara yang menurutnya mampu memberikan perlindungan. Namun sayangnya, tidak seperti Bashir, istri dan kedua anaknya tewas sebelum tiba di Kanada, negara yang telah memberikan status ‘pengungsi’ kepada keluarga Lazhar. Berusaha untuk mengalihkan pikiran dari tragedi yang baru menimpa keluarganya dan berbekal dari kisah-kisah dari kelas yang sering diutarakan Sang Istri, maka Bashir Lazhar pun nekad melamar kerja sebagai guru. Dia diterima, bukan karena dia mampu, namun karena tidak ada seorangpun yang mau melamar posisi sebagai guru pengganti dari orang yang gantung diri di dalam kelas.

Kebayang dong gimana ribet tugasnya kemudian, ya..

Bagi Monsieur Lazhar, permasalahan bertambah runyam dengan kebiasaan yang sungguh jauh berbeda dengan pengalamannya di sekolah saat di Aljazair. Hal-hal yang menurutnya biasa, seperti pengeplak kepala salah satu muridnya yang kurang ajar di kelas kok tau-tau membuatnya mendapatkan protes. Begitu pula gaya mengajarnya yang masih jadul pisan gaya-gaya guru di negara berkembanglah di mana guru ngasih tau murid terima-nurut-diem. Tapi masalah mengajar ini kemudian dengan cepat dapat dipecahkannya baik itu dengan insting maupun berbekal dari barang-barang peninggalan almarhum istrinya maupun almarhum guru yang digantikannya (seperti stempel, sticker, buku, dan seterusnya). Urusan dengan walimurid mungkin rada lebih pelik selain mereka pun trauma atas insiden bunuh diri di kelas, yang saya sayangkan kenapa pihak sekolah malah menutupi dan bukannya membuka tentang masalah pelukan yang bikin si guru setress itu kepada ortu. Berbeda dengan anak-anak mereka di sekolah yang secara cukup cepat pada akhirnya mau menerima Monsieur Lazhar walaupun awalnya menolak, bagi para walimurid, prasangka masih terus ada yang, kenyataannya memang ortumurid pada akhirnya punya alasan untuk itu. Guru anak-anaknya bukan guru beneran!

Well, ini drama berat dan, untuk yang tidak terbiasa dengan film non Hollywood, menyesakkan. Menurut saya pribadi inilah rival terberat dari Jodái-e Náder az Simin (A Separation) dari Iran (yang memenangkan oscar) yang sama-sama mendapatkan nominasi oscar di film berbahasa asing terbaik tahun 2012. Sama-sama menitik beratkan pada kondisi psikologis yang secara keluasan kisah, menurut saya film ini lebih tinggi poinnya.

2 thoughts on “Guru dalam Buku dan Film: Monsieur Bashir Lazhar (Monsieur Lazhar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s