Minat dan Penghargaan

Setiap kali hari ambil rapot tiba dan saya berkesempatan untuk bertemu dengan walimurid mendiskusikan masalah pelajaran, hampir selalu yang dikeluhkan adalah mengenai minat baca yang rendah. Tentu saja, sebab pelajaran yang saya pegang semuanya berkaitan dengan kuat-kuatan baca, sih. Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jelas banget, kan? Nilai tertinggi selalu diraih oleh anak-anak yang, bukan hanya rajin, tapi emang doyan baca. Rajin akan memberikan mereka nilai yang cukup, tapi anak yang doyan baca, nilainya akan istimewa.

Yaa, karena toh sekarang ukurannya bukan hanya urusan hafal ngelotok isi buku teks pelajaran. Kalo itu dowang mah cemen! Saya yang malu banget nanti sama diri saya sendiri kalo anak-anak saya dapet nilai sembilan puluh atau seratus hanya karena mereka hafal isi buku teks pelajaran dowang tapi lumpuh saat diajak berpendapat mengenai apa yang sedang menjadi topik si kelas kami.

Selama beberapa hari ini kami kedatangan tamu dari salah satu penerbit yang sudah cukup punya nama. Penerbit ini punya program, yang saya kira merekalah yang pertama, yaitu mengajak anak-anak kecil berusia delapan tahun ke atas untuk ikut aktif menulis buku maupun komik, dan menerbitkannya. Tentu pangsa pasar dari buku-buku yang ditulis anak-ana ini adalah para pembaaca pemula juga. Anak-anak itu sendiri.

Tim penerbit ini juga aktif mendatangi sekolah-sekolah dasar untuk mengajarkan dan mengajak anak-anak menulis buku yang kalau nanti bagus hasilnya, akan mereka terbitkan juga.

Saya senang dengan cara kakak-kakak tim bicara dan menjelaskan kepada anak-anak, dengan tanpa banyak teori yang ribet banget, bahwa membuat buku itu mudah. Apalagi memang dengan dituliskannya usia sang penulis di buku yang telah jadi tentu membuat semua orang maklum dan bahkan salut sekali bahwa buku ini memang sederhana, tapi liat tuh yang nulis kan emang masih anak-anak, loh.

Acara dengan kakak-kakak tim yang dihadiri oleh tim eskul jurnalistik dari kelas 4 sampai kelas 6 SD ini berlangsung pada siang hari selepas dzuhur, dan sebagai salah satu point dari kerjasama kami adalah bahwa kami menyediakan tempat untuk sang penerbit membuka bazar buku kecil di halaman sekolah selama beberapa hari kemudiannya.

Pada hari pertama, bazar buku telah dibuka pada pagi i dan hampir tidak ada anak yang melirik sama sekali. Pada siang barulah acara dengaan tim penerbit diadakan dan selepas itu, sampai hari terakhir bazar, tempat itu tidak pernah sepi pada istirahat. Hampir semua anak nongkrong di sana, membeli bukan hanya satu, tapi beberapa buku. Bahkan sempat ada beberapa guru yang marah-marah gara-gara saat pelajaran berlangsung, ini anak-anak masih aja pada sibuk baca buku di kelas. Gurunya gak didengerin, hehe..

Bahkan sampai juga ada cerita anak-anak yang berantem segala berebutan satu atau beberapa buku, sampai akhirnya kakak petugas yang jual buku musti berjanji-janji segala kalau besok akan bawa buku tertentu itu dengan jumlah yang banyak. Kakak petugas juga komunikatif sekali dengan sabar menjelaskan kepada anak-anak yang masih bingung dan kepengen sekali bikin buku seperti yang mereka baca itu. Hey, kok, ceritanya ternyata gak susah-susah banget, ya? Gak seribet-ribet sinetron. Kalo kayak gini saya juga bisa! Saya juga pengen usaha bikin buku, ah!

Yep, tentu saja, siapalah yang paling ngerti dengaan selera dan dunia anak-anak selain anak-anak itu sendiri. Dan yang bikin saya terpesona adalah, anak-anak laki itu yang biasanya paling jijai bajai berurusan dengan pernak-pernik cewek kali ini malah tertarik sama besarnya dengan yang cewek. Masa bodo amat bahwa ceritanya cewek banget (karena sebagian besar buku-buku ini ditulis anak perempuan) dengan cover buku yang gambarnya dan warnanya pink ungu cewek boanget, atau bahkan dengan tulisan besar-besar di cover depan bukunya; Pink Berry Club! Baik cewek maupun cowok gak malu-malu beli dan baca itu di mana-mana.

Jadi itulah yang mudah sebagai jawaban dari sepinya minat baca diantara anak-anak kita, karena mereka tidak diajak untuk mengerti bagaimana luarbiasanya sebuah buku itu. Kita tidak bisa hanya menyuruh mereka rajin baca atau cerita bahwa kita dulu suka banget baca. Udah, itu aja. Kita yang harus menunjukkan kepada mereka, dengan cara kita sendiri pun harus memperlihatkan tertarik dengan buku. Menghargai buku. Jangan bingung kenapa anak kita yang masih kelas 2 atau 3 SD menggerung-gerung minta blackberry atau iPad kalo kita tiap hari kerjanya sibuk ngutak utik dua benda itu tok dihadapan mereka. Dan kita harus mau mendiskusikan buku kepada mereka. Kita juga harus mau untuk diajak anak-anak kita untuk bicara mengenai buku mereka, sejijai bajai atau cemen apapun ceritanya.

Hey, namanya juga buku anak-anak, kan? Karena tidak ada satupun kakak-kakak tim editor dari penerbit yang saat diskusi berlangsung dengan gamblang mengatakan beli buku kita atau rajin-rajinlah baca. Tidak ada. Mereka hanya menceritakan bagaimana proses kreatif menulis buku berlangsung dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mereka. Mereka ajak anak-anak untuk menulis satu dua paragraf lalu membacakan, mendiskusikan, dan memperbaiki tulisan sehingga menjadi kisah yang lebih baik.

Mereka tidak dibandingkan dengan Andrea Hirata misalnya, atau Abdurrahman Faiz yang buku pertamanya keluar saat dia berusia delapan tahun. Mereka diajak untuk melihat contoh, dan menghargai ide-ide yang dekat yaitu dari teman-teman dan diri mereka sendiri.

Pada siang saat jam makan, saya menangkap suatu pembicaraan di meja guru saat beberapa guru sibuk mengeluh tentang anak-anak yang sibuk aja berkumpul di sekitar bazar. Dalam satu pembicaraan saya menangkap bahwa ada guru yang mengatakan:

‘Mahal banget sih buku-bukunya. Masa buku tipis ceritanya gak jelas aja harganya duapuluh ribuan, ada yang hampir empat puluh ribu malahan. Idih, rugi, dah! Mendingan beli baju anak gua.’

Doh, ini nih yang bikin sedih, ya, gak?

Plis, deh, Bu Guru. Kalo kamu merasa harga segitu terlalu tinggi untuk penghargaan terhadap bocah-bocah kecil yang udah mati-matiaan berusaha bikin buku, dan berhasil, yaudah gak usah beli! Lah orang bocah-bocah ini juga gak keberatan bayar harga segitu buat buku. Orangtuanya juga gak keberatan, kok.  Tapi jangan ngomong kayak gitu di depan anak-anak yang lagi semangat-semangatnya berusaha. Lagian juga mending kalo dirimu bisa!

*sewot

2 thoughts on “Minat dan Penghargaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s