Untung Bahagia

Saya ingat beberapa saat yang lalu, seorang sobat semasa kuliah mengatakan bahwa pasti saat ini saya sangat bahagia karena saya menjalani hidup tepat seperti yang saya harapkan selama ini. Dan karena itu saya sangat beruntung. Saya agak melongo saat dia mengatakan itu. Lah, memangnya apa sih pengharapan saya akan hidup? Lagian, kalaupun saya mempersetankan itu semua sebelumnya (Karena rasanya tidak, tuh! Saya kira hidup saya mengalir gitu aja) memangnya saya pernah mendiskusikannya kepada dia? Well, ini teman kan hanya teman satu kost saya selama beberapa tahun kuliah. Saya tidak terlalu banyak bersosialisasi dengannya apalagi berkesempatan untuk membagi filosofi hidup saya yang, sekali lagi, kalau emang saya pernah memfilosofikan hidup saya, hehe. Kita tidak satu fakultas dan bahkan tidak berada pada angkatan yang sama, pun tidak banyak ikut serta pada kegiatan yang sama. Kenapa dia pikir dia tahu banyak hal mengenai saya?

Tentu saja saya tidak mengatakan hal itu kepadanya. Yah, kita ini kan makhluk yang selalu menjaga tenggang rasa. Kalau dia pikir dia tahu banyak tentang saya, maka biarlah begitu. Toh orang lain selalu menilai kita berdasarkan pendapatnya sendiri. Satu-satunya pikiran dan keprihatinan saya pada saat mendengar dia mengatakan itu adalah bahwa dia nampaknya sangat tidak bahagia dengan hidupnya. Dan saya punya alasan yang kuat untuk merasakan bahwa dia tidak bahagia.

Sekali lagi, kita melihat orang lain sebagaimana kita ingin melihat mereka.

Kebahagiaan saya kira itu memang ada benarnya, sekaligus tidak. Tapi saya selalu berpendapat bahwa kita semua terjebak diantara bahagia dan tidak. Dan ketidakbahagiaan itulah yang membuat kita terus ingin melangkah maju, selalu ada yang salah dan adanya pengharapan.

Mengenai beruntung? Ngng..? Apakah kita musti bahagia untuk merasa beruntung? Atau kita beruntung jika kita bahagia? Sebenernya, sejauh mana sih keterikatan antara bahagia dan untung ini?

Beberapa saat yang lalu saya menyaksikan Pepeng di Stand Up Comedy yang bisa-bisanya ngocol gitu. Saya sih cuman kagum aja, teman serumah saya yang hampir kehabisan nafas karena tertawa.

Okeh, dia lebay!

Oh, tidak, saya yang lebay!

Bicara tentang kebaikan, atau apapun itu yang kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas, luarbiasanya saya masih dikelilingi oleh orang-orang seperti itu di sekitar saya, diantara, walaupun tetep, lebih banyak lagi muka-muka yang tidak saya kenali parasnya, dari apa yang menurut mereka penting dalam hidup ini. Saya akan menuliskan empat orang yang sudah menjadi tokoh di blog ini saja. Dan tulisan ini untuk mereka.

Sepupu saya, atau yang sering saya sebut sebagai teman-seperbukuan-sepersusuan-saya. Well, ini orang yang saya tahu punya pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu. Pergi pagi hari pulang jauh malam kadang gak pulang. Tapi bisa-bisanya dia tetap bisa aktif pada kegiatan sosialnya dan di rumah sakit. Jika Anda mengira dia dan keluarganya adalah orang yang kelebihan duit yang apapun mudah, kau salah. Kalau Anda mengira dia orang terlepas dari beban keluarga, kau salah juga! Bahkan dalam beberapa hal, saya tahu kalau dialah tulang punggung di keluarganya. Tapi kita gak bisa hanya tunggu punya waktu atau uang banyak untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, kita yang harus menyediakan itu semua. Itu yang saya pelajari darinya. Itu yang saya kagumi darinya.

Sahabat saya Kirsan, saat ini sedang sibuk untuk menjadi istri dan ibu dari dua puteranya, tapi entahlah bagaimana dia bisa tetap intens dengan persoalan di dunia anak-anak khususnya kaum dhuafa dan yatim piatu. Iya benar dia bersuamikan lelaki yang ‘berharta’ dan sangat mengagumi dan mendukung kegiatan istrinya, tapi dia juga memiliki pekerjaan yang sungguh menghabiskan waktu dan pikiran. Ditambah dengan keluarganya? Yah, kesungguhannya kadang membuat saya sendiri suka malu mengingat bahwa saya yang punya lebih banyak waktu tidak dapat memberikan sebanyak dirinya.

Dua orang lain di sekitar saya dan punya tempat di blog mengajarkan saya mengenai dua hal yang berharga lagi. Dari Eni, my partner in crime, karena dengan dialah saya bisa bersenang-senang menjadi anak boadung tukang ngelawan atasan, yah saya melihat dia orang yang sangat keras kepala dan rela melakukan APAPUN demi kepentingan orang lain yang bahkan mungkin orang itu pun gak ngeh atas kehadiran kita (Anak-anak autis itu ngeh gak sih sama kita sebenernya?). Walaupun tidak jarang apa yang dia lakukan membuatnya mendapatkan kesulitan yang besar yang terkadang sungguh bisa menghancurkan dirinya sendiri atau kredibilitasnya sendiri. Tapi itulah dia, dan kadang kita butuh orang sepertinya yang rela mendengus marah menabrak dan mendobrak pintu yang sulit sekali terbuka.

Dan dari Rambo, saya belajar keikhlasan. Bukan sekedar bahwa kita rela kalau jerih payah dan kerja keras kita tidak membuahkan apa yang namanya uang yang dengan itu kita bisa membeli kenyamanan dalam hidup ini, tapi kita juga berani untuk berlega hati saat kita harus, atau bahkan, sering kali disakiti hati dengan penghinaan atau kata-kata yang merendahkan dari orang-orang yang sudah kita beri bantuann hanya karena ada sesuatu dari diri kita yang berbeda yang sesungguhnya kita sendiri pun rela untuk memberikan APAPUN demi tidak dilahirkan (atau ditakdirkan) seperti itu.

Well, pada akhirnya saya kira teman saya ini memang ada benarnya juga. Selain berbagai macam kesulitan yang semua orang mengalaminya (Emang ada orang di dunia ini yang gak merasakan kesulitan?) saya beruntung karena musti berjalan bersisian, atau berbenturan, dengan orang-orang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s