Semua Siswa Lain

Minggu kemarin ada sedikit insiden di gerbang depan kompleks sekolah. Salah seorang walimurid menonjok salah satu supir sekolah. Dan hari ini, sang walikelas kembali curhat-curhat bombay mengenai sang otu murid.

Yah, beneran dah. Akhir-akhir ini jadi rasanya kok saya tukang mengeluh tentang orangtua murid kami. Kayaknya jadi musuhan banget. Well, ini (walaupun sekedar pembelaan ini), tapi ini memang mungkin akibat dari saya yang udah bukan walikelas lagi hingga kurang banyak bergaul dengan anak-anak dan permasalahan mereka kecuali yang nampe ke meja saya aja. Dan tentu saja bukan mengeneralisir bahwa para walimurid kami seperti yang saya ceritakan atau apakah kami memang ada masalah dengan forum ortu murid. Ini hanya kasus dan cerita. Tidak mencerminkan sebagian besar. Mudah-mudahan, Anda yang membaca bisa mengerti dan memaklumi.

Keluhannya sebetulnya ringan saja, bahwa sang anak emang rada lebay mempermasalahkan segala hal dan ortunya nampaknya menelan begitu saja semua keluh kesah sang anak.

Saya tahu dari awal masuk dulu permasalahan dengan si ortu adalah masalah tempat duduk. Si anak pengen selalu berada di depan. Pokoknya gak mau di belakang. Masalahya adalah anak ini badannya terbesar diantara teman sekelasnya. Tentu jadi bikin ruwet sang walikelas. Satu-satuny cara agar anak ini tetap di depan adalah dengan dengan meletakkannya duduk di pojok. Tapi ini pun tidak berlangsung mulus karena anak ini tidak mau duduk di pojok. Dia menangis, ngambek, sewot, marah dan segalanya agar tetap berada di depan.

Bayangin aja, ini kan sekelas anak-anak semua. Mengetahui bahwa ada temannya yang selalu dapet di depan dan nyusahin yang lain, anak-anak jadi merasa ingin juga di depan. Pusinglah sang guru saat mendapatkan surat protes dari semua walimurid yang lain mengenai hal itu.

Maklum, masih kelas kecil. Ortu masih semang-semangatnya.

Akhirnya duduk pun diputar, semua dapet di depan sesuai giliran. Si anak kemudian protes keras dang coba dijelaskan sang walikelas. Tapi si anak gak ngerti. Saat si walikelas menceritakan masalah ini ke ortu yyang diharapkan bisa lebih ngerti, sang ortu justru lebih sewot lagi dengan mengatakan bahwa sang guru pilih kasih mentang-mentang anaknya bertubuh besar.

Walah, tambah ruwet pun!

Mengenai insiden minggu kemarin dimulai saat si anak minta pindah mobil jemputan. Dia merasa tidak nyaman karena pada satu mobil jemputannya, tidak ada satupun anak yang sekelas dengannya. Dan memang pengaturan mobil jemputan bukan berdasarkan dari kelas melainkan wilayah rumah. Untuk memudahkan semua orang tentunya.

Si anak pengen ikut jemputan yang B karena teman-teman dekatnya ada di B semua. Nah, tentu sang sopir menolak. Gila aja Bu, itu dari ujung ke ujung. Bisa-bisa saya jemput anak-anak paling pagi jam setengah lima subuh danjadwal kepulangan anak-anak yang gak seragam itu (tergantung tingkat kelas) akan sangat kacau balau. Kasihan nanti kakak-kakaknya bisa-bisa saya kembali ke sekolah untuk menjemput mereka baru jam limaan, Bu. Lah, jam berapa mereka sampai di rumah? Kasian yang rumahnya paling jauh, bisa menjelang isya kali baru nyampe.

Kalau begitu, si anak pengen jemputan C aja. Tapi tentu saja masalahnya sama. Bahkan lebih ruwet lagi karena jemputan yang C akan harus empat kali bolak balik sekolah. Pertama jemput TK, kedua jemput kelas kecil SD, ketiga jemput kelas besar SD, keempat jempuk kakak kelas enam yang jadwal pulangnya paling sore karena musti ada tambahan kelas persiapan UN. Kebayang dunk betapa ruwet Pak Sopir mikirin itu semua. Emangnya dia gak punya keluarga apa?

Maka sang walikelas coba menjelaskan itu ke anak. Kesalahan sang wali adalah, dia tidak menjelaskan langsung ke walimurid, tapi hanya ke anak. Dan saat si anak mengangguk mengerti, sudah aja itu tidak dilanjutkan lagi.

Besok harinya Sang Ayah datang ke sekolah mencari bapak sopir B dan C. Ketemulah dengan Bapak supir B yang langsung ditonjoknya di depan gerbang di hadapan semua orang termasuk guru dan anak-anak serta orangtua murid lainnya yang seakan-akan bapak supir telah melakukan hal yang buruk sekali kepada anaknya.

Saya kira ini pesan yang selalu diulang bahwa bicarakan dulu apapun kepada pihak sekolah. Dan cobalah untuk mengerti bahwa kita bukan tidak memikirkan putera Anda, tapi kita kan juga harus memikirkan kepentingan semua siswa lainnya juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s