Guru dalam Buku dan Film: Jane Obinchu dan Kimani N’gan’gan Maruge (The First Grader)

Sekarang kelas, silahkan duduk. Saya datang untuk mengucapkan perpisahan. Saya mengatakan kepada kalian, seekor kambing tidak dapat membaca. Seekor kambing tidak dapat menuliskan namanya. Kamu harus belajar sungguh-sungguh, atau kamu akan seperti aku. Seorangtua..yang tak lebih baik dari kambing.
Kimani N’gan’gan Maruge

Apakah ada sebuah rumusan yang bisa berlaku di setiap tempat di atas bumi ini untuk menyelesaikan permasalah pendidikan? Ouw, tentu saja. Kalo memang ada suatu rumusan yang tepat berguna untuk setiap kondisi dan situasi dalam setiap masalah secara umum, apalah serunya hidup ini pula, ya?

Sebelumnya dalam Waiting for Superman dikisahkan bahwa, uang ternyata bukan selalu jawaban. Uang memang bisa lebih memudahkan dalam beberapa hal, tapi jangan sangka bahwa itu bisa memecahkan setiap persoalan.

Saya terbayang Norwegia, yang konon merupakan negara terbaik dalam penyelenggaraan pendidikannya. Mungkin bagi saya yang seorang guru, Norwegia bisa dibilang surga kali, ya? Tapi, apakah benar begitu. Sungguh pengen sekali saya melihat atau mengamati bagaimana negara tersebut bisa memecahkan persoalan dalam bidang pendidikan.

Tidak jauh, deh. India yang konon merupakan negara terpesat dalam mendorong kemajuan bidang pendidikan. Katanya di India, sekolah, atau lebih tepatnya sekolah dokter dari yang saya pernah baca suatu ketika, begitu terjangkaunya sampai seorang pegawai rendahan dapat meraihnya. Saya terbayang bahwa kelimat indah ‘pendidikan untuk semua’ telah mampu di wujudkan. Lalu kemudian saya membaca berita tentang protes keras dari kasta-kasta terendah di India yang ternyata masih tidak dapat meraih sekolah sampai SMA. Kemudian bahwa fakta kecil tentang suksesnya seri TV jadul Doogie Howser MD-lah yang sebetulnya membuat pendidikan kedokteran di India melejit sukses. Semua orang jatuh cinta sama si Dogie Howser. Semua orang pengen punya anak seperti Doogie Howser.

Jadi pendapat saya untuk saat ini adalah motivasi seseorang untuk tetap bertahan, atau mempertahankan anaknya di sekolah.

Biopic (biografi picture) The First Grader mengisahkan tentang Kimani N’gan’gan Maruge, seorang laki-laki berusia 84 tahun dari Kenya, yang pada tahun 2003 yang lalu dinyatakan sebagai siswa SD kelas satu tertua di dunia. Dan kisahnya untuk bertahan di kelas bukan tidak mudah.

Pada tahun 2003, pemerintah Kenya mengumumkan reformasi pendidikan. Langkah pertama yang diambil adalah dengan membuka sekolah dan menggratiskannya untuk semua kalangan. Tidak ada suku atau golongan tertentu yang akan ditolak. Memang sungguh indah terasa bagi kita yang mendengar dari jauh, atau para petinggi di atas sana. Namun bagi pelaksana kebijakan di bawah sana, terkadang seperti himpitan yang besar.

Di satu sisi, ada kelegaan hati atas membuka pintu hatinya pemerintah. Di sisi yang lain, kita semua tahu bahwa itu artinya kerja lebih keras. Tapi bukan kerja lebih keras itu yang merupakan himpitan. Kita semua tahu kadang memang bukan para petinggi di atas sana si pembuat kebijakan yang bikin dada kita terasa sesak, namun justru para kroco-kroco yang paling dekat ke bawahlah yang paling hobi menyusah-nyusahkan apa yang seharusnya dipermudah.

Film mengambil gambar di salah satu sekolah dasar di sebuah desa di kenya, beberapa puluh kilometer dari ibukota negara. Sekolah sedang bersiap-siap. Tiga guru dan dua ruang kelas mereka dibanjiri oleh puluhan anak yang mendaftar masuk sebagai siswa kelas satu SD. Pada saat rusuh besar itu, berdirilah seorang kakek pincang terpaku di pagar kawat sekolah. Tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri dan menunggu, sampai Mrs. Obinchu sng kepala sekolah keluar menghampiri. Kakek ini ingin mendaftarkan dirinya sebagai siswa kelas satu SD.

Dia ditolak. Dengan alasan bahwa hanya anak-anak yang boleh sekolah.

Sang kakek, masih dalam diam dan muka yang menerbitkan rasa kasihan mengancungkan sebuah koran dengan headline yang bertuliskan ‘Pendidikan untuk Semua’. Kemudian dia pergi.

Pada hari pertama sekolah, kakek itu muncul lagi di pagar. ‘Saya ingin sekolah. Saya ingin belajar membaca,’ katanya. Sang kepsek saat itu hanya bisa tersenyum sedih dan menyatakan bahwa kelasnya sudah terlampau penuh. Satu bangku saat ini musti diduduki oleh lima orang siswa. Itu pun belum dihitung belasan lainnya yang terpaksa duduk di lantai.

Si kakek menunduk sedih. ‘Saya ingin sekolah,’ katanya.

Salah satu guru berkata bahwa siswa harus bawa buku, pinsil, dan memakai seragam.

Si Kakek kembali pergi dalam diam dengan tertatih-tatih. Besoknya dia datang dengan membawa sebuah buku tulis lusuh, pinsil tumpul, dan memakai seragam sekolah yang sangat kumal. Sebelumnya dikisahkan bahwa dia membeli baju seragam bekas yang cukup besar untuknya dari tetangganya.

Maka Sang kepsek, melanggar perintah dari atasannya, memutuskan untuk menerima kakek ini sebagai salah satu siswa kelas satunya. Tidak peduli bahwa dia bukan anak-anak, setengah buta, hampir tuli, dan terganggu oleh trauma masa lalunya yang mengerikan.

Si Kakek adalah mantan tahanan di beberapa kamp kosentrasi di Kenya, tempat dia menghabiskan hampir seluruh masa mudanya. Dan seluruh kecacatan fisik serta penderitaan mental yang dideritanya ini adalah akibat dari berbagai penyiksaan yang sempat dia dapatkan. Dia dulu adalah anggota suku Kikuyu yang dengan gerakannya yang terkenal yaitu Mau Mau, mereka melawan mati-matian kolonialisme Inggris di Kenya. Ironisnya, justru saat Kenya memperoleh kemerdekaannya dari Inggris, suku Sang Kakek malah di cap sebagai pemberontak dan menghadapi berbagai diskriminasi serta pelecehan.

Keputusan Sang Kepsek untuk menerima Maruge sebagai siswa kelas satunya tentu bukanlah akhir, namun malah menambah kerumitan para guru yang sudah dipersulit dengan berbagai  tetek bengek birokrasi yang seharusnya bisa lebih berbaik hati pada masa yang krusial tersebut. Tapi tentu bukan beban ketambahan satu orang ini yang dimaksudkan, namun jadi ikut campurnya semua pihak yang saya bahkan gak habis pikir kenapa kok begitu aja bisa bikin masalah yang cukup menyesakkan.

Ini bukan film untuk anak-anak. Atau paling tidak jika Anda ingin menyuguhkan kepada anak-anak, Anda musti menyaksikannya dulu dan memotong-motong beberapa adegan yang berupa flashback Maruge saat berada di kamp kosentrasi dan mengalami penyiksaan. Beneran, deh. Entah apa saya aja yang ketiduran saat menonton ini sementara film terus berjalan yang kemudian mengakibatkan kebawa mimpi, atau kualitas akting yang jempolan, atau memang aja saya berubah jadi cemen, ini adegan penyiksaan bikin mimpi buruk, jek!

Bicara tentang acting emang sungguh meyakinkan. Khususnya actor yang memerankan maruge ini, bisa gitu tanpa dialog (khususnya pada saat tanpa dialog) rasanya meremas-remas hati membangkitkan rasa prihatin yang dalam. Dan  Jane Obinchu yang berusaha sejauh yang dia bisa untuk mempertahankan Maruge saya kira mampu untuk menggugah kita semua.

Catatan: Kimani N’gan’gan Maruge tercatat sebagai siswa SD kelas satu tertua di dunia. Beliau telah meninggal dunia pada tahun 2009 lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s