Bagaimana untuk Menangis Saat Berpisah

Salah satu yang saya benci dari diri saya sendiri adalah air mata yang suka keluar pada saat tidak tepat, tapi tidak dapat keluar pada saat yang tepat. Teman-teman saya bilang kalau saya itu orang yang gampang banget tergenang.

Lagi nasihatin anak-anak, berkaca-kaca.

Lagi cerita, berkaca-kaca.

Bahkan cuman lagi ngomong sama ortu murid pun sering banget tiba-tiba aja berkaca-kaca.

Menurut saya itu bukan pada saat yang tepat aja. Karena repot juga kan kalo kita tau-tau merasa kelabakan sendiri pas lagi bicara sama orang mendadak mata ini berlinangan air mata gitu aja.

Lucunya kadang, saat saya sedang berdialog dengan diri saya sendiri pun sering banget tau-tau nangis gak ketulungan. Dan itu menyebalkan. Soalnya nanti orang-orang terdekat saya bakalan bertanya-tanya: Lo kenapa? Ada masalah? Lagi berantem, ya?

Itu tentu saja bikin teman-jalan saya sebel banget. Bayangin lagi seru-seruan tau-tau mata saya berlinangan gitu, sebel gak? Kan jadi diliatin orang.

‘Lo bisa gak sih mengendalikan air mata. Ntar orang nyangka yang enggak-enggak, tau.’

Hihi..

Pernah lagi di angkot saya denger lagu, tau-tau aja air mata meleleh. Diliatin semua orang dengan pandangan prihatin gitu. Padahal itu cuma gara-gara lagu dowang!

TAPI

Pas giliran ada hal-hal yang mustinya saya menangis, saya gak bisa. Sering jatuhnya malah ketawa. Padahal sebetulnya saya merasa sedih sekali.

Misalnya saat salah satu anak didik saya meninggal dunia beberapa saat yang lalu. Beneran, rasanya seperti dihantam apaan gitu dada ini. Tapinyaaa, begitu sampai di rumah duka, sementara beberapa rekan saya sibuk menangis-nangis bombay, saya malahan hampir gak bisa menahan guncangan tawa.

Saya bukannya senang saat itu. Saya sedih sekali. Sama mungkin dengan orang lain rasakan. Tapi saya tidak dapat menangis. Saya malahan sampai berkecamuk diri menahan tawa.

Entah apa yang membuat saya ingin sekali tertawa saat itu.

Yaaa, akhirnya saya menyibukkan diri sajalah di belakang dengan anak-anak saya yang nampaknya sama juga dengan saya. Mereka sedih, tapi toh bagi anak-anak, air mata tidak dapat dipaksakan keluar. Bukan untuk diperlihatkan ke orang lain: HEI GUA IKUT BERBELASUNGKAWA LOH!

Mungkin bagi saya, suatu rasa kehilangan, atau sayang, bentuknya lebih privat. Saya tidak dapat menikmatinya kalau harus bersama orang-orang lain.

Dan hari ini, saya mengucapkan perpisahan (lagi) dengan seorang rekan yang menjadi kawan saya selama tiga tahun ini. Dia tidak akan kembali pada tahun ajaran yang akan datang.

Dia memilih keluarganya dibanding pekerjaannya.

Rasanya sangat sedih karena berisah.

Tapi saya tidak dapat menangis sedih seperti rekan-rekan yang lain.

Saya harap dia tahu betapa saya akan sangat kehilangan dia yang bukan hanya rekan, tapi kawan yang sangat baik.

Akhir tahun ajaran 2011-2012.

One thought on “Bagaimana untuk Menangis Saat Berpisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s