Dikunyah Onta

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang [Al-Hujurat : 12]

Beberapa waktu yang lalu saya menghadapi satu kasus pertikaian kecil dua keluarga yang diawali dari dua anak saling hina di facebook, kemudian saya juga sempat membaca sebuah tulisan di sebuah blog pribadi dari seorang ibu yang mengeluhkan keluhan dari guru anaknya yang sempat dibacanya melalui BBM. Tahun ini, muncul pula kasus serupa di sekitar tempat saya bekerja. Dua kali malahan.

Pertama kali beberapa bulan yang lalu. Ada kasus kehilangan di sekolah. Bukan, bukan sekali, tapi berkali-kali. Dan yang dicuri ini bukanlah barang-barang kecil seperti alat-alat tulis yang bisa saja hanya karena salah meletakkan dan lupa. Barang-barang yang cukup berharga mahal yang awalnya hanya tempat-tempat makan dan minum yang bermerek, yang cukup bikin orang tua mempertanyakannya. Kalau tempat makan atau minum yang biasa-biasa hilang sih orangtua biasanya tidak akan mempermasalahkan. Tapi ini yang aneh, justru tempat-tempat makan dan minum yang biasa tidak pernah hilang walaupun tertinggal berhari-hari di dalam locker. Tapi begitu tempat makan yang cukup mahal itu yang ketinggalan, besoknya pas dicari sudah tidak ada. Padahal tempat makan yang cukup mahal itu kan bentuknya malah biasa-biasa saja. Tidak menarik anak-anak gitu maksudnya. Tidak berbentuk aneh-aneh atau bergambar yang keren-keren. Maka siapapun yang mengambilnya adalah orang yang tahu kalau itu barang yang berharga yang pastinya bukan anak-anak.

Kemudian uang bayaran. Tau sendiri anak-anak dititipin uang bayaran atau kembalian bayaran gak semuanya bisa teliti. Anak-anak saya ini kan bukan anak yang biasa megangin uang, jadi ya begitu, dah. Terakhir yang mulai menghilang adalah ponsel-ponsel dengan merk tertentu.

Hallaaaaah…

Kemudian kami memperketat peraturan. Gak boleh ada yang bawa ponsel lagi (ponsel boleh dibawa kakak-kakak kelas enam saja sebetulnya karena mereka kan pulangnya sampai lewat maghrib karena ada les tambahan belajar) dan tidak boleh membawa uang. Bahkan bayaran pun harus langsung diberikan oleh ortu kepada pihak sekolah.

Kecurigaan kami semua lama-lama jadi terfokus ada satu orang guru, namun ini hanyalah kecurigaan saja yang tanpa bukti dan tanpa saksi. Tapi sempat jadi pembicaraan juga diantara kami. Masalahnya adalah, salah satu diantara kami memposting itu melalui status di facebook.

Bah!

Tapi untung saja langsung ketahuan sama Bu Eni yang segera menghubungi guru yang bersangkutan untuk menghapus status tersebut dan bahkan sampai menghapus acount facebooknya sekalian. Namun yang namanya dunia maya yang penyebaran beritanya terjadi hanya dalam sepersekian detik. Status itu sudah terlanjur dibaca oleh beberapa walimurid yang kemudian menyebabkan gosip yang cukup rame juga akhirnya.

Saya merasa miris saat orang yang bersangkutan dipanggil, Sang Guru dengan polosnya bilang:

‘Tapi Saya kan gak nyebut nama sebenarnya. Saya gak tau kalau orangtua murid yang itu tau siapa yang saya maksud.’

*GONJRENG!

Ya orang lain pasti tau, lah! Mo kita pake nama dari tumbuktu juga orang tauuuu.. Misalnya saja, jika ada ortu murid saya yang baca blog ini, saya yakin mereka pasti tahu siapa saya dan siapa-siapa orang yang saya tuliskan walaupun nama mereka semua saya samarkan. Bahkan jika mereka baca cerita ini, saya yakin mereka tahu siapa si guru yang saya maksudkan ini.

Ada ada aja!

Tapi untungnya kisah ini terjadinya begitu cepat dan cepat juga dihentikan.
Akhir tahun ini, saya dikejutkan dengan kenyataan bahwa ternyata beberapa rekan saya terkena kasus yang mirip-mirip, yang tidak kami ketahui sebelumnya. Baru kami ketahui sudah susah untuk diperbaiki lagi.

Sebelumnya saya pernah menuliskan, jika kita membicarakan A kepada orang lain secara langsung, maka kemungkinan besar orang itu akan menangkap A juga. Tapi jikapun orang lain menangkap B, maka kita bisa segera tahu dan mengoreksinya. Sayang sekali, pada media tulisan tidak seperti itu. Dan belum tentu juga orang yang menjadi komunikan, atau orang yang membaca pesan kita itu memberikan feedback langsung, kan? Terkadang orang lain hanya baca, memutuskan untuk setuju atau tidak setuju, atau bahkan membenci kita, tapi ya sudah. Selesai. Titik.

Sekarang begini, pada saat fieldtrip beberapa saat yang lalu, saya mengatakan kepada anak-anak kelas empat dan lima:

Kalau ada yang membuat onar di kelompok ini, hati-hati aja, ya! Nanti kakinya itu anak ibu masukin ke mulutnya onta. Biar digigit dikunyah-kunyah sama onta.

Menurut anda, bagaimana tanggapan anak-anak?

Anak-anak saya tertawa ngakak. Kenapa? Karena sebelumnya, di dalam bis, kita semua sakit perut gara-gara ada anak kelas empat yang bercerita panjang lebar bagaimana dulu saat dia masih kecil, kakinya gak sengaja masuk ke mulut onta! Sempet dikunyah-kunyah juga! Dia menceritakan pengalaman itu seakan adalah pengalaman paling buruk sedunia. Tentu saja kami tertawa ngakak mendengarnya. Kisahnya dan cara dia mencertakan itu memang patut dapat penghargaan sebagai kisah paling lucu tahun ini! Maka ketika saya mengatakan kalimat diatas itu, anak-anak tau, kalau saya sedang becanda, walaupun saya serius saat mengatakan bahwa mereka gak noleh bikin onar.

Tapi bagaimana jika ada orang lain yang tidak tahu kami, tidak tahu mengenai kisah anak yang kakinya dikunyah onta itu? Mungkin dia akan berpikir: Et, dah, Busyet! Ini guru goalak bener, ya!

Maka kalau ada status FB seperti ini:

Dasar Opaaaaal… Bikin sibuk gua aja Lo hari ini. Besok gua suruh emak Lo bawa pampers dah ke sekolah. Boker dicelana kok sampe berkali-kali!

Okeh, Opal itu bukan nama sebenarnya yang dia tuliskan.

Tapi toh semua orang pastilah nantinya tahu siapa si Opal itu, kan?

Teman-teman sekelasnya pasti tahu siapa anak yang hari ini berak di celana berkali-kali. Orangtuanya pasti langsung ngeh. Dan bagaimana menurut Anda perasaan mereka?

Guru lain mungkin tahu bahwa si guru yang menulis itu tidak ada beenci-bencinya sama si anak. Guru lain lihat bagaimana kesehariannya dengan si anak atau bagaimana dia berusaha menenangkan si anak. Tapi orang lain kan tidak tahu itu. Mungkin bagi orangtua lain guru si Opal menyebalkan sekali. Cuma gitu aja pake mengeluh sana-sini.

Walaupun, orang yang menulis itu beralasan: Lah, tapi kan itu bukan FB gua yang untuk sekolah. Itu FB gua yang pribadi yang buat temen-temen gua doang. Lagian, itu cuma buat lucu-lucuan aja.

MASALAHNYA, emang kita tahu SEMUA orang yang menjadi teman kita?

Berapa banyak kita mendapat permintaan pertemanan yang sebetulnya kita gak tau siapa dia? Namanya gak tahu, fotonya gak jelas. Okeh, kita bikin FB pribadi sendiri, tapi percuma aja dong kalo FB itu tetep memakai nama kita sendiri dan memajang foto kita sendiri. Lalu kita merasa aman di situ tanpa sadar bahwa orang salah satu dari teman atau follower kita adalah orangtua murid kita, murid kita, atau bahkan atasan kita sendiri?

‘Mana saya tahu kalau ada ortu di situ. Dia gak pernah komentar.’

Hyaaa… Saya juga ‘berteman’ dengan walikelas adik bungsu saya tapi gak pernah ikut berkomentar atau apapun. Entahlah. Mungkin saya agak sungkan mengingat dia walikelas adik saya jadi rasanya bingung menyapa jika tidak ada sesuatu yang memang ingin diungkapkan. Tapi saya tetap suka mengamati statusnya sekedar ingin tahu saja kalau-kalau ada kejadian yang perlu saya tahu. Adik saya ini sekolah di sekolah berasrama masalahnya. Dan tahu sendiri anak remaja, laki-laki pula, gak suka cerita-cerita tentang hidupnya.

Okeh, memisahkan FB atau twitter saya kira memang dimaksudkan untuk memberi kita sedikit kebebasan tapi bukan berarti kita bisa sebebas-bebasnya. Secial network bukan tempat untuk gosip!

Dan tidak semua orang itu bisa mengerti atau tidak mau memanfaatkan keadaan. Seorang yang bisa dikatakan teman mungkin akan memperingatkan kita mengenai itu, walaupun dia sendiri tahu kalau ada kemungkinan yang diingatkan bukannya berterima kasih malah sebel sama kita. Tapi mungkin kan ada orang-orang yang malah memanfaatkan situasi atau sekedar gak mau tahu tapi membicarakan di belakang.

Kemudian ada lagi kasus saat dua guru membicarakan, atau lebih tepatnya, menggosipkan kejelekan orang-orang yang punya sekolah dengan bahasa-bahasa yang kasar. Mereka merasa aman karena, sekali lagi, toh orang-orang yang dibicarakan ini bukan teman mereka. Maka apa yang bisa dilakukan kepala sekolah saat yang punya sekolah meletakkan print out dari semua pembicaraan ini yang ternyata sudah diamati selama berhari-hari dan berminggu-minggu. Bagaimana caranya membela guru-guru tersebut?

Akhir tahun ajaran 2011-2012

2 thoughts on “Dikunyah Onta

  1. Lagi kangen nih sama tulisan Bu Al

    Iyah serem banget dah soal status FB
    Banyak kejadian kategori ‘ngeri’ dan ‘mampus deh lo’ juga ‘makanya mikir dulu sebelum nyablak’

    Ah apa saya hapus akun aja yaaaak

  2. Banyak yang beranggapan bahwa social media adalah buku pribadi, sehingga semuanya ditumpahkan disitu.
    Sering gak nyadar bahwa ada ratusan bahkan lebih, orang yang bisa membaca semua tulisan dalam ‘buku pribadi’ tersebut.
    Kalau mau mengeluh mending ditulis di kertas, dibakar, dimasukin ke gelas, tambahin air putih, trus diminum…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s